Minggu, 26 Mei 2013

Mengapa sering terjadi jatuh pada lansia.

Kejadian terjatuh pada orang tua ( usia lanjut ) kerap terjadi, di Indonesia dilaporkan paling sering di kamar mandi dan setelah bangun dari tidur.
Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor yang berperan baik faktor intrinsik seperti gangguan gaya berjalan, kelemahan otot-otot kaki ( ekstremitas bawah ), kekakuan sendi, sinkop ( gelap sesaat ) dan seperti berputar ( dizzines ), serta faktor ekstrinsik seperti lantai licin dan tidak rata, tersandung benda-benda sekitar, penglihatan kurang jelas karena cahaya kurang terang, dan seterusnya.

Pengertian jatuh sebenarnya adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata, yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak terbaring / terduduk di lantai / tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka ( Reuben, 1996 ).

Dari hasil survai di A S didapatkan sekitar 30 % lansia yang berumur lebih dari 65 tahun jatuh setiap tahunnya, separuhnya mengalami jatuh berulang ( Tinetti, 1992 ).

Kematian akibat jatuh sangat sulit diidentifikasi karena sering kali tidak disadari oleh keluarga atau dokter yang memeriksanya, sebaliknya jatuh dapat merupakan akibat penyakit lain.
Misalnya serangan jantung mendadak ( Tinetti, 1992 ).
Biasanya akibat dari jatuh terjadi patah tulang paha dekat persendian atas ( fraktur collum femoris ).
Patah jenis ini di AS diderita oleh 250.000 lebih lansia setiap tahunnya dan sebagian besar penderitanya wanita.
Kejadian lainnya seperti patah tulang iga, patah tulang tangan, lengan, pinggul, perlukaan jaringan lunak yang serius seperti subdural hematom, memar, keseleo dan seterusnya.

Fraktur Collum femoris ini merupakan fraktur yang berhubungan dengan proses menua dan osteoporosis.
Wanita mempunyai risiko lebih tinggi dibanding laki-laki untuk terjadinya fraktur dan perlukaan akibat jatuh.
Lansia yang sehat juga mempunyai risiko lebih tinggi dibanding lansia yang lemah / cacat untuk terjadinya fraktur dan perlukaan akibat jatuh.
Kebanyakan lansia terjatuh akibat dari penurunan respon perlindungan diri dan kekuatan fisik untuk menjaga diri.

Untuk menjaga stabilitas badan supaya terhindar dari peristiwa terjatuh ditentukan oleh beberapa hal :
a. Sistem Sensorik.
Disini yang berperan didalamnya adalah : Visus ( penglihatan ), pendengaran, fungsi vestibuler, dan proprioseptif.
Semua gangguan atau perubahan pada mata akan menimbulkan gangguan penglihatan.
Semua penyakit telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran.
Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lansia yang diduga karena adanya perubahan fungsi vestibuler akibat dari proses menua.
Neuropati perifer dan penyakit degeneratif leher akan mengganggu fungsi proprioseptif ( Tinetti, 1992 ).
Gangguan sensorik tersebut menyebabkan hampir sepertiga penderita lansia mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji klinik.

b. Sistem Saraf Pusat ( SSP ).
SSP akan memberikan respon motorik untuk mengntisipasi input sensorik.
Penyakit SSP seperti Stroke, Parkinson, Hidrosefalus tekanan normal, sering diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik ( Tinetti, 1992 ).

c. Kognitif.
Pada beberapa penelitian, demensia diasosiasikan dengan meningkatnya risiko jatuh.

d.Muskuloskeletal.
Menurut beberapa peneliti merupakan faktor yang paling berperan dan benar-benar murni milik lansia yang menyebabkan terjadinya jatuh.
Gangguan muskuloskeletal menyebabkan gangguan gaya berjalan ( gait ) dan hal ini berhubungan dengan proses menua yang fisiologis.
Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain disebabkan oleh :
- Kekakuan jaringan penghubung.
- Berkurangnya massa otot.
- Perlambatan konduksi saraf.
- Penurunan visus / lapang pandang.
- Kerusakan proprioseptif.

Yang kesemuanya menyebabkan :
- Penurunan Range of Motion ( ROM ) sendi.
- Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah.
- Perpanjangan waktu reaksi.
- Kerusakan persepsi dalam.
- Peningkatan postural sway ( goyangan badan ).

Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal.
Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih cenderung gampang goyah.
Perlambatan reaksi mengakibatkan seorang lansia susah / terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpeleset, tersandung, kejadian tiba-tiba, sehingga memudahkan jatuh.

Adapun faktor risiko jatuh pada lansia dapat dibagi dalam dua golongan besar ( Kane, 1994 ) :
1. Faktor-faktor intrinsik ( faktor dari dalam ).
2. Faktor-faktor ekstrinsik ( faktor dari luar ).

- Faktor intrinsik diantaranya : kondisi fisik dan neuropsikiatrik, penurunan visus dan pendengaran, perubahan neuromuskuler, gaya berjalan, dan reflek postural karena proses menua.

- Faktor ekstrinsik diantaranya : obat-obatan yang diminum, alat-alat bantu berjalan, lingkungan yang tidak mendukung ( berbahaya ).

Mengapa para lansia mudah sekali terjatuh, biasanya merupakan gabungan dari beberapa faktor yang ada seperti :
1. Kecelakaan : merupakan penyebab yang utama ( 30-50 % kasus jatuh lansia ).
- Murni kecelakaan misalnya terpeleset, tersandung.
- Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan-kelainan akibat proses menua misalnya karena mata kurang awas, benda-benda yang ada dirumah tertabrak, lalu jatuh.

2. Nyeri kepala dan atau vertigo.

3. Hipotensi orthostatic :
- Hipovolemia / curah jantung rendah.
- Disfungsi otonom.
- Penurunan kembalinya darah vena ke jantung.
- Terlalu lama berbaring.
- Pengaruh obat-obat hipotensi.
- Hipotensi sesudah makan.

4. Obat-obatan :
- Diuretik / antihipertensi.
- Antidepresan trisiklik
- Sedativa.
- Antipsikotik.
- Obat-obat hipoglikemik.
- Alkohol.

5.Proses Penyakit yang spesifik .
Penyakit-penyakit akut seperti :
- Kardiovaskuler : Aritmia, stenosis aorta dan sinkope sinus carotis.
- Neurologi : TIA, Stroke, serangan kejang, Parkinson, kompresi saraf spinal karena spondilosis, penyakit cerebellum.

6. Idiopatik ( tidak jelas sebabnya ).

7. Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba-tiba.
- Drop attack ( serangan tiba-tiba ).
- Penurunan darah ke otak secara tiba-tiba.
- Terbakar matahari.

Faktor lingkungan yang terkait dengan kecelakaan pada lansia :
1. Alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di bawah.
2. Tempat tidur atau WC yang rendah / jongkok.
3. Tempat berpegangan yang tidak kuat / tidak mudah dipegang.
- Lantai yang tidak datar baik ada trapnya atau menurun.
- Karpet yang tidak di lem dengan baik, keset yang tebal / menekuk pinggirnya ( kesrimped / terbelit ) dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser.
- Lantai yang licin atau basah.
- Penerangan yang tidak baik ( kurang atau menyilaukan ).
- Alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya.

Lansia terjatuh pada umumnya setelah melakukan aktivitas biasa seperti berjalan, naik atau turun tangga, mengganti posisi.
Dan jarang sekali ( 5 % ) terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas berbahaya seperti mendaki gunung atau olahraga berat.
Masalah jatuh ini juga sering terjadi bila lansia banyak melakukan kegiatan dan olahraga, kemungkinan karena kelelahan dan banyak terpapar matahari yang terlalu kuat.

Sekitar 70 % lansia mendapat masalah jatuh terjadi di rumah.
Di Indonesia terutama tersering di kamar mandi  30 %, terjatuh saat bangun tidur 10 %, terjatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik 15 %, lain-lain karena tersandung, kaki terbelit ( kesrimped ), menabrak benda-benda di lantai, lantai licin atau tak rata, penerangan kurang.

Peristiwa jatuh merupakan salah satu Geriatric giant, yang sering terjadi pada usia lanjut, penyebab tersering adalah masalah di dalam dirinya sendiri ( gangguan gait, sensorik, kognitif, sistem saraf pusat ) didukung oleh keadaan lingkungan rumahnya yang berbahaya ( alat rumah tangga yang tua / tidak stabil, lantai yang licin dan tidak rata, dan seterusnya ).

Peristiwa jatuh ini sering mengakibatkan komplikasi dari yang paling ringan berupa memar dan keseleo sampai dengan patah tulang bahkan kematian.
Oleh sebab itu peristiwa ini harus dicegah, supaya tidak terjadi jatuh berulang.
Mencegah terjadinya jatuh pada usia lanjut sangat penting dan lebih utama dari pada mengobati akibatnya.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Selasa, 21 Mei 2013

Benarkah manusia tergolong Omnivora ( pemakan segala ) ?

Semua orang menginginkan hidup sehat, tetapi cara untuk melakukan hidup sehat seperti yang sudah biasa dilakukan setiap hari itu apa sudah benar ?
Ada dua hal penting yang harus dilakukan untuk membuang segala permasalahan yang menggerogoti tubuh manusia :
1. Berhenti melakukan penyebab terjadinya masalah.
2. Meningkatkan asupan zat-zat gizi yang dibutuhkan sel-sel tubuh, supaya tubuh dapat menyelesaikan tugas untuk memperbaiki diri.

Untuk melakukan penghentian pengrusakan kesehatan kita harus mengevaluasi gaya hidup, khususnya mengenai kebiasaan makan.
Apa yang biasa kita makan mungkin akan membahayakan tubuh kita.
Kita harus mengenali makanan mana saja yang dianggap baik dan makanan mana saja yang dianggap buruk bagi kesehatan.
Makanan-makanan yang buruk alias makanan pembunuh adalah makanan yang mengakibatkan kerusakan paling parah dan memberikan manfaat paling sedikit bagi tubuh manusia.
Ingatlah selalu, makanan yang baik bagi harimau bukanlah makanan yang baik bagi kuda.

Masih dalam ingatan waktu duduk di sekolah dasar dulu, pernah diajarkan bahwa beberapa hewan, termasuk manusia dikelompokan menurut cara makannya.
- Yang memakan daging dikelompokan kedalam Karnivora.
- Yang memakan tumbuh-tumbuhan atau biji-bijian dikelompokan ke dalam Herbivora.
- Yang memakan semuanya / pemakan segala dikelompokan Omnivora.
Omnivora ini di dalamya termasuk manusia, karena dianggap pemakan segalanya.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah sudah benar manusia termasuk kelompok Omnivora atau manusia termasuk kelompok yang lain ?
Pada tulisan ini penulis akan menjelaskan pada posisi mana manusia itu dikelompokan.
Manusia sudah sekian lama telah menyesuaikan diri untuk mengonsumsi daging hewan dari generasi ke generasi, tetapi apakah itu tepat bagi spesies manusia ?
Mari kita perhatikan beberapa perbandingan fisiologis dan biologis antara Karnivora dan Herbivora.
Kita mulai dengan cakar dan gigi.
Karnivora memiliki cakar dan gigi depan yang tajam untuk menangkap mangsa mereka, tetapi tidak memiliki gigi molar yang datar untuk mengunyah dan menggiling makanan mereka.

Herbivora tidak memiliki cakar maupun gigi depan yang cukup tajam untuk menaklukkan mangsa mereka, tetapi mereka memiliki gigi molar yang datar untuk mengunyah dan menggiling.

Manusia memiliki karakteristik yang sama seperti Herbivora.

Air liur.
Air liur dari karnivora bersifat asam supaya dapat memulai proses cerna dengan segera.
Air liur dari herbivora bersifat basa, yang membantu proses pra-cerna makanan dari tumbuh-tumbuhan.

Air liur manusia bersifat basa.

Asam lambung.
Lambung karnivora mensekresikan cairan cerna yang bersifat asam 20 kali lebih kuat dibandingkan asam lambung herbivora.
Kekuatan asam klorida ( HCL ) dibutuhkan untuk menghancurkan makanan berdaging secepat mungkin dalam perjalanan singkat mereka melewati usus.

Keasaman lambung manusia cocok dengan herbivora dan akan mengalami penyusutan ( pengurangan ) ketika asam lambung diproduksi secara berlebihan.

Panjang saluran pencernaan.
Hewan dari kelompok karnivora memiliki saluran usus yang tiga hingga enem kali panjang tubuhnya, relatif pendek, sehingga makanan tidak punya cukup waktu untuk membusuk.
Sebaliknya, herbivora memiliki saluran usus yang 10 sampai 12 kali panjang tubuhnya sehingga tumbuh-tumbuhan yang mereka makan dapat dihancurkan dalam cairan cerna yang lebih lembut secara lambat.

Manusia mempunyai perbandingan saluran cerna yang sama dengan herbivora.

Bentuk usus.
Perut karnivora seperti pipa berdinding halus tanpa benjolan ( tonjolan-tonjolan / jonjot-jonjot ) maupun kantong-kantong, sehingga makanan berdaging dengan cepat dapat dieliminasi.

Usus herbivora penuh dengan benjolan ( tonjolan-tonjolan / jonjot-jonjot ), kantong, saku, gulungan, dan lipatan, sehingga makanan tumbuhan dapat melewati saluran pencernaan secara lambat untuk membantu penyerapan zat gizi.

Manusia memiliki karakteristik usus yang sama dengan herbivora.

Serat.
Karnivora tidak membutuhkan serat untuk membantu memindahkan makanan melalui saluran cerna mereka yang pendek dan halus.
Namun, herbivora butuh serat untuk menyapu makanan yang membusuk keluar dari perut mereka yang berbelit.

Manusia memiliki kebutuhan serat makanan yang sama dengan herbivora.

Kolesterol.
Kolesterol hanya ditemukan dalam makanan yang bersumber dari hewan saja, dan ini bukan masalah bagi karnivora yang dapat menangani sejumlah besar kolesterol dalam makanan mereka.
Sedangkan, pola makan herbivora yang berdasarkan pada tumbuh-tumbuhan bersifat bebas kolesterol.

Manusia sama sekali tidak membutuhkan kolesterol dari luar, karena tubuh kita mampu memproduksi yang kita butuhkan ; dan kita memiliki masalah kesehatan yang serius ketika mengonsumsi kolesterol secara berlebihan.

Banyak orang beranggapan bahwa manusia sudah pasti bersifat omnivora, karena manusia pemakan daging hewan juga.
Namun, manusia tidak bersifat lebih dari omnivora dibandingkan hewan karnivora.
Manusia jika dilihat secara detail dari anatomis dan fisiologisnya, mahluk ini lebih memiliki karakteristik mirip golongan herbivora.
Untuk lebih memperjelas mari kita lihat perbandingan yang lebih terinci antara fisiologis dan anatomis dari karnivora, herbivora dan omnivora.

Karnivora mempunyai ciri-ciri :
-Otot-otot wajah : tereduksi untuk memungkinkan mulut menganga lebar.
-Tipe rahang : sudut tidak melebar.
-Lokasi sendi rahang : Pada dasar yang sama dengan gigi geraham.
-Gerakan rahang : memotong ; minimal gerakan dari sisi ke sisi.
-Otot-otot utama rahang : temporalis.
-Bukaan mulut vs ukuran kepala : lebar.
-Gigi seri : pendek dan meruncing.
-Gigi taring : panjang, tajam, dan berlekuk.
-Gigi geraham : tajam, bergigi, dan berbentuk mata pisau.
-Pengunyah : tidak ada, menelan makanan secara utuh.
-Air liur : tidak ada enzim pencernaan.
-Tipe lambung : sederhana.
-Asam lambung : kurang dari atau sama dengan pH 1 dengan makanan dalam lambung.
-Kapasitas lambung : 60 % hingga 70 % dari volume total saluran pencernaan.
-Panjang usus halus : 3 hingga 6 kali panjang tubuh.
-Termostasis : hiperventilasi.
-Usus besar : sederhana, pendek, dan halus ; tidak ada fermentasi.
-Hati : dapat mendetoksifikasi vitamin A.
-Ginjal : air seni secara ekstrem terkonsentrasi.
-Kuku : cakar-cakar tajam.

Herbivora mempunyai ciri-ciri :
-Otot-otot wajah : berkembang dengan baik.
-Tipe rahang : sudut melebar.
-Lokasi sendi rahang : di atas dasar gigi geraham.
-Gerakan rahang : tidak memotong ; gerakan dari sisi ke sisi maupun dari depan ke belakang.
-Otot-otot utama rahang : masseter dan pterygoids.
-Bukaan mulut vs ukuran kepala : kecil.
-Gigi seri : luas, berbentuk seperti sekop dan mendatar.
-Gigi taring : tumpul dan pendek atau panjang ( untuk pertahanan ), atau tidak ada.
-Gigi geraham : mendatar dengan gigi taring vs permukaan kompleks.
-Pengunyah : dibutuhkan proses pengunyahan lama.
-Air liur : enzim pencerna karbohidrat.
-Tipa lambung : ruang sederhana atau banyak.
-Asam lambung : pH 4 hingga 5 dengan makanan dalam lambung.
-Kapasitas lambung : kurang dari 30 % volume total saluran pencernaan.
-Panjang usus halus : 10 hingga lebih dari 12 kali panjang tubuh.
-Termostasis : berkeringat.
-Usus besar : panjang, kompleks, mungkin berkantong-kantong ; fermentasi mungkin terjadi.
-Hati : tidak dapat mendetoksifikasi vitamin A
-Ginjal : air seni terkonsentrasi secara moderat.
-Kuku : kuku-kuku mendatar atau ujung yang tumpul.

Omnivora mempunyai ciri-ciri :
-Otot-otot wajah : tereduksi.
-Tipa rahang : sudut tidak melebar.
-Lokasi sendi rahang : pada dasar yang sama dengan gigi geraham.
-Gerakan rahang : memotong ; minimal gerakan sisi ke sisi.
-Otot-otot utama rahang : temporalis.
-Bukaan mulut vs ukuran kepala : lebar.
-Gigi seri : pendek dan meruncing.
-Gigi taring : panjang tajam, dan melengkung.
-Gigi geraham :seperti mata pisau dan atau mendatar.
-Pengunyah : menelan makanan utuh dan menggiling secara sederhana.
-Air liur : tidak ada enzim pencernaan.
-Tipe lambung : sederhana.
-Asam lambung : kurang dari atau sama dengan pH 1 dengan makanan dalam lambung.
-Kapasitas lambung : 60 % hingga 70 % dari volume total saluran pencernaan.
-Panjang usus halus : 4 hingga 6 kali panjang tubuh.
-Termostasis : hiperventilasi.
-Usus besar : sederhana, pendek, dan lembut ; tidak terjadi fermentasi.
-Hati : dapat mendetoksifikasi vitamin A.
-Ginjal : air seni secara ekstrem terkonsentrasi.
-Kuku : cakar-cakar yang tajam.

Manusia mempunyai ciri-ciri :
-Otot-otot wajah : berkembang dengan baik.
-Tipe rahang : sudut melebar.
-Lokasi sendi rahang : di atas dasar gigi geraham.
-Gerakan rahang : tidak memotong ; gerakan sisi ke sisi yang baik, depan ke belakang.
-Otot-otot utama rahang :  masseter dan pterygoid.
-Bukaan mulut vs ukuran kepala : kecil.
-Gigi seri : luas, berbentuk seperti sekop dan mendatar.
-Gigi taring : pendek dan tumpul.
-Gigi geraham : mendatar dengan gigi taring menonjol ( nodular cusps ).
-Pengunyah : dibutuhkan proses pengunyahan lama.
-Air liur : enzim pencerna karbohidrat.
-Tipe lambung : ruang sederhana.
-Asam lambung : pH 4 hingga 5 dengan makanan dalam lambung.
-Kapasitas lambung : 21 % hingga 27 % volume total saluran pencernaan.
-Panjang usus halus : 10 hingga 11 kali panjang tubuh.
-Termostasis : berkeringat.
-Usus besar : panjang, kompleks, berkantong-kantong ; fermentasi mungkin terjadi.
-Hati : tidak dapat mendetoksifikasi vitamin A.
-Ginjal : air seni terkonsentrasi secara moderat.
-Kuku : kuku-kuku mendatar.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan, bahwa manusia lebih cocok dimasukan ke dalam kelompok herbivora, bukan omnivora yang selama ini sudah dilegalkan, bahkan dari generasi ke generasi.
Dengan dibuktikannya teori ini, otomatis dapat mengungkap mengapa zaman dahulu harapan hidup manusia lebih lama dibanding zaman peradaban babilon modern atau zaman komputer ini.
Misalnya saja kalau kita cermati : Adam berumur sampai 930 tahun.
Enos 905 tahun, Kenan 910 tahun, Mahalaleel 895 tahun, Yared 962 tahun, Henokh 365 tahun, Matusalah 969 tahun dan Lemekh 777 tahun.
Umur manusia panjang sampai ratusan tahun, makin lama umur manusia makin berkurang.
Berdasarkan definisi WHO, maka usia dibawah 65 tahun tergolong usia pertengahan ( Middle Age ) ; usia diantara 65 tahun sampai 74 tahun tergolong Junior old Age ; usia antara 75 tahun sampai dengan 90 tahun baru tergolong Formal Old Age ; dan antara 90 tahun sampai dengan 120 tahun digolongkan Longevity Old Age ( orang tua berumur panjang ).
Jadi rentang hidup manusia seharusnya, terpendek adalah 100 tahun dan terpanjang 175 tahun.
Usia normal rata-rata manusia seharusnya 120 tahun.
Akan tetapi sampai di zaman modern ini apa yang terjadi, umur semakin pendek dan ditambah dengan gaya hidup yang menyimpang dari apa yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Masa hidup manusia makin lama makin terbatas, hal ini karena manusia sudah lama pula menganut kebiasaan yang salah dan sudah turun temurun.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Minggu, 12 Mei 2013

Memahami Tekanan Darah Rendah ( Hipotensi ).

Orang yang menderita tekanan darah rendah ( hipotensi ) biasanya tidak seheboh kalau menderita tekanan darah tinggi.
Pasalnya penderita hipotensi tidak begitu memikirkan keadaan tubuhnya dan juga tidak memikirkan periksa ini dan periksa itu.
Karena penderita ini tidak menimbulkan gejala.
Kalaupun ada gejalanya seperti lemah, mudah lelah, gampang pingsan dan mudah pusing terutama dari posisi tidur ke posisi berdiri ( hipotensi ortostatik ).

Tekanan darah rendah dapat terjadi pada orang yang kurang makan, berbaring terlalu lama, mengalami gangguan saraf otonom ( seperti pada penderita diabetes melitus ) atau gangguan hormonal.
Pada prinsipnya tekanan darah rendah tidak memerlukan pengobatan, tetapi bila dirasa kurang nyaman kondisi tubuhnya segeralah berbaring.
Berbahagialah bila ada orang yang memiliki tekanan darah rendah, ketimbang memiliki tekanan darah tinggi.
Karena dari suatu hasil penelitian dikatakan bahwa pemilik tekanan darah rendah memiliki harapan hidup lebih tinggi dari pada mereka yang memiliki tekanan darah tinggi.
Walaupun relatif tidak berbahaya penderita tekanan darah rendah tetap diharuskan waspada.
Dengan bertambahnya usia, tekanan darah rendah cenderung menjadi temporer, yang disebut hipotensi ortostatik.
Contohnya ketika turun dari tempat tidur seoleh-olah rasanya mau pingsan, tiba-tiba merasa lemah, ruangan seakan berputar atau pandangan menjadi gelap.
Orang dikatakan menderita hipotensi, bila tekanan darahnya dibawah standar normal ( sistolik kurang dari 120 mmHg dan diastolik kurang dari 80 mmHg ) yang menurut WHO disebut juga sebagai kategori tekanan darah optimal atau penurunan tekanan sistolik dan diastolik sebanyak 20 mmHg atau lebih.
Pada usia lanjut gangguan otonom merupakan keadaan yang paling sering terjadi pada hipotensi.
Gangguan ini cukup berarti sehingga sering mengganggu kualitas hidup penderita lansia ( Brocklehurst and Allen, 1987 ).
Pusat pengendali saraf otonom adalah hipothalamus.
Ada beberapa hal yang dianggap sebagai penyebab seringnya gangguan saraf otonom pada usia lanjut :
- Bila usia semakin bertambah, akan timbul beberapa perubahan pada " neurotransmisi " pada ganglion otonom, yaitu berupa penurunan pembentukan asetil-kolin yang disebabkan terutama oleh penurunan enzim utama, yaitu kolin-asetilase.
Keadaan tersebut diatas cenderung untuk menurunkan fungsi otonom.
Kejadian seperti ini sering tertutupi oleh efek lain, yaitu lebih sensitifnya reseptor kolin di pasca sinaps terhadap asetil-kolin sebagai akibat proses menua.

- Terjadi perubahan morfologis sehingga mengakibatkan pengurangan jumlah reseptor kolin.

Disamping penyebab fisiologik, bisa juga akibat dari perubahan patologik misalnya akibat penyakit pembuluh darah otak, disini seringkali menyebabkan gangguan fungsi otonom.

Mekanisme mempertahankan tekanan darah merupakan suatu refleks, dimana serabut aferen berasal dari baro-reseptor di sinus karotikus.
Serabut ini berjalan menuju ke pusat vasomotor di batang otak melalui saraf glosofaringeus.
Serabut eferen berjalan melalui medulla spinalis dan serabut preganglionik ke rantai simpatis, kemudian melalui serabut post ganglionik ke pembuluh darah ( Brocklehurst and Allen, 1987 ).

Pada kasus hipotensi ortostatik, perubahan dari posisi baring ke posisi tegak terjadi perpindahan hampir 700 cc darah meninggalkan rongga dada menuju ke pool cadangan vena di daerah perut dan kaki.
Tekanan di atrium kanan turun ke / lebih rendah dari tekanan dalam rongga dada, menyebabkan venous return ke jantung kanan menurun.
Isi sekuncup menurun, dengan akibat penurunan tekanan darah ( Van der Cammen, 1991 ).

Hipotensi pada penderita muda, seringkali disertai gejala light-headed ( rasa melayang ) / nggliyeng ) ringan dalam waktu yang tidak terlalu lama, oleh karena mekanisme pengaturan vasomotor dengan segera mengadakan kompensasi.

Pada penderita lansia, mekanisme kompensasi tersebut sering tidak efektif, sehingga tetap terjadi hipotensi dengan segala gejalanya selama beberapa jam.
Bahkan seringkali penderita mengalami penurunan kesadaran, yang baru membaik bila penderita diletakkan pada posisi berbaring lagi.
Hipotensi postural ini juga merupakan salah satu penyebab terjadinya jatuh pada usia lanjut yang seringkali mendadak bangun dari tempat tidur di malam hari karena ingin buang air kecil ke kamar mandi.
Gejala lain dari gangguan otonom yang sering menyertai hipotensi, diantaranya : Keluar keringat dingin, perubahan besar pupil, gangguan gastrointestinal ( pencernaan ), disfungsi kandung kemih dan poliuria nokturnal ( sering kencing waktu malam ) ( Van der Cammen, 1991 ).

Proses terjadinya hipotensi pada setiap orang berbeda -beda, tetapi biasanya mencakup :
-Penurunan fungsi otonom yang berhubungan dengan usia dan mungkin disertai hilangnya elastisitas dinding pembuluh darah.

- Gangguan dari aktivitas baro-refleks akibat tirah baring yang terlalu lama.
Keadaan ini sering terdapat pada penderita lansia yang tekanan darahnya dipertahankan dengan vasokonstriksi yang hampir maksimal ( misalnya setelah terkena infark miokard )
Tak terdapat lagi cadangan otot jantung,sehingga pada saat bangun tidur tekanan darah tidak bisa dipertahankan lagi.

- Hipovolemia dan / atau hiponatremia sebagai akibat berbagai keadaan, antara lain pemberian diuretika.

- Berbagai obat yang bersifat hipotensif, antara lain tiasid dan diuretika lain, fenotiasin, antidepresan trisiklik, butirofenon, levodopa, dan bromokriptin.

- Akibat berbagai penyakit yang mengganggu saraf otonom, seperti Parkinsonisme, sindrom shy-drager, ensefalopati wernicke, lesi hipotalamus, penyakit serebrovaskular, tabes dorsalis, paraplegia, diabetes melitus, keganasan, defisiensi vitamin B kompleks, alkoholisme kronik, sindroma guillain-barre dan amiloidosis.

Penegakan diagnosis biasanya berdasarkan ditemukannya penurunan tekanan darah dan beberapa tes untuk mengetahui fungsi otonom terutama pada penderita lansia.
Sekali lagi pada prinsipnya tekanan darah rendah tidak memerlukan pengobatan.
Bila merasakan ada yang kurang nyaman cukup dengan berbaring.
Sangat berlawanan dengan penderita hipertensi ( tekanan darah tinggi ), penderita tekanan darah rendah justru dianjurkan menambah konsumsi garam dapur, termasuk makanan asin bergaram.
Disarankan total asupan garam sehari diperkirakan setara dengan 10 - 20 gram ( 1 - 2 sendok makan rata ).
Hati-hati pemberian pada orang usia lanjut, dan sebaiknya sebelum pemberian garam di konsultasikan atau diperiksa lebih dulu oleh dokter keluarga anda.
Terima kasih, Tuhan memberkati

Senin, 29 April 2013

Hidup bersama Radiasi.

Dalam kehidupan modern saat ini, suka atau tidak suka sehari-hari kita selalu berhadapan dengan alat-alat elektronik mulai dari komputer, kompor, strika, radio, televisi, hand phone sampai peralatan kesehatan termasuk kecantikan.
Bahkan di perkantoran media pun sama sekali tidak menggunakan kertas, semuanya elektronik.
Jadi secara tidak disadari kehidupan kita sehari-hari sudah " terkepung " oleh radiasi.
Mungkin kita pernah mendengar dari percakapan orang mengenai radiasi.
Misalnya " awas lho alat itu mengandung radiasi ".
Tetapi apakah kita tahu apa itu radiasi dan dampaknya bagi kesehatan.
Sebelum mengetahui lebih jauh tentang radiasi, sebaiknya mengerti dulu definisi dari radiasi itu sendiri.
Radiasi adalah semua jenis energi yang dihantarkan tanpa medium perantara.
Ketika suatu energi dapat sampai ke target tanpa adanya medium perantara, maka energi itu dapat dikatakan sebagai radiasi.
Disini dapat disimpulkan pengertian spektrum radiasi itu sangat luas.
Energi radiasi umumnya berupa gelombang.
Radiasi dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu Radiasi pengion dan Radiasi non pengion.
Umumnya orang menyebut dan mengingat radiasi sebagai radiasi pengion, misalnya radiasi sinar X, atau kecelakaan radiasi yang belum lama ini terjadi di Jepang yaitu kerusakan PLTN Fukushima.
Yang lebih banyak dan lebih akrab dengan kita justru radiasi non pengion dengan tingkat energinya lebih rendah.
Padiasi pengion berarti radiasi yang energinya tinggi sehingga dapat mengionisasi ( memecah ion-ion dalam atom ).
Partikel alfa, beta, sinar gamma, sinar X dan neutron dapat menghasilkan energi yang cukup tinggi untuk mengionisasi atom.
Radiasi dari neutron berenergi tinggi dapat menyebar melalui madia udara, sehingga wilayah yang terkena dampaknya bisa luas sekali.
Hal ini seperti yang terjadi pada rusaknya reaktor nuklir pada PLTN Fukushima, Jepang.

Lain lagi dengan radiasi non pengion, radiasi ini memiliki energi yang hanya bisa mengubah struktur atom, tanpa mengionisasinya.
Yang termasuk radiasi non pengion adalah spektrum ultraviolet ( UV A dan UV B ), visible light, sinar infra merah, microwave ( gelombang mikro ), frekuensi radio dan extremely low frequency.

Efek radiasi terhadap kesehatan bergantung pada jenis radiasinya, apakah jenis radiasi pengion atau non pengion.
Selain jenis radiasi, panjang gelombang energi dan frekuensi juga mempengaruhi tingkat intensitas energinya.
Makin tinggi tingkat intensitas energi, walau termasuk radiasi non pengion, dampaknya terhadap tubuh kita akan semakin buruk.
Untuk mengenal lebih dekat dengan yang namanya radiasi dan seberapa dekatnya dengan manusia, serta bagaimana si radiasi itu mempengaruhi tubuh manusia, inilah penjelasannya.

Pertama akan dibahas jenis radiasi pengion.
Radiasi pengion diantaranya Partikel alfa, partikel beta, sinar gamma dan sinar X.

Partikel alfa.
Partikel alfa sangat berenergi, biasanya terdapat pada elemen yang bersifat sangat radioaktif seperti Uranium, Radium dan Polonium.
Partikel alfa dapat bergerak perlahan di udara.
Efeknya terhadap kesehatan tergantung pada pajanannya, karena dia tidak dapat menembus lapisan kulit yang dalam.
Jika partikel alfa terhirup, termakan atau terserap dalam aliran darah, barulah jaringan tersebut akan terpajan radiasi alfa.

Partikel Beta.
Partikel ini bergerak dengan sangat cepat.
Manusia dapat terpajan partikel beta dari sumber radiasi alami maupun buatan ( man-made ).
Partikel beta ini lebih penetratif tapi kurang berbahaya jika jaraknya jauh, dan dapat dicegah dengan memakai baju yang cukup tebal.
Partikel beta dapat menembus kulit dan menyebabkan luka bakar dan jika tertelan atau terhirup, efeknya akan lebih buruk lagi.

Sinar Gamma.
Sinar ini tidak memiliki muatan atau berat, tetapi sangat penetratif.
Sumber sinar gamma berasal dari alam berupa potassium - 40 dan buatan manusia berupa cobalt - 60 dan cesium - 137.
Sinar gamma sangat berbahaya bagi seluruh tubuh.

Sinar X
Sinar X ini mempunyai energi yang lebih rendah dari pada sinar gamma, karenanya sinar X lebih tidak penetratif.
Sinar X dipakai dalam bidang kesehatan dan industri untuk pemeriksaan, inspeksi dan kendali proses.

Sumber radiasi
Alam.
Radiasi alam berupa sinar matahari ( UVC ), sinar kosmik, dan elemen radioaktif seperti gas radon, uranium, dan potassium yang sudah ada di dalam perut bumi.

Buatan manusia.
Radiasi yang dihasilkan melalui beberapa alat misalnya mesin sinar x atau reaktor nuklir yang digunakan oleh beberapa institusi seperti institusi kesehatan, penelitian dan pendidikan, pembangkit listrik sampai industri pembuatan senjata nuklir.
Bahan radioaktif juga dipakai dalam pembuatan mesin pendeteksi asap rokok dan pintu masuk beberapa gedung.

Efek radiasi
Radiasi begitu menjadi gunjingan dan kekhawatiran banyak orang.
Mengapa sampai begitu ?, apa pengaruhnya terhadap tubuh manusia ?
Radiasi pengion mempengaruhi tubuh manusia dengan cara menyimpan energi dalam jaringan tubuh, sehingga menyebabkan kerusakan bahkan kematian sel.
Dalam beberapa kasus, efeknya mungkin tak terlihat, di kasus yang lain, sel tubuh mungkin bertahan hidup tetapi menjadi tidak normal baik sementara atau selamanya.
Biasanya sel yang abnormal ini bisa menjadi ganas.
Baik dosis rendah atau tinggi, radiasi dapat merusak sel.
Kerusakan sel tergantung pada total energi yang diserap tubuh, periode dan dosisnya serta organ tertentu yang terpajan.

Bagaimana jika terpajan radiasi terlalu lama, atau biasa disebut dengan pajanan kronik ?
Pajanan kronik artinya, terjadi pajanan dalam waktu yang lama dan berkelanjutan terhadap dosis radiasi yang rendah.
Dampak yang akan dituai dapat berupa kanker dan penyakit lain seperti tumor jinak, katarak, atau efek genetik berbahaya lainnya.

Jika pajanan itu sifatnya akut atau pajanan akut berarti pajanan terhadap radiasi tunggal dosis tinggi atau serial dosis sedang dalam waktu singkat.
Dosis akut yang besar bisa di dapatkan dari terapi radiasi pada kanker.
Efek yang dihasilkan dapat berupa efek segera dan efel delay.
Efek delay antara lain katarak, sterilitas, kanker dan kelainan genetik berbahaya.
Sedangkan efek segera berupa kelainan saluran cerna, infeksi bakteri, perdarahan, anemia, kehilangan cairan tubuh dan ketidakseimbangan elektrolit.
Pajanan radiasi akut dengan dosis yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kematian.

Bahasan yang ke dua adalah Radiasi Non Pengion.
Radiasi non pengion diantaranya : Extremely low frequency, frekuensi radio, mikrowave, sinar infra merah, sinar tampak, sinar ultraviolet ( UV ), dan laser.

Extremely low frequency.
Radiasi ini dihasikan oleh kabel listrik, kawat elektrik dan alat-alat elektronik.
Hampir semua peralatan elektronik yang menggunakan listrik memancarkan radiasi jenis ini, misalnya televisi, kipas angin, hair drier, komputer, printer, mesin cuci, setrika dan sebagainya.

Frekuensi radio dan microwave.
Radiasi microwave diserap tubuh jika jaraknya dekat dengan kulit, sementara frekuensi radio diserap oleh seluruh tubuh.
Pada intensitas yang tinggi, keduanya dapat merusak jaringan tubuh melalui panas.
Alat yang memancarkan radiasi ini diantaranya pemancar radio dan telepon seluler.

Sinar infra merah.
Organ kulit dan mata menyerap sinar infra merah sebagai panas.
Biasanya terasa di tubuh sebagai sensasi panas dan nyeri.
Sumber radiasi infra merah meliputi furnaces, lampu penghangat dan laser infra merah.

Sinar tampak.
Radiasi sinar tampak yang berlebihan dapat merusak mata dan mulut.

Sinar Ultraviolet ( UV ).
Sinar UV memiliki kisaran energi foton yang tinggi dan sangat berbahaya karena biasanya tidak ada gejala segera sebagai akibat dari pajanan yang berlebihan.
Sumber radiasi UV antara lain sinar matahari, black lights, percikan api pada proses pengelasan, dan laser UV.

Laser.
Laser biasanya memancarkan radiasi optik dan merupakan bahaya potensial bagi mata dan kulit.
Sumber utama laser antara lain laser infra merah CO2 , helium neon, neodymium, ruby, serta laser  UV nitrogen.

Lalu apa efek radiasi non pengion terhadap kesehatan ?
Salah satu efek yang dihasilkan oleh radiasi non pengion terhadap kesehatan adalah apa yang dikenal sebagai efek termal atau efek panas.
Pernahkah anda jika sedang menelepon terlalu asyik sehingga tak tahu lagi waktu sudah berapa lama, tahu-tahu telinga terasa panas ?
Terasa panas di telinga itulah yang disebut sebagai efek panas akibat radiasi yang dihasilkan oleh radiasi elektromagnetik.
Sebaiknya ketika telinga sudah mulai panas, saatnya untuk menghentikan pembicaraan bukan memindahkannya ke telinga lainnya.
Efek termal itulah yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan.
Sebagai permulaan menyebabkan dehidrasi sel tubuh.
Dehidrasi ini akan menjelaskan, bila telepon terlalu lama kita akan menjadi haus, bibir menjadi kering, bahkan jika kebiasaan telepon lama ini tidak segera dihentikan, maka dalam jangka panjang, dapat memicu terjadinya katarak karena dehidrasi lensa mata.
Dehidrasi bila terjadi pada sel saraf dapat menyebabkan rusaknya sel saraf, akibatnya otak tak lagi bekerja optimal.
Efek radiasi lain terhadap kesehatan adalah gangguan terhadap sintesa protein.
Bila proses pembentukan protein dalam tubuh mengalami gangguan oleh karena adanya radiasi, maka yang terjadi dapat berupa kerusakan sel, atau perubahan sifat sel.
Sel yang lebih rentan terkena biasanya sel darah dan sel reproduksi.
Sehingga banyak yang mengatakan bisa terjadi kanker darah, kemandulan dan keganasan lainnya.
Tetapi sampai tulisan ini diturunkan, masih belum jelas hubungan antara pajanan radiasi non pengion dengan kejadian keganasan atau kemandulan.
Disini masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Radiasi memang ada disekitar kita, tetapi kita harus berusaha bagaimana cara menghadapi radiasi itu.
Radiasi pengion biasanya jauh dari kehidupan kita, kecuali mereka yang bekerja dilingkungan tersebut, misalnya pekerja PLTN atau yang berhubungan dengan radiologi dan radioterapi.
Disini disediakan dan diwajibkan memakai alat pelindung diri serta diperiksa kadar radiasi yang mengenai tubuh dalam periode tertentu.
Justru radiasi non pengion yang banyak terdapat disekitar kita dan bahkan sudah akrab dengan kita.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi besarnya radiasi yang membahayakan kita.

Dosis radiasi.
Makin banyak peralatan elektronik yang kita gunakan, sebenarnya dosis radiasi yang mengenai tubuh kita semakin tinggi.

Intensitas.
Intensitas radiasi berarti besarnya energi yang dihasilkan oleh gelombang elektromagnetik tersebut.
Makin tinggi intensitasnya, makin bahaya bagi tubuh kita.
Bila hal seperti ini sudah tidak dapat dihindari lagi, maka pilihlah peralatan elektronik yang kualitasnya baik.
Misalnya, jika memilih ponsel, pilih bila sedang dipakai untuk SMS atau menelepon tidak mengganggu peralatan elektronik yang lain, bila dipakai 2 - 3 menit tidak terasa panas.
Intensitas radiasi dapat diukur dengan menggunakan alat elektromagnetik field meter.
Dengan peralatan ini dapat mengetahui berapa besar intensitas radiasi yang dipancarkan oleh suatu alat.

Frekuensi dan panjang gelombang.
Salah satu faktor penentu radiasi adalah frekuensi dan panjang gelombang.
Makin tinggi frekuensinya dan makin pendek panjang gelombangnya, energi yang dihasilkan semakin tinggi.

Durasi.
Semakin lama kita menggunakan suatu alat elektronik, semakin besar pula energi yang terserap oleh tubuh kita.
Maka, mulai sekarang, jangan terlalu berlama-lama mengobrol dengan teman lewat telepon.

Jarak.
Dulu orang tua kita pernah berpesan kalau menonton televisi jangan dekat-dekat.
Perkataan itu sangatlah relevan dengan konsep radiasi, bahwa dengan menjaga jarak yang aman dapat mengurangi risiko pajanan radiasi.

Dalam penggunaan alat-alat yang menggunakan listrik untuk keperluan sehari-hari sebaiknya diusahakan menggunakan alat-alat listrik yang tidak terlalu banyak menghasilkan intensitas dan dosis radiasi yang tinggi.
Hal ini dapat dinilai dari besarnya daya listrik yang digunakan oleh alat listrik tersebut.
Makin tinggi daya listrik yang diperlukan, kemungkinannya menghasilkan radiasi yang besar juga semakin tinggi.
Begitu juga dengan tegangan listrik yang digunakan, makin tinggi tegangan listrik yang diperlukan, makin tinggi pula medan listrik yang dihasilkan.

Sebenarnya setiap orang berisiko terkena pajanan radiasi terutama oleh radiasi non pengion.
Disini ada dua pendekatan yang masih bisa dilakukan, setidaknya untuk mengurangi radiasi diantaranya :

Pendekatan teknis.
Maksudnya dengan membuat suatu alat elektronik sedemikian rupa sehingga tidak melewati ambang batas yang telah ditetapkan oleh WHO.
Misalnya, mengganti layar komputer atau layar televisi  yang masih cembung dengan yang sudah menggunakan teknologi LCD, ponsel dengan kualitas yang baik, atau alat elektronik yang hemat listrik.

Pendekatan administratif.
Bila dengan pendekatan teknis tidak memungkinkan, maka yang bisa dilakukan adalah pendekatan administratif.
Misalnya jam kerja bagi pegawai yang terpajan radiasi sedikit dikurangi atau diseling dengan pekerjaan lain yang tidak menggunakan alat elektronik.

Yang terpenting harus bisa mengaturnya, sebab tehnologi juga diperlukan untuk menunjang kehidupan kita.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Selasa, 19 Maret 2013

Ketka matahari berubah, manusia pun berubah.

Matahari sebagai energi kehidupan di tatasurya oleh sejumlah ilmuwan di dunia diyakini mempunyai keterkaitan atau ikut berkontribusi dalam mengontrol perilaku manusia.
Telah lama diketahui matahari memiliki siklus aktif 11 tahunan.
Secara periodik, setiap 11 tahun, aktivitas matahari mencapai puncaknya, ditandai dengan kemunculan bintik hitam ( sunspot ) dipermukaan bintang tatasurya itu.
Aktivitas medan magnetik yang kuat di permukaan matahari yang ditandai kehadiran bintik hitam ini menimbulkan flare ( ledakan cahaya ) dan coronal mass injection ( CME ).
Aktivitas yang tinggi dari flare dan CME dapat menimbulkan badai matahari.
Apabila partikel-partikel plasma berupa elektron dan proton yang dihasilkan dari lontaran CME matahari terempas hingga ke bumi, dapat menimbulkan gangguan gelombang elektromagnetik.
Medan magnetik statik bumi yang menjadi perisai, tidak selalu bisa diandalkan, karena terdeteksi celah diperisai alami ini ( menurut NASA, 2003 silam ).
Gangguan gelombang magnetik di bumi yang tercipta dari radiasi matahari ini dapat mempengaruhi gen manusia.
Perubahan reaksi kimia pada otak dan hormon inilah yang kemudian menimbulkan reaksi psikologis.
Laki-laki menjadi lebih agresif, sementara pada wanita, mempengaruhi tingkat kesuburannya.
Seorang peneliti elektro-fisiologi asal Amerika Serikat Robert Becker pada tahun 1963, telah membuktikan dalam risetnya, bahwa peningkatan aktivitas matahari juga dapat memicu meningkatnya kasus gangguan kejiwaan.
Kasus Skizofrenia meningkat dalam sebuah riset di Eropa dan AS, ketika siklus puncak matahari terjadi.
Seperti telah diketahui, setiap sel dalam tubuh manusia mengandung ion-ion positif dan negatif.
Gelombang elektromagnetik yang diterima dari luar tubuh, seperti saat terjadinya radiasi dari badai matahari, menstimulus enzim lalu menaikkan ion positif di sel.
Peningkatan energi ini kemudian diterjemahkan lobus frontal, bagian dari otak besar yang mengontrol perilaku.
Sel, unit terkecil dari tiap makhluk hidup, tidak lain adalah sebuah resonator elektromagnetik itu mampu memancarkan dan menyerap radiasi dengan frekuensi tinggi.
Dengan kata lain, radiasi elektromagnetik itu bisa meningkatkan emosi sekaligus kecerdasan manusia.
Di tahun 2012 yang telah kita lewati itu, aktivitas matahari memasuki fase puncak siklus 11 tahunan.
Para ilmuwan menyebutnya siklus puncak ke-24, sejak tahun 1755.
Aktivitas puncak matahari ini berkorelasi kuat pada terciptanya konflik, kekerasan, dan perang, sepanjang peradaban manusia.
Sejarah telah membuktikan, bangkit jatuhnya peradaban besar, seperti Romawi, juga tidak terlepas dari siklus aktivitas matahari ini.
Kekuatan  matahari sungguh menakjubkan ketika ia berubah, kita, manusiapun ikut berubah.
Walau begitu radiasi kosmik dari matahari, dapat memberi manfaat positif.
Ketka terpapar radiasi ini, manusia pun menjadi lebih vital, subur ( dalam kasus wanita ), agresif, dan imunitasnya tinggi.
Sejarah juga telah membuktikan, ketika matahari memasuki siklus minimum, penyakit pandemik justru mewabah akibat menurunnya imunitas.
Menurut Maurice Cotterell, ahli evolusi dari Amerika Serikat, radiasi kosmik bahkan berperan besar di dalam evolusi mahluk hidup.
Semacam sinar X-ray, dapat mempengaruhi mutasi genetik.
Inilah mengapa kini manusia memiliki beragam warna kulit dan ciri fisik.
Kera pun berevolusi menjadi mahluk yang lebih cerdas, setidaknya mendekati manusia.
Tetapi tidak semua kera bermutasi, karena tidak seluruhnya terpapar radiasi ( kosmik ).
Kekuatan matahari yang pengaruhnya kesegala sendi kehidupan dan segala unsur di tata surya.
Pemaparan sinar matahari terjadi diantara jam 9.00 pagi hingga jam 15.00 ( 3.00 sore ).
Hasil dari pemaparan ini sangat berpengaruh terhadap tubuh manusia.
Pemaparan yang terjadi pada jam-jam itu, sinar ultraviolet yang berperan jenis UV B, sinar ini sangat berbahaya karena dapat memicu timbulnya kanker pada kulit.

Energi yang dilepaskan matahari memang sungguh luar biasa besarnya dan berlimpah, sehingga semua yang terpapar akan mengalami perubahan dan kerusakan.
Tetapi matahari pun dapat dimanfaatkan bagi keperluan hidup makhluk di bumi.
Energi paparan matahari yang menerpa bumi per detik 80 triliun watt, setara jika menyalakan 800 miliar buah lampu berdaya 100 watt. sangat besar sekali.

Pemaparan sinar matahari juga bertanggung jawab untuk pembentukkan vitamin D ( D 3 ) pada manusia.
Sinar yang menembus lapisan kulit atas ( epidermis ), suatu bahan kimia provitamin D, diubah menjadi previtamin D.
Kehangatan kulit akhirnya mengubah previtamin D menjadi vitamin D.
Tetapi jika vitamin D ini berlebih sifatnya akan menjadi toksik ( beracun ).
Di dalam tubuh telah ada mekanisme dimana kelebihan paparan terhadap cahaya matahari menghancurkan kelebihan vitamin D menjadi bahan-bahan yang tidak berbahaya.
Bagi orang yang berkulit putih untuk memperoleh vitamin D dari paparan sinar matahari cukup selama 10 sampai 15 menit saja.
Pada tangan atau wajah sebanyak dua atau tiga kali seminggu pada hari cerah dan bersuhu sedang.
Namun jika paparan terlalu kuat dan lama dapat mengakibatkan kulit terbakar, penuaan kulit, dan kanker kulit.
Sedangkan bagi yang berkulit hitam ( berwarna ) untuk mendapatkan vitamin D yang cukup, membutuhkan enam kali lebih banyak paparan terhadap sinar matahari dibandingkan orang yang berkulit putih.
Bila pada orang yang sudah tua, ketebalan kulitnya makin tipis menyebabkan lebih mudah terbakar oleh sinar matahari, dan jumlah vitamin D yang dihasilkan oleh sinar matahari dalam kulit mereka berkurang setengahnya.
Sinar matahari  memberikan hidup pada tumbuhan dan hewan.
Sinar matahari mencucihamakan ( mensterilkan ) lingkungan dengan membunuh kuman dan virus.
Kebanyakkan bakteri mati oleh sinar matahari dalam dua jam.
Bahkan sinar matahari yang dipantulkan menembus kaca jendela pada musim dingin akan membunuh kuman-kuman yang berada di debu bingkai jendela dan lantai.
Kuman-kuman pada ruangan di dalam rumah yang terlindung dari sinar matahari, di bawah lemari dan tempat tidur, akan hidup berbulan-bulan.
Jendela perlu dibuka sesering mungkin agar sinar matahari masuk ke dalam.

Pengaruh sinar matahari terhadap hormon Melatonin tubuh.
Melatonin adalah suatu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar Pineal kecil di pusat dan belakang otak yang dapat merangsang tidur seseorang.
Namun bila beberapa gelombang cahaya yang tampak menembus mata, hal ini akan menghalangi produksi melatonin.
Pada siang hari kadar hormon ini turun, dan paling rendah pada malam hari.
Bila matahari terbenam dan cahayanya tidak ada lagi, kadar melatonin akan meningkat.
Dengan demikian, itulah dasar fisiologis mengapa manusia cenderung tidur pada malam hari.
Jam tubuh kita yang mengatur " ritme biologis " juga dipengaruhi oleh siklus cahaya siang dan malam.
Jumlah kortison yang beredar di dalam darah paling tinggi waktu pagi hari, berangsur-angsur turun sepanjang hari, dan berada paling rendah pada malam hari.
Hal seperti ini dapat direspon oleh tubuh yang memang mempunyai penyakit asthma bronchiale, asthma langsung kambuh umumnya pada tengah malam, bersamaan dengan kadar kortison yang makin menurun.

Jika seseorang mengalihkan pekerjaannya dari siang ke malam hari atau sebaliknya, maka tubuh akan membutuhkan lima sampai sepuluh hari untuk membalikkan siklus yang sudah menjadi kebiasaan tersebut.
Gelombang-gelombang lain dari cahaya yang tampak mengaktifkan kelenjar epifise, melepaskan hormon-hormon yang mempengaruhi organ kelamin.
Bila anak-anak diekspos terhadap porsi sinar matahari yang normal, maka sinar itu akan merangsang sel-sel pada retina matanya untuk mengirimkan sinyal-sinyal kepada kelenjar epifise yang terletak pada bagian tengah otak.
Kemudian kelenjar epifise tersebut akan mengirimkan suatu bahan kimia atau hormon kepada indung telur atau testis, sehingga sinyal itu mengatur proses pendewasaan sehingga bergerak pada kecepatan yang tepat.
Bila anak-anak kekurangan sinar matahari, sinyal yang tepat tidak diteruskan ke kelenjar epifise, hormon-hormon yang mengatur kedewasaan tidak dihasilkan dan proses pendewasaan menjadi terlalu cepat.
Anak-anak yang lahir buta akan lebih cepat jadi remaja dibanding anak-anak yang dapat melihat.
Hal yang sama juga berlaku bagi anak-anak yang jadi buta menjelang masa remaja.

Sel-sel darah merah hidup kira-kira 120 hari, ketika sel-sel itu jadi usang, hemoglobin yang dikandungnya yang membawa oksigen dan karbon dioksida ke dan dari jaringan akan dilepas.
Hemoglobin ini kini beredar bebas dalam darah, dipecah menjadi bilirubin, suatu bahan yang diproses secara normal di hati pada bayi yang cukup bulan dan orang dewasa.
Namun, hati bayi yang tidak cukup bulan tidak akan sanggup menangani bilirubin, sehingga kadarnya meningkat dan bayi itu menjadi kuning ( ikterus ) pada bayi yang baru lahir.
Jika kadar bilirubin mengkat terlalu tinggi, sel-sel saraf pada bagian-bagian tertentu otak akan rusak permanen dan mengakibatkan keterbelakangan mental.
Namun, sinar matahari atau lampu yang tepat mengubah molekul bilirubin, menghasilkan senyawa-senyawa baru yang larut dalam air dan dengan mudah dikeluarkan oleh ginjal.
Dengan demikian, mengekspos bayi prematur kepada sinar matahari atau lampu ( sunlamp ) akan melindungi mereka dari kerusakkan otak.

Dari hasil riset tentang efek biologis sinar matahari telah menunjukkan bahwa hampir setiap sistem organ tubuh dipengaruhi oleh cahaya matahari.
Sinar matahari memainkan peran dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh dan pikiran, mengatur sel-sel darah dan mengatur pekerjaan ginjal, mempengaruhi banyak kegiatan metabolik dan menjalankan jam tubuh kita.
Dengan semakin banyaknya negara-negara di dunia yang menjadi negara industri, maka debu , asap dan bahan pencemar kimia dilepas ke atmosfer, banyak dari sinar ultraviolet dihalangi dan jumlah cahaya yang terlihat berkurang sebelum mencapai bumi.
Bukan hanya itu asap, debu dan bahan pencemar kimia yang dilepas juga akan bereaksi dengan sinar ultraviolet menjadi zat yang berbahaya.
Semua yang terjadi ini membawa efek buruk terhadap tanaman pangan kita, kesehatan masyarakat pun turut terganggu, contoh soal seperti di Eropa utara dan Russia utara, dimana sinar matahari lemah dan kegiatan di dalam rumah terlalu lama.
Efek buruk ini dapat dikurangi dengan radiasi buatan yaitu dengan lampu khusus.

Cahaya matahari yang berlebihan juga dapat merusak tiga daerah pada mata : kornea ( lapisan cincin bening di depan pupil mata ), lensa dan retina ( yaitu "Lapisan kimia " di kedalaman mata ).
Gelombang ultraviolet yang sama juga menyebabkan kanker kulit serta merusak kornea dan lensa.
Kornea dapat terbakar matahari atau meradang, contohnya buta salju.
Bahaya paparan dapat meningkat dengan berkas sinar yang terpantul dari air dan pasir, terutama pada daerah yang tinggi intensitas sinar mataharinya.
Setelah melewati kornea, sinar ultraviolet merusak lensa, namun kerusakan berjalan lambat sampai bertahun-tahun kemudian.
Hal ini terjadi tanpa keluhan nyeri, sehingga lolos dari perhatian.
Akhirnya lensa berubah warna dan menjadi kuning.
Perubahan warna ini sangat mengganggu kesehatan.
Peristiwa ini sering disebut sebagai katarak. Katarak juga dapat disebabkan oleh penyakit Diabetes melitus ( penyakit gula ).
Setelah melewati kornea dan lensa, sinar yang terlihat itu dapat merusak retina.
Orang yang memandang matahari pada tengah hari atau gerhana matahari tanpa menggunakan kaca mata khusus retinanya akan " terbakar ".
Sebagaimana suncreen melindungi kulit, maka kaca mata riben melindungi mata.
Carilah kacamata yang dapat " menyerap atau menghalangi sinar ultraviolet " yang telah diakui oleh American National Standards Institute ( ANSI )
Asosiasi kacamata matahari Amerika membagi kacamata riben ( sunglasses ) ke dalam tiga kelompok , berdasarkan persentase berkas ultraviolet berbahaya yang dihalanginya :
Kacamata Khusus yang menghalangi 99 persen sinar matahari yang berbahaya.
Kacamata Umum yang menghalangi 95 persen ; dan kacamata Kosmetik yang menghalangi 70 persen.

Bila orang berjemur secara berlebihan ( overexpose ) pada sinar matahari akan mengalami risiko kulit menjadi cepat tua dan berkeriput serta kemungkinan munculnya kanker kulit.

Seperti yang telah dikatakan diatas, terpapar sinar matahari secara berlebihan dapat memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan termasuk dapat menimbulkan penyakit yang namanya melanoma.
Temuan terbaru dari hasil penelitian Mark Iles dari Institut kedokteran molekuler leeds pada hari senin 4 maret 2013, menemukan bahwa gen yang berkaitan dengan kegemukan dapat meningkatkan risiko kematian akibat kanker kulit.
Dari hasil laporan analisis data genetik tumor dari 13.000 penderita malignant melanoma dan 60.000 bukan penderita ditemukan ada hubungan gen kegemukan dengan kanker kulit itu.
Malignant melanoma berada di urutan ke lima di Inggris dengan 12.800 kasus baru dan 2200 kematian setiap tahun.
Tim menemukan, variasi tertentu dari DNA dalam gen yang berkaitan dengan obesitas ( Gen FTO ), yaitu intron 8, dapat menjadi penyebab perkembangan melanoma.
Penelitian sebelumnya menemukan, varian dibagian yang disebut intron 1 berkaitan dengan kegemukan dan kelebihan makan.
Ini pertama kalinya peneliti menemukan hubungan antara gen FTO dan penyakit yang tidak berhubungan dengan kegemukan dan indeks metabolisme tubuh.
Jadi harus hati-hati jika orang itu kebetulan bertubuh tambun atau gemuk sering terpapar sinar matahari, bisa-bisa terjadi kanker kulit atau melanoma malignant.
Jalur yang aman oleskan suncreen dan gunakan kacamata riben yang tepat pada setiap kemungkinan terpapar sinar matahari yang kuat selama lebih dari setengah jam.
Bila lebih sering di dalam rumah, gunakan waktu makan dan rehat untuk berjemur jika cuaca mengizinkan.
Paling tidak paparkan wajah dan tangan pada sinar matahari.
Jika dilaksanakan setidaknya sepuluh sampai lima belas menit setiap hari selama tiga sampai empat kali seminggu, percayalah anda akan mendapatkan tubuh yang bugar, segar dan kesehatan tubuh akan menjadi lebih prima.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Kamis, 07 Februari 2013

Hati-hati dalam menggunakan obat gosok.

Dari hasil temuan di University of lowa hospital and clinics, AS, dipublikasikan seorang bayi perempuan yang berusia dua bulan dengan tanpa diduga mengalami gangguan pada hatinya.
Hal itu terjadi setelah sang ibu mengoleskan dengan cukup banyak obat gosok pada bagian leher dan dada si bayi, tiga kali sehari selama lima hari berturut-turut.
Si bayi masih beruntung, setelah pemberian obat gosok dihentikan, hati si bayi normal kembali.
Kebiasaan masyarakat kita sejak dahulu, mungkin dari warisan nenek moyang, si bayi kalau sehabis dimandikan atau sedang rewel-rewel selalu diberinya minyak gosok diperut dan didadanya.
Tindakan seperti ini sudah menjadi kebiasaan dan tidak pernah terpikirkan bahaya apa yang bakal terjadi dikemudian hari.
Menurut Dr. Warren Bishop dari Gastroenterologi anak universitas lowa AS, mengatakan :Obat gosok memang baunya enak dan membuat kulit terasa hangat.
Namun, jika obat itu mengandung kandungan kamfer, dapat membuat sel-sel pada hati mengalami kematian,bahkan dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian kalau sampai termakan bayi.
Bayi memang sangat mudah keracunan, karena kulitnya masih tipis dan peka.
Lagi pula luas permukaan yang terkena paparan gosok relatif besar dibandingkan dengan berat total tubuhnya.
Gejala yang muncul jika bayi teracuni obat gosok berkamfer melalui kulitnya, seperti pembengkakkan pada lipatan paha.
Obat gosok yang mengandung bahan kamfer banyak dijual bebas dimasyarakat kita.
Dan yang menggunakannya tidak tanggung-tanggung dari masyarakat golongan terbawah sampai golongan teratas.
Umumnya digunakan untuk mengobati pilek, pusing, pegal linu, sakit perut dan seterusnya.
Kamfer merupakan senyawa organik turunan terpin siklik, berasal dari tanaman cinnamomum camphora ( lauraceae ), banyak terdapat di Cina, Taiwan, dan Jepang.
Bentuknya kristal berwarna putih, berbau khas aromatik, dan dapat menguap.
rasanya pahit, tetapi bisa menyejukkan.

Pada mulanya bahan ini dipakai sebagai aprodisiak ( perangsang napsu seks ), kontrasepsi, aborsi, serta supresor laktasi ( penekan pembentukkan susu )
Belakangan kamfer sudah dibuat secara sintetik dan kebanyakan dimanfaatkan sebagai antiseptik dan rubefasien ( pengiritasi kulit ).
Kamfer pada obat gosok lain dengan kamfer yang biasa digunakan untuk pengharum kamar, mobil, toilet, atau untuk mengusir serangga di lemari kayu yang berisi buku atau pakaian.
Jenis ini disebut kapur barus ( kamfer borneo ) yang diperoleh dari endapan dalam celah-celah dan rongga kayu tanaman Dryobalonops aromatica ( familia Dipterocarpaceae ) asal Kalimantan dan Sumatra.
Kapur barus warnanya putih kekuningan sampai kuning kecoklatan, baunya khas mirip kamfer.
Senyawa aktif dari kapur barus adalah d-Borneol.
Ada juga bahan dari kapur barus yang digunakan untuk keperluan pengharum dan pengusir serangga, seperti kapur tulis jaman dahulu dengan bermacam merek produk, itu mengandung senyawa organik Naftalena yang sangat beracun.
Oleh karena itu bila menggunakan kapur barus cari tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak.
Saat seseorang merasa badannya kurang enak seperti demam ( sumeng-sumeng, bahasa Jawa ), masuk angin ( istilah yang diberikan awam untuk menurunnya daya tahan tubuh ), obat gosok atau minyak gosok adalah solusinya yang paling mudah, karena harganya murah, terjangkau dan belinya pun gampang.
Obat gosok ini mengandung kandungan kamfer, biasanya sering digosokkan pada bagian-bagian tubuh tertentu seperti dada, perut, kening, hidung atau dihirup baunya sebagai inhalasi.
Bahkan didaerah sering menggunakan balsem merek tertentu yang dilarutkan dalam air panas dan uapnya dihirup, hal ini merupakan salah satu cara untuk mengatasi hidung tersumbat ( pilek ) yang membandel, hasilnya cukup menggembirakan.
Pada umumnya sediaan kamfer dalam obat paten tidak melulu hanya mengandung kamfer, tetapi sering ditambah atau dicampur bahan aktif lain seperti menthol, metilsalisilat, egenol, minyak kayu putih dan seterusnya.
Zaman dahulu kamfer pernah digunakan sebagai obat selesma, influenza, analgetik ( penghilang nyeri ), antipiretik ( penurun panas ) dan gangguan tenggorokan.
Pada pemakaian secara oral ( ditelan lewat mulut ), kamfer akan terabsorpsi ( diserap ) dengan baik dan dapat terdeteksi dalam darah 20 menit setelah ditelan.
Setelah diketahui dampak buruk dari penggunaan kamfer baik sebagai obat oral ( obat telan ) atau pun tetes hidung, belakangan sudah harus hati-hati dalam penggunaannya.
Pasalnya, jika dosis yang digunakan melebihi batas yang ditentukan, akan mengakibatkan iritasi lambung,sehingga dapat menyebabkan gejala mual dan muntah.
Bahkan, bisa terjadi keracunan hati dan jika menembus plasenta bisa berakibat kematian janin.
Sebenarnya cerita tentang kamfer ini pernah diangkat dalam sebuah literatur ilmiah pada tahun 1954.
Waktu itu dilaporkan ada seorang anak berusia 19 bulan menelan satu sendok teh ( 5 ml ) kamfer oil ( setara dengan 1 gr kamfer ).
Setelah tiga jam, timbul gejala keracunan berupa muntah hebat, kejang dan koma, sampai akhirnya si anak malang itu meninggal dunia.
Setelah melalui otopsi mayat, dalam tubuhnya ditemukan tekanan intrakranial ( tekanan di dalam otak ) meningkat.
Kasus lain seorang bayi umur 2 bulan menderita gejala keracunan setelah diberi obat batuk yang mengandung kamfer.
Kamfer yang dimaksud disini walaupun berasal dari bahan alami jangan dianggap tidak berbahaya.

Secara umum keracunan kamfer dengan dosis kecil akan menimbulkan gejala seperti rasa terbakar pada mulut dan tenggorokan, tercium bau kamfer pada waktu bernapas, rasa haus, dan muka terasa tebal.
Pada dosis besar, bisa terjadi spasme ( kontraksi ), kejang, muntah, keringat dingin, rasa sakit pada ulu hati ( lambung ), denyut nadi cepat, malas, dan perilaku irasional.
Namun seberapa jauh akibat yang ditimbulkan tergantung dari berbagai faktor, seperti banyaknya dosis yang ditelan, usia korban, berat badan, serta kondisi umum korban.
Karena setiap produk kandungan kamfer didalamnya berbeda-beda, maka kekuatannya pun berbeda.
Dan terakhir yang ikut menentukan kondisi si korban, kapan dan berapa jam sebelumnya menelan bahan berbahaya tersebut.
Bila sampai terjadi keracunan, tentunya korban harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan pertama, seperti pemberian alat bantu pernapasan, pencucian lambung, dan pemberian obat-obatan untuk mengatasinya.
Tetapi masyarakat tak perlu cemas yang berlebihan, karena obat gosok, minyak gosok atau inhaler berkamfer untuk orang dewasa yang banyak dijual dipasaran, pada umumnya aman.
Namun jangan diberikan kepada anak-anak, khususnya dibawah usia dua tahun.
Karena pada produk itu terdapat kandungan kamfer, menthol dan metilsalisilat yang umumnya tinggi, bisa langsung diserap ke pernapasan.
Harus ekstra hati-hati bila mengolesi balsem pada anak-anak, jangan sampai tertelan atau dimasukkan ke dalam lubang hidung, karena rasanya akan panas.
Kalau harus pakai balsem, pilih yang mengandung bahan aktif rendah, sehingga tidak terlalu mengiritasi kulit atau menimbulkan rasa panas.
Cara mengoleskan cukup didaerah leher atau dada, sehingga uapnya sedikit mengalir dan terhirup.
Hati-hati jangan sampai mengenai mata.
Badan pengawasan makanan dan obat Amerika Serikat ( FDA ) merekomendasikan produk-produk obat gosok yang mengandung menthol dan minyak kayu putih karena dianggap aman, sejauh tidak digunakan pada bayi.
Pada produk-produk tertentu telah dicantumkan peringatan bahwa obat gosok digunakan hanya untuk meringankan gejala pilek dan batuk karena selesma serta flu,
pada penderita yang berusia dua tahun ke atas.

Kiranya suatu tindakan yang bijak, bila sebelum menggunakan obat gosok pada bayi, para orang tua membaca terlebih dahulu informasi yang tercantum dalam kemasan obat tersebut.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Sabtu, 02 Februari 2013

Romansa kimia dan Ramuan Cinta.

Bila pasangan sudah dianggap cocok, bisa dibilang sudah jodoh, orang menyebut ada " Chemistry " nya.
Apakah benar ada senyawa kimia yang dapat menggugah dan menjaga cinta ?
Benarkah baik pada hewan maupun manusia menggunakan bahan-bahan kimia untuk menarik pasangannya ?
Pada mulanya peneliti mempertanyakan, bagaimana kecoak yang saban hari diruang gelap dapat menemukan jodohnya ? sepertinya pertanyaan ini mengada-ada dan dianggap iseng saja.
Tetapi, berangkat dari pertanyaan yang seolah dianggap iseng itu, ternyata rahasia perjodohan dapat diungkap dari senyawa kimia.
Mereka menemukan jodohnya bukan hasil dari berkirim SMS atau e-mail atau melalui biro jodoh disurat kabar, tetapi berkirim pesan lewat senyawa kimia.
Senyawa kimia pengirim pesan cinta ini disebut feromon seks, karena isi pesannya khusus mengajak kencan lawan jenisnya.
Sebenarnya hewan juga menggunakan feromon untuk tujuan lain, misalnya mengajak kumpul ngerumpi mungkin juga ngegosip atau lari dari kejaran pemangsa.
Kecoak betina menarik lawan jenisnya dengan cara mengeluarkan periplanon-B.
Konon senyawa ini dimanfaatkan CIA untuk menangkap seorang mata-mata.
Caranya orang yang dicurigai dikenai periplanon- B dan ditangkap kalau bereaksi dengan detektor kecoak jantan.
Kecoak jantan dengan sangat tepat menemukan orang yang di bajunya dikenai periplanon-B,
walau si mata-mata mungkin tidak membaui senyawa ini.
Pada penelitian hewan lainnya seperti hamster betina cara kerjanya sama, misalnya hewan ini menggunakan dimetil disulfida untuk menarik hamster jantan mendekat.
Tetapi ada yang membikin heboh dan mengejutkan adalah gajah dan ngengat mempunyai feromon seks yang sama, yaitu Z-7-dodesen-1-il-asetat.
Bagaimana jika seandainya ketukar pasangannya? tentunya bisa bikin berabe.
Untungnya hal seperti itu tidak akan mungkin terjadi.
Karena ternyata feromon ngengat tidak hanya senyawa itu, masih ada campuran lainnya.
Jadi kalau ngengat jantan mencium bau Z-7-dodesen-1-il-asetat, ia tahu bukan ngengat betina yang memanggil.
Sebaliknya gajah jantan tidak akan mencium Z-7-dodesen-1-il-asetat yang dikeluarkan ngengat, soalnya indra penciuman gajah tidak cukup sensitif dengan sedikit Z-7-dodesen-1-il-asetat yang dikeluarkan ngengat.
Gajah baru akan sadar kalau ada panggilan kekasihnya yang mengeluarkan Z-7-dodesen-1-il-asetat dalam jumlah lebih banyak.
Nah bagaimana jika peristiwa meramu cinta ini terjadi pada manusia ?
Dari hasil penelitian Helen Fisher dan kawan-kawan diawal tahun 2006, ketika seseorang memandang kekasih hatinya, dopamin akan merangsang bagian ventral tegmental dan caudate nucleus di otak menyala.
Dalam ukuran dosis yang tepat, dopamin menciptakan kekuatan, kegembiraan, perhatian yang terpusat, serta dorongan yang kuat untuk memberikan imbalan.
Itulah sebabnya jatuh cinta dapat membuat makan tak enak, tidur tak nyenyak.
Para peneliti lain menunjukkan bahwa gangguan kimiawi tubuh memang terbukti ketika seseorang jatuh cinta.
Misalnya didapatkan bahwa kadar serotonin orang yang terobsesi dan kekasihnya 40 persen lebih rendah dari kadar serotonin orang normal.
Seperti kalau kita lihat iklan ditelevisi ada yang mengatakan " Rukun terus sampai kakek, nenek ".
Memang benar kakek dan nenek selalu rukun dalam menjalani hidup sampai mereka berusia lanjut, hal ini juga karena peran dari senyawa kimia yang bernama oksitosin.
Menurut penelitian, kesetiaan pada pasangan berhubungan dengan kadar oksitosin yang tinggi.
Kadar oksitosin ini dapat ditingkatkan dengan cara masing-masing dari pasangan yang berusaha saling menyayangi, walau terkadang pasangannya menjengkelkan atau menyebalkan.
Konon menurut nasehat orang tua " Cinta tumbuh karena biasa ".
Jadi apakah ada senyawa kimia pada manusia yang berfungsi seperti periplanon-B pada kecoak yang membuat lawan jenisnya mabuk kepayang ?
Ternyata ada.
Untuk manusia adalah aroma musk.
Konon, Napoleon menjelang pulang perang berkirim surat ke Josephine, istrinya, agar jangan mandi.
Belakangan Josephine menemukan parfum beraroma musk yang dapat memberikan pengaruh yang sama dengan keringatnya.
Sejak itu Napoleon membiarkan Josephine mandi menjelang ia pulang perang.
Ada suatu penelitian yang boleh dibilang agak aneh.
Pada penelitian itu dikatakan wanita lebih tertarik pada bau ketiak laki-laki.
Mungkin karena bau yang khas itu, pangeran-pangeran di Inggris akan meletakkan apelnya di ketiak sebelum diberikan kepada kekasihnya.
Pada penelitian juga wanita-wanita di benua Eropa lebih menyukai bau keringat laki-laki yang beraroma asam seperti keju.
Lain lagi dengan wanita di Asia lebih menyukai aroma bawang atau bau yang agak tajam.
Jika kita melihat film-film klasik yang menampilkan gaya dansa, para wanitanya sering berkelit menyelinap di ketiak penari laki-lakinya.
Wanita juga lebih menyukai pria dengan jenis gen yang berbeda dengan gen yang dimilikinya.
Dalam penelitian para wanita disuruh mencium kaos oblong laki-laki yang tidak dikenalnya, lalu mereka diminta menyebutkan mana yang paling disukainya.
Pada tubuh manusia, baik laki-laki maupun wanita mempunyai ciri khas dari gen yang dimilikinya seperti pada bau keringatnya, bau di ketiak, bau dibelakang daun telinga dan bau di samping cuping hidungnya.
Jadi semua bau khas dari senyawa kimia yang ditimbulkan dari tubuh makhluk hidup mempunyai daya tarik untuk lawan jenisnya.
Kemungkinan jodoh seseorang itu ditentukan dari daya tarik bau dari senyawa kimia yang dimiliki lawan jenisnya.
Terima kasih, Tuhan memberkati.