Mimisan digambarkan sebagai mengalirnya darah dari lubang hidung.
Orang Yunani menyebutnya dengan nama epistaxis yang artinya perdarahan hidung.
Dalam bahasa kedokteran juga perdarahan hidung ini dinamakan epistaxis.
Epistaxis ( mimisan ) didefinisikan sebagai peristiwa perdarahan akut dari lubang hidung, rongga hidung, atau nasofaring.
Mimisan diklasifikasikan berdasarkan tempat perdarahan utama, anterior atau posterior.
Epistaxis anterior lebih umum dijumpai.
Epistaxis anterior adalah pecahnya pembuluh darah pada plexus kiesselbach yang terletak dibagian anterior ( depan ) nasal septum ( bagian yang membagi lubang hidung menjadi dua ).
Sedangkan epistaxis posterior ( belakang ) berasal dari cabang-cabang arteri sfenopalatina yang berada dibagian posterior ( belakang ) rongga hidung atau nasofaring.
Perdarahan hidung ( mimisan ) biasanya terjadi sesudah mengalami luka seperti kebiasaan mengorek hidung ( epistaxis digitorum ), trauma pada wajah, meniup lewat hidung, terjepit atau kemasukkan benda-benda asing dalam hidung atau sinus, dan terlalu lama menghirup udara kering.
Mimisan sering terjadi pada keadaan udara kering serta musim dingin.
Keadaan udara kering ini dapat disebabkan oleh ketinggian hingga pendinginan udara ( air-Conditioner ).
Jarang terjadi sebagai komplikasi polip nasal atau infeksi kronis, seperti sinusitis ayau rhinitis, yang dapat menyebabkan penyumbatan dan akhirnya pendarahan pembuluh darah kapiler.
Dapat juga merupakan akibat menghirup bahan-bahan kimia yang menyebabkan iritasi pada mukosa nasal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pendarahan hidung termasuk pemakaian obat-obatan pengencer darah ( antikoagulan ), tekanan darah tinggi, penggunaan aspirin yang berlebihan, pada tempat ketinggian dan iklim kemarau, penyakit pada pembuluh sklerotis, penyakit hodgkin, kanker, penyakit kudis, kekurangan vitamin K dan C, panas reumatik, kerusakkan pada darah ( hemofilia, purpura, leukemia, dan anemia ), dan kelainan pada pendarahan yang disebut Hemorrhagic telangiectasia.
Pada anak-anak, mimisan kemungkinan besar bukanlah suatu hal yang serius, berbeda dengan orang lanjut usia, epistaxis tidak dapat dianggap sepele, karena bisa berujung pada komplikasi.
Pada manula ( orang tua ) terjadi pergeseran otot tunika media secara progresif oleh kolagen.
Hilangnya otot ini mengakibatkan kemampuan arteri untuk berkontraksi menurun sehingga perdarahan sulit dihentikan.
Banyak literatur menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara epistaxis dengan hipertensi.
Hipertensi bukan penyebab langsung dari epistaxis, tetapi epistaxis biasanya terjadi pada pasien hipertensi. Ada juga pasien yang sedang mengalami epistaxis cenderung berada dalam keadaan hipertensi.
Pada penderita tekanan darah tinggi, degenerasi pembuluh darah dari arteri yang mengeras, merupakan penyebab utama perdarahan hidung.
Penderita tekanan darah tinggi biasanya mengalami perdarahan hidung yang serius karena kerusakan pada pembuluh darah, hal ini harus mendapat penanganan medis untuk menghentikan perdarahannya.
Epistaxis pada penderita hipertensi lebih parah dan sulit berhenti dibandingkan orang dengan tekanan darah normal.
Epistaxis yang terjadi pada wanita usia reproduktif harus mendapat perhatian, karena menurut penelitian terbaru membuktikan bahwa epistaxis memiliki kaitan dengan endometriosis.
Epistaxis mungkin berpangkal dari peningkatan tekanan vena ( seperti yang terjadi pada kelainan jantung dan paru-paru ) serta kelainan pada darah dan pembuluh darah.
Gejala yang terjadi, jika darah yang keluar dari lubang hidung bagian depan biasanya berwarna merah terang.
Jika darah dari belakang kerongkongan, berasal dari daerah bagian belakang dan dapat berwarna gelap atau merah terang ( dan sering terjadi kekeliruan untuk hemoptisis, batuk berdarah yang merupakan gejala penyakit pernapasan )
Perdarahan hidung umumnya terjadi hanya pada satu lubang hidung, kecuali jika disebabkan oleh penyakit darah atau luka berat.
Pada perdarahan hidung berat, darah merembes melalui sisi dinding pemisah hidung dan masuk ke dalam telinga bagian tengah juga ke sudut mata.
Jika darah banyak yang hilang ( perdarahan terus-menerus ) dapat terjadi sakit kepala ringan, pusing, dan sedikit sukar bernapas.
Perdarahan berat mengakibatkan tekanan darah rendah, denyut jantung cepat, sukar bernapas, dan muka pucat.
Perdarahan disebut berat jika berakhir lebih dari 10 menit sesudah diberi pertolongan dan menyebabkan kehilangan darah 1 liter per jam pada orang dewasa.
Dalam menangani kasus mimisan, yang perlu diperhatikan menenangkan diri sendiri terlebih dahulu, kemudian menjaga kestabilan emosional pasien mimisan.
Duduk agak condong ke depan, supaya darah tidak terhisap masuk ke paru-paru, tekan dan kompres dengan es atau kain basah. Bola kapas yang dipanaskan dengan penambahan epinefrin pada tempat yang mengeluarkan darah dan pemberian tekanan eksternal pada hidung.
Secara turun-temurun ( tradisional ), orang Indonesia spontan akan menggunakan gulungan selembar daun sirih ( piper betle lynn ) dan memasukkan ke lubang hidung anak yang mimisan untuk menyumbat darah yang keluar akibat mimisan, dalam sekejap darah akan berhenti.
Daun sirih disini mengandung unsur epinefrin atau adrenalin.
Bisa juga dilakukan dengan membakar bagian yang berdarah dengan electrocautery atau potongan perak nitrat.
Jika cara ini tidak menolong, maka digunakan petrolatum gauze nasal packing.
Untuk perdarahan posterior, memasukkan pembalut gauze melalui hidung atau pembalut post-nasal melalui mulut, tergantung tempat terjadinya perdarahan ( pembalut gauze umumnya dapat bertahan 24-48 jam ; pembalut post nasal untuk 3-5 hari ).
Metode alterrnatif, yaitu penggunaan balon kateter nasal, yang dapat mengontrol perdarahan secara efektif.
Diberikan antibiotika, jika pembalut sudah melebihi 24 jam.
Diberikan juga vitamin K dan C.
Pada penderita perdarahan berat memerlukan transfusi darah dan pembedahan untuk menutup perdarahan arteri.
Trimakasih, Tuhan memberkati.
Sabtu, 28 Agustus 2010
Kamis, 26 Agustus 2010
Anemia, membuat anak jadi memble.
Anemia yang biasa disebut dikalangan awam dengan nama kurang darah, didefinisikan sebagai penyakit yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin dalam darah.
Umumnya, anemia disebabkan kurangnya zat besi yang masuk dalam darah.
Dengan demikian, hemoglobin yang berfungsi membawa oksigen keseluruh tubuh tidak berjalan dengan baik.
Penyebab anemia yang paling sering dijumpai adalah berkurangnya produksi sel darah merah berupa defisiensi besi, asam folat, vit B 12, kegagalan sumsum tulang ( anemia aplastik ).
Penyebab lain adalah gangguan pematangan sel darah merah, penyakit kronis, dan penghancuran sel darah merah akibat infeksi.
Berdasarkan kriteria badan kesehatan dunia ( WHO ), anemia pada anak usia kurang dari enam tahun ditandai hemoglobin kurang dari 11 gram per dl.
Pada anak usia lebih dari enam tahun ditandai hemoglobin kurang dari 12 gram per dl.
Zat besi berpengaruh terhadap kognisi, aktivitas mental seperti mendapatkan, menyimpan, mengeluarkan, dan memakai informasi dan pengetahuan.
Gejala umum anemia adalah lesu, lemah, cepat letih, pucat lama, pusing, dan mudah mengantuk, kadang disertai kulit kering, kuku kusam, kulit berwarna kuning, terutama pada orang yang sulit makan, sakit lama, perdarahan kronik, infeksi cacing, penyakit keganasan, ibu hamil dan menyusui serta orang lanjut usia.
Kasus terbanyak di Indonesia adalah anemia defisiensi besi, terutama pada anak-anak, yaitu suatu keadaan dimana kadar hemoglobin ( Hb ) dalam darah kurang dari normal karena kurangnya zat besi.
Hal ini antara lain disebabkan diet tidak seimbang, proses penyerapan yang tidak baik, terjadi peningkatan kebutuhan zat besi seperti saat hamil dan menyusui, masa pertumbuhan, atau kehilangan darah.
Penyebab langsung timbulnya anemia zat besi adalah asupan makanan yang tidak cukup secara kwantitas dan kwalitas, serta infeksi penyakit seperti cacingan dan malaria.
Penyebab tidak langsung adalah ketimpangan jender, sehingga ketersediaan dan distribusi pangan keluarga yang bergizi untuk ibu dan anak terabaikan.
Berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga ( SKRT ) tahun 1995, jumlah penduduk Indonesia yang mengalami anemia zat besi mencapai lebih dari seratus juta jiwa.
Berasal dari kelompok umur dibawah lima tahun ( balita ), anak usia sekolah, remaja putri, ibu hamil, wanita usia subur ( WUS ), usia produktif hingga usia lanjut.
Anamia di Indonesia tahun 2000 adalah 8,1 juta anak balita ( 40,5 persen ), 17,5 juta anak usia sekolah ( 47,2 persen ), 6,3 juta remaja putri ( 57,1 persen ), 13 juta wanita usia subur ( 39,5 persen ), 6,3 juta ibu hamil ( 57,1 persen ).
Prevalensi anemia pada anak balita, yaitu 337 per 1000 anak laki-laki dan 492 per 1000 anak perempuan.
Prevalensi usia 5-14 tahun 428 per 1000 anak laki-laki, dan 492 per 1000 anak perempuan.
Penyakit kurang darah sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan otak anak.
Perkembangan kemampuan berpikir ( kognitif ) anak sekolah akan terganggu, badan jadi lesu, lelah, cepat letih.
Hal ini dapat mengakibatkan turunnya prestasi belajar, kemampuan fisik, dan prestasi olah raga.
Penderita anemia juga mudah terserang penyakit dan gangguan pertumbuhan.
Jika mayoritas anak perempuan menderita anemia, dampaknya akan berlanjut.
Mengingat, mereka adalah para calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus.
Jika tidak ditanggulangi, dikhawatirkan akan meningkatkan risiko perdarahan pada saat persalinan yang dapat menimbulkan kematian ibu.
Calon ibu yang menderita anemia bisa melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.
Anemia juga dapat membuat transfer oksigen yang memperlancar metabolisme sel-sel otak terhambat, metabolisme lemak mielin yang mempercepat hantar impuls saraf, perilaku, serta konsentrasi terganggu.
Jika terkena anemia defisiensi zat besi ketika masih bayi, maka pada usia memasuki prasekolah dan usia sekolah akan terganggu konsentrasi, daya ingat rendah, kapasitas pemecahan masalah rendah, tingkat kecerdasan lebih rendah dan gangguan prilaku.
Komplikasi yang ringan pada anemia, atrofi papil lidah, glositis-stomatitis akan sembuh jika diberi tambahan zat besi.
Jika komplikasinya berat akan mudah infeksi, gangguan prestasi belajar dan gangguan mental.
Penambahan zat besi dapat mengatasi gangguan itu, tetapi dalam jangka waktu lama atau malah kondisi itu sudah bersifat menetap.
Pencegahan :
Untuk mencegah anemia, anak-anak usia kurang dari satu tahun disarankan mengonsumsi makanan pendamping air susu ibu ( MP - ASI ) yang kaya zat besi dan vitamin C.
Untuk anak usia diatas satu tahun dianjurkan minum susu formula.
Hal ini disertai skrining melalui terapi.
Pada penderita anamia tentunya diberikan preparat besi dengan cara oral dan lama pemberian sampai besi serum feritin normal.
Respons pemberian besi dalam 12 jam - 24 jam adalah perbaikan subyektif, penurunan iritabilitas, dan meningkatkan napsu makan.
Dalam empat hingga 30 hari bisa meningkatkan kadar hemoglobin.
Jika ada indikasi Hb kurang dari 6 gram per dl, maka perlu dilakukan transfusi darah.
Trimakasih, Tuhan memberkati.
Umumnya, anemia disebabkan kurangnya zat besi yang masuk dalam darah.
Dengan demikian, hemoglobin yang berfungsi membawa oksigen keseluruh tubuh tidak berjalan dengan baik.
Penyebab anemia yang paling sering dijumpai adalah berkurangnya produksi sel darah merah berupa defisiensi besi, asam folat, vit B 12, kegagalan sumsum tulang ( anemia aplastik ).
Penyebab lain adalah gangguan pematangan sel darah merah, penyakit kronis, dan penghancuran sel darah merah akibat infeksi.
Berdasarkan kriteria badan kesehatan dunia ( WHO ), anemia pada anak usia kurang dari enam tahun ditandai hemoglobin kurang dari 11 gram per dl.
Pada anak usia lebih dari enam tahun ditandai hemoglobin kurang dari 12 gram per dl.
Zat besi berpengaruh terhadap kognisi, aktivitas mental seperti mendapatkan, menyimpan, mengeluarkan, dan memakai informasi dan pengetahuan.
Gejala umum anemia adalah lesu, lemah, cepat letih, pucat lama, pusing, dan mudah mengantuk, kadang disertai kulit kering, kuku kusam, kulit berwarna kuning, terutama pada orang yang sulit makan, sakit lama, perdarahan kronik, infeksi cacing, penyakit keganasan, ibu hamil dan menyusui serta orang lanjut usia.
Kasus terbanyak di Indonesia adalah anemia defisiensi besi, terutama pada anak-anak, yaitu suatu keadaan dimana kadar hemoglobin ( Hb ) dalam darah kurang dari normal karena kurangnya zat besi.
Hal ini antara lain disebabkan diet tidak seimbang, proses penyerapan yang tidak baik, terjadi peningkatan kebutuhan zat besi seperti saat hamil dan menyusui, masa pertumbuhan, atau kehilangan darah.
Penyebab langsung timbulnya anemia zat besi adalah asupan makanan yang tidak cukup secara kwantitas dan kwalitas, serta infeksi penyakit seperti cacingan dan malaria.
Penyebab tidak langsung adalah ketimpangan jender, sehingga ketersediaan dan distribusi pangan keluarga yang bergizi untuk ibu dan anak terabaikan.
Berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga ( SKRT ) tahun 1995, jumlah penduduk Indonesia yang mengalami anemia zat besi mencapai lebih dari seratus juta jiwa.
Berasal dari kelompok umur dibawah lima tahun ( balita ), anak usia sekolah, remaja putri, ibu hamil, wanita usia subur ( WUS ), usia produktif hingga usia lanjut.
Anamia di Indonesia tahun 2000 adalah 8,1 juta anak balita ( 40,5 persen ), 17,5 juta anak usia sekolah ( 47,2 persen ), 6,3 juta remaja putri ( 57,1 persen ), 13 juta wanita usia subur ( 39,5 persen ), 6,3 juta ibu hamil ( 57,1 persen ).
Prevalensi anemia pada anak balita, yaitu 337 per 1000 anak laki-laki dan 492 per 1000 anak perempuan.
Prevalensi usia 5-14 tahun 428 per 1000 anak laki-laki, dan 492 per 1000 anak perempuan.
Penyakit kurang darah sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan otak anak.
Perkembangan kemampuan berpikir ( kognitif ) anak sekolah akan terganggu, badan jadi lesu, lelah, cepat letih.
Hal ini dapat mengakibatkan turunnya prestasi belajar, kemampuan fisik, dan prestasi olah raga.
Penderita anemia juga mudah terserang penyakit dan gangguan pertumbuhan.
Jika mayoritas anak perempuan menderita anemia, dampaknya akan berlanjut.
Mengingat, mereka adalah para calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus.
Jika tidak ditanggulangi, dikhawatirkan akan meningkatkan risiko perdarahan pada saat persalinan yang dapat menimbulkan kematian ibu.
Calon ibu yang menderita anemia bisa melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.
Anemia juga dapat membuat transfer oksigen yang memperlancar metabolisme sel-sel otak terhambat, metabolisme lemak mielin yang mempercepat hantar impuls saraf, perilaku, serta konsentrasi terganggu.
Jika terkena anemia defisiensi zat besi ketika masih bayi, maka pada usia memasuki prasekolah dan usia sekolah akan terganggu konsentrasi, daya ingat rendah, kapasitas pemecahan masalah rendah, tingkat kecerdasan lebih rendah dan gangguan prilaku.
Komplikasi yang ringan pada anemia, atrofi papil lidah, glositis-stomatitis akan sembuh jika diberi tambahan zat besi.
Jika komplikasinya berat akan mudah infeksi, gangguan prestasi belajar dan gangguan mental.
Penambahan zat besi dapat mengatasi gangguan itu, tetapi dalam jangka waktu lama atau malah kondisi itu sudah bersifat menetap.
Pencegahan :
Untuk mencegah anemia, anak-anak usia kurang dari satu tahun disarankan mengonsumsi makanan pendamping air susu ibu ( MP - ASI ) yang kaya zat besi dan vitamin C.
Untuk anak usia diatas satu tahun dianjurkan minum susu formula.
Hal ini disertai skrining melalui terapi.
Pada penderita anamia tentunya diberikan preparat besi dengan cara oral dan lama pemberian sampai besi serum feritin normal.
Respons pemberian besi dalam 12 jam - 24 jam adalah perbaikan subyektif, penurunan iritabilitas, dan meningkatkan napsu makan.
Dalam empat hingga 30 hari bisa meningkatkan kadar hemoglobin.
Jika ada indikasi Hb kurang dari 6 gram per dl, maka perlu dilakukan transfusi darah.
Trimakasih, Tuhan memberkati.
Rabu, 25 Agustus 2010
Cacing yang tak pernah cacingan.
Dalam dunia percacingan berlaku pribahasa mati esa berbilang selaksa.
Komunitas cacing memang gampang beranak-pinak dan penyebarannya cepat meluas.
Penularan biasanya lewat makanan, korban cacingan juga umumnya anak-anak yang suka jajan dipinggir jalan. Mereka juga bisa menelan telur cacing dari sayuran mentah yang dicuci kurang bersih.
Diperkirakan terdapat 1,6 milyar murid sekolah dasar dan 900 juta diantaranya terinfeksi cacing Ascaris, Trichuris, dan cacing tambang.
Infeksi cacing Ascaris dapat mengganggu pertumbuhan anak, cacing Trichuris dapat menyebabkan perdarahan pada usus dan cacing tambang menyebabkan anemia.
Selain gangguan tersebut diatas, Ascaris dan Trichuris juga menurunkan kecerdasan dan kemampuan berpikir ( belajar ).
Karena itu, pemberantasan penyakit cacingan pada generasi penerus bangsa ini mutlak perlu dilakukan.
Berbagai kegiatan terpadu seperti ; penyuluhan kesehatan untuk ibu dan anak, penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi lingkungan dan upaya peningkatan kesehatan lainnya.
Dengan pemberantasan terpadu ini diharapkan cacingan tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Ascaris dan Trichuris merupakan cacing yang paling sering menginfeksi manusia.
Infeksi ke dua cacing ini menyebabkan malnutrisi dan defisiensi besi.
Akibatnya anak menjadi tidak napsu makan, lesu, nyeri perut dan diare.
Menyebabkan pertumbuhan anak terganggu, kebugaran berkurang dan menurunkan konsentrasi belajar serta kecerdasan anak.
Akhir-akhir ini diduga Ascaris dan Trichuris menurunkan kecerdasan anak secara langsung dan bukan akibat malnutrisi.
Penurunan kecerdasan ini adalah akibat dikeluarkannya metabolit cacing dan dilepasnya sitokin dari tempat peradangan pada usus yang secara langsung mempengaruhi fungsi korteks serebri.
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa infeksi cacing memang mempengaruhi fungsi kognitif dan menurunkan kemampuan belajar secara langsung.
Dalam upaya pemberantasan cacing, tujuan pengobatan adalah untuk mengeluarkan cacing dan telur cacing dari tubuh penderita sehingga sumber infeksi berkurang.
Celakanya, telur yang dikeluarkan dari tubuh penderita cacingan masih tetap hidup dan menjadi infektif di tanah sehingga masih dapat menjadi sumber transmisi.
Oleh karena itu diperlukan obat cacing yang dapat mengeluarkan cacing sekaligus membunuh telur ( ovisidal ) sehingga transmisi lebih lanjut dapat dicegah.
Obat cacing derivat Imidazol yang masih menjadi primadona misalnya Mebendazol dikatakan bersifat ovisidal bila kontak langsung dengan telur cacing.
Namun efek ovisidal terhadap telur cacing yang masih berada dalam gonad masih belum diketahui.
Efek ovisidal dari mebendazol dan oksantel pirantel pamoat ( OPP ) dinilai dari hasil biakan telur, diketahui bahwa mebendazol menghambat pertumbuhan telur menjadi larva dan merusak morfologi telur.
Hal ini tampak pada telur yang berasal dari penderita yang mendapat mebendazol tumbuh lebih lambat dan bentuk telur menjadi abnormal.
Hasil penelitian lain membandingkan khasiat mebendazol dan albendazol terhadap Trichuriasis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kesembuhan pada kelompok mebendazol lebih baik dibandingkan dengan albendazol.
Akan tetapi efek ovisidal dari ke dua derivat imidazol ini sama baiknya yaitu menyebabkan ukuran telur menjadi lebih besar atau lebih kecil, bentuk telur menjadi tidak teratur dan dinding telur menjadi tipis.
Jadi infeksi cacing jangan dianggap sepele, ini menyangkut derajat kesehatan generasi penerus bangsa.
Sebaiknya anak-anak dilakukan pemeriksaan dan pengobatan masal setiap tahun.
Untuk efektivitas dari pemberantasan cacing.
Komunitas cacing memang gampang beranak-pinak dan penyebarannya cepat meluas.
Penularan biasanya lewat makanan, korban cacingan juga umumnya anak-anak yang suka jajan dipinggir jalan. Mereka juga bisa menelan telur cacing dari sayuran mentah yang dicuci kurang bersih.
Diperkirakan terdapat 1,6 milyar murid sekolah dasar dan 900 juta diantaranya terinfeksi cacing Ascaris, Trichuris, dan cacing tambang.
Infeksi cacing Ascaris dapat mengganggu pertumbuhan anak, cacing Trichuris dapat menyebabkan perdarahan pada usus dan cacing tambang menyebabkan anemia.
Selain gangguan tersebut diatas, Ascaris dan Trichuris juga menurunkan kecerdasan dan kemampuan berpikir ( belajar ).
Karena itu, pemberantasan penyakit cacingan pada generasi penerus bangsa ini mutlak perlu dilakukan.
Berbagai kegiatan terpadu seperti ; penyuluhan kesehatan untuk ibu dan anak, penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi lingkungan dan upaya peningkatan kesehatan lainnya.
Dengan pemberantasan terpadu ini diharapkan cacingan tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Ascaris dan Trichuris merupakan cacing yang paling sering menginfeksi manusia.
Infeksi ke dua cacing ini menyebabkan malnutrisi dan defisiensi besi.
Akibatnya anak menjadi tidak napsu makan, lesu, nyeri perut dan diare.
Menyebabkan pertumbuhan anak terganggu, kebugaran berkurang dan menurunkan konsentrasi belajar serta kecerdasan anak.
Akhir-akhir ini diduga Ascaris dan Trichuris menurunkan kecerdasan anak secara langsung dan bukan akibat malnutrisi.
Penurunan kecerdasan ini adalah akibat dikeluarkannya metabolit cacing dan dilepasnya sitokin dari tempat peradangan pada usus yang secara langsung mempengaruhi fungsi korteks serebri.
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa infeksi cacing memang mempengaruhi fungsi kognitif dan menurunkan kemampuan belajar secara langsung.
Dalam upaya pemberantasan cacing, tujuan pengobatan adalah untuk mengeluarkan cacing dan telur cacing dari tubuh penderita sehingga sumber infeksi berkurang.
Celakanya, telur yang dikeluarkan dari tubuh penderita cacingan masih tetap hidup dan menjadi infektif di tanah sehingga masih dapat menjadi sumber transmisi.
Oleh karena itu diperlukan obat cacing yang dapat mengeluarkan cacing sekaligus membunuh telur ( ovisidal ) sehingga transmisi lebih lanjut dapat dicegah.
Obat cacing derivat Imidazol yang masih menjadi primadona misalnya Mebendazol dikatakan bersifat ovisidal bila kontak langsung dengan telur cacing.
Namun efek ovisidal terhadap telur cacing yang masih berada dalam gonad masih belum diketahui.
Efek ovisidal dari mebendazol dan oksantel pirantel pamoat ( OPP ) dinilai dari hasil biakan telur, diketahui bahwa mebendazol menghambat pertumbuhan telur menjadi larva dan merusak morfologi telur.
Hal ini tampak pada telur yang berasal dari penderita yang mendapat mebendazol tumbuh lebih lambat dan bentuk telur menjadi abnormal.
Hasil penelitian lain membandingkan khasiat mebendazol dan albendazol terhadap Trichuriasis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kesembuhan pada kelompok mebendazol lebih baik dibandingkan dengan albendazol.
Akan tetapi efek ovisidal dari ke dua derivat imidazol ini sama baiknya yaitu menyebabkan ukuran telur menjadi lebih besar atau lebih kecil, bentuk telur menjadi tidak teratur dan dinding telur menjadi tipis.
Jadi infeksi cacing jangan dianggap sepele, ini menyangkut derajat kesehatan generasi penerus bangsa.
Sebaiknya anak-anak dilakukan pemeriksaan dan pengobatan masal setiap tahun.
Untuk efektivitas dari pemberantasan cacing.
Selasa, 24 Agustus 2010
Mengenal Penyakit Jantung Koroner.
Penyakit Jantung Koroner ( PJK ), merupakan manifestasi utama aterosklerosis dan yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara-negara barat.
Sejak dua dekade terakhir terjadi penurunan morbiditas dan mortalitas PJK di Amerika dan sebagian besar negara Eropa.
Ini berkat keberhasilan upaya pencegahan yang di jalankan berupa pencegahan primer maupun pencegahan sekunder terhadap faktor risiko utama PJK yang sudah dikenal seperti hipertensi, merokok dan dislipidemia, dan juga berkat ditemukannya obat-obat baru serta diterapkannya terapi intervensional ( seperti PTCA, Stenting dan CABG ).
Di negara-negara Asia justru meningkat, padahal populasi Asia merupakan separuh populasi dunia.
Kejadian mendadak serangan jantung koroner tidak berarti proses penyakit itu datang tiba-tiba.
Serangan jantung sebenarnya puncak perjalanan panjang peradangan kronis pembuluh koroner.
Proses itu telah bertahun-tahun lamanya, diawali dengan gangguan fungsi endotel.
Lapisan endotel letaknya sangat strategis sebagai lapisan pembatas antara dinding pembuluh darah dengan sirkulasi darah.
Lapisan endotel merupakan organ autocrine, paracrine dan endocrine, bukan merupakan lapisan yang inert ( tidak ada kerja ), tetapi justru berfungsi sangat penting sebagai mediator ( perantara ) yang memodulasi ( mengatur atau menyesuaikan ) kontraksi dan relaksasi otot polos vaskuler ( vascular tone ), trombogenesis, perombakan zat-zat lemak ( lipids breakdown ), reaksi inflamasi, dan pertumbuhan pembuluh darah ( vessel growth ), adhesi molekuler ( ICAM = Inter- cellular Adhesion Molekules dan VCAM = Vascular Cells Adhesion Molekules ) dan agregasi platelet, dan adhesi leucosit.
Dalam keadaan fisiologi normal, endotel membentuk NO ( nitric- oxide ) dan prostasikline yang bersifat vosodilator.
Sebelumnya dikenal sebagai EDRF ( Endothelial Derived Relaxing Factor ), NO dibentuk dari L- arginine oleh enzim katalitik NO Synthese yang ada dalam sel endotel ( e NOS ).
Zat vasokonstriktor yang dibentuk oleh sel endotel adalah Endotelin-1 ( vasokonstriktor yang paling kuat ), thromboxane A 2 dan prostaglandin H 2.
Endotelin-1 ( ET-1 ) dapat merangsang proliferasi SMC ( Smooth Muscle Cells = sel otot polos ) vaskuler dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi fungsi platelet, sedangkan thromboxan A 2 ( TXA 2 ) dan prostaglandin H 2 ( PGH 2 ) mampu secara langsung mengaktifkan platelet.
Pada keadaan normal ( orang sehat ), endotel berfungsi :
1. Mencegah adhesi sel darah.
2. Menjaga permukaan pembuluh darah tetap non- trombotik.
3. Modulasi pembuluh, tonus pembuluh darah untuk tetap dalam keadaan dilatasi.
4. Menghambat proliferasi SMC ( sel otot polos ).
Endotel yang sehat bagaikan permadani lembut bagi sel-sel darah dan zat nutrisi yang mengalir diatasnya.
Endotel berjejer rapat satu-satu melindungi lapisan di bawahnya sehingga sel-sel darah dan kolesterol low-density lipoprotein ( LDL ) yang jahat tidak dapat menembus pertahanannya.
Endotel mengeluarkan zat-zat yang membuat pembuluh darah dapat menguncup ( menciut ) dan melebar. Sesuai dengan fisiologi tubuh.
Faktor genetik atau faktor-faktor risiko PJK ( seperti hipertensi, diabetes, hiperkolesterol, kebiasaan merokok ), memungkinkan fungsi endotel jadi terganggu.
Disfungsi endotel memudahkan sel-sel monosit, suatu komponen sel darah putih, menyusup ke sela-sela dinding endotel dan kemudian bersarang di jaringan bawahnya untuk melakukan proses destruktif dengan mengajak kolesterol melemahkan fungsi pertahanan endotel lebih jauh.
Proses destruktif ini selanjutnya menimbulkan deposit kolesterol didinding pembuluh darah yang disebut plak aterosklerosis.
Proses ini pada awalnya berjalan diam-diam, tidak menimbulkan gejala klinis, sehingga seseorang tidak merasakan apa yang terjadi didalam dinding pembuluh darah jantungnya.
Bila faktor-faktor risiko PJK tetap tidak dikendalikan, proses aterosklerosis berjalan semakin progresif sehingga berkembang lebih cepat dan mudah matang.
Plak aterosklerosis yang matang gampang rapuh sehingga disebut vulnerable plaque.
Jika plak itu pecah, akan menyemburkan isi dalamnya dan memicu perlengketan keping-keping darah yang sedang mengalir melewatinya.
Perlengketan tersebut semakin stabil dan membentuk gumpalan darah ( thrombus ), sehingga menyempitkan atau bahkan menyumbat liang pembuluh koroner, menyebabkan suplai oksigen bagi jantung pun terganggu.
Penyempitan atau penyumbatan koroner dapat terjadi pada satu pembuluh koroner atau ke tiga pembuluh koroner utama jantung termasuk cabang-cabangnya.
Dari pemahaman terbaru menurut Shattuck lecure, faktor risiko baru untuk terjadinya aterosklerosis adalah :
- Defisiensi estrogen.
- Homosistein.
- Fibrinogen plasma.
- Faktor VII.
- Tissue plasminogen activator.
- Plasminogen activator inhibitor type 1.
- D- Dimer.
- Lipoprotein.
- C- reactive protein.
- Chlamydia pneumonia.
Keluhan pada penderita PJK biasanya bervariasi, umumnya mengeluh angina, yaitu rasa sakit dada seperti tertekan benda berat dan kadang disertai penjalaran di lengan, rahang, punggung.
Ada juga yang mengeluh leher seperti tercekik atau merasa sakit di ulu hati.
Keluhan ini biasanya terjadi pada saat penderita melakukan aktivitas yang membuat jantung berdenyut lebih kencang dan menuntut oksigen yang lebih banyak.
Sebagian penderita bahkan datang dalam keadaan serangan jantung.
Rasa sakit serangan jantung ini lebih hebat dan lebih lama jika dibandingkan dengan keluhan angina, sehingga membuat badan basah kuyup dengan keringat dingin.
Terapi PJK tidak sekedar bertujuan menghilangkan rasa sakit, tetapi lebih dari itu adalah mencegah perburukkan keadaan yang dapat menyebabkan kematian.
Pilihan terapi yang tepat merupakan keputusan yang penting.
Banyak publikasi hasil penelitian pada tahun-tahun terakhir ini yang membuktikan manfaat, obat yang dapat memperbaiki disfungsi endotel, antara lain :
- ACE- inhibitor.
- Beta- blockers ( carvedilol ).
- HMG Co reduktase ( Statins )
- Vitamin E.
- Aspirin.
- Asam folat.
- Antagonist kalsium.
Masing-masing golongan ini mempunyai alur yang berbeda dalam mekanisme memperbaiki disfungsi endotel tersebut.
Umumnya PJK yang berisiko ringan, misalnya, adanya plak dilokasi koroner yang memperdarahi area jantung yang kecil, maka obat-obatan ( penghambat beta, penghambat kanal kalsium, penghambat enzim konversi angiotensin, statin, aspirin, serta nitrat ) telah mencukupi.
Adapun yang berisiko tinggi perlu tindakkan revaskularisasi ( memperdarahi kembali ).
Revaskularisasi dapat ditempuh dengan dua cara :
1. Teknik angioplasti ( percutaneus transluminal coronary angioplasty / PTCA ).
2. Bedah pintas koroner ( bypass ).
Dalam memilih bypass atau angioplasti, tergantung dari lokasi dan karakter penyempitan koroner, jumlah pembuluh yang terlibat, fungsi jantung, adanya penyakit penyerta, usia dan juga biaya.
Trimakasih, Tuhan memberkati.
Sejak dua dekade terakhir terjadi penurunan morbiditas dan mortalitas PJK di Amerika dan sebagian besar negara Eropa.
Ini berkat keberhasilan upaya pencegahan yang di jalankan berupa pencegahan primer maupun pencegahan sekunder terhadap faktor risiko utama PJK yang sudah dikenal seperti hipertensi, merokok dan dislipidemia, dan juga berkat ditemukannya obat-obat baru serta diterapkannya terapi intervensional ( seperti PTCA, Stenting dan CABG ).
Di negara-negara Asia justru meningkat, padahal populasi Asia merupakan separuh populasi dunia.
Kejadian mendadak serangan jantung koroner tidak berarti proses penyakit itu datang tiba-tiba.
Serangan jantung sebenarnya puncak perjalanan panjang peradangan kronis pembuluh koroner.
Proses itu telah bertahun-tahun lamanya, diawali dengan gangguan fungsi endotel.
Lapisan endotel letaknya sangat strategis sebagai lapisan pembatas antara dinding pembuluh darah dengan sirkulasi darah.
Lapisan endotel merupakan organ autocrine, paracrine dan endocrine, bukan merupakan lapisan yang inert ( tidak ada kerja ), tetapi justru berfungsi sangat penting sebagai mediator ( perantara ) yang memodulasi ( mengatur atau menyesuaikan ) kontraksi dan relaksasi otot polos vaskuler ( vascular tone ), trombogenesis, perombakan zat-zat lemak ( lipids breakdown ), reaksi inflamasi, dan pertumbuhan pembuluh darah ( vessel growth ), adhesi molekuler ( ICAM = Inter- cellular Adhesion Molekules dan VCAM = Vascular Cells Adhesion Molekules ) dan agregasi platelet, dan adhesi leucosit.
Dalam keadaan fisiologi normal, endotel membentuk NO ( nitric- oxide ) dan prostasikline yang bersifat vosodilator.
Sebelumnya dikenal sebagai EDRF ( Endothelial Derived Relaxing Factor ), NO dibentuk dari L- arginine oleh enzim katalitik NO Synthese yang ada dalam sel endotel ( e NOS ).
Zat vasokonstriktor yang dibentuk oleh sel endotel adalah Endotelin-1 ( vasokonstriktor yang paling kuat ), thromboxane A 2 dan prostaglandin H 2.
Endotelin-1 ( ET-1 ) dapat merangsang proliferasi SMC ( Smooth Muscle Cells = sel otot polos ) vaskuler dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi fungsi platelet, sedangkan thromboxan A 2 ( TXA 2 ) dan prostaglandin H 2 ( PGH 2 ) mampu secara langsung mengaktifkan platelet.
Pada keadaan normal ( orang sehat ), endotel berfungsi :
1. Mencegah adhesi sel darah.
2. Menjaga permukaan pembuluh darah tetap non- trombotik.
3. Modulasi pembuluh, tonus pembuluh darah untuk tetap dalam keadaan dilatasi.
4. Menghambat proliferasi SMC ( sel otot polos ).
Endotel yang sehat bagaikan permadani lembut bagi sel-sel darah dan zat nutrisi yang mengalir diatasnya.
Endotel berjejer rapat satu-satu melindungi lapisan di bawahnya sehingga sel-sel darah dan kolesterol low-density lipoprotein ( LDL ) yang jahat tidak dapat menembus pertahanannya.
Endotel mengeluarkan zat-zat yang membuat pembuluh darah dapat menguncup ( menciut ) dan melebar. Sesuai dengan fisiologi tubuh.
Faktor genetik atau faktor-faktor risiko PJK ( seperti hipertensi, diabetes, hiperkolesterol, kebiasaan merokok ), memungkinkan fungsi endotel jadi terganggu.
Disfungsi endotel memudahkan sel-sel monosit, suatu komponen sel darah putih, menyusup ke sela-sela dinding endotel dan kemudian bersarang di jaringan bawahnya untuk melakukan proses destruktif dengan mengajak kolesterol melemahkan fungsi pertahanan endotel lebih jauh.
Proses destruktif ini selanjutnya menimbulkan deposit kolesterol didinding pembuluh darah yang disebut plak aterosklerosis.
Proses ini pada awalnya berjalan diam-diam, tidak menimbulkan gejala klinis, sehingga seseorang tidak merasakan apa yang terjadi didalam dinding pembuluh darah jantungnya.
Bila faktor-faktor risiko PJK tetap tidak dikendalikan, proses aterosklerosis berjalan semakin progresif sehingga berkembang lebih cepat dan mudah matang.
Plak aterosklerosis yang matang gampang rapuh sehingga disebut vulnerable plaque.
Jika plak itu pecah, akan menyemburkan isi dalamnya dan memicu perlengketan keping-keping darah yang sedang mengalir melewatinya.
Perlengketan tersebut semakin stabil dan membentuk gumpalan darah ( thrombus ), sehingga menyempitkan atau bahkan menyumbat liang pembuluh koroner, menyebabkan suplai oksigen bagi jantung pun terganggu.
Penyempitan atau penyumbatan koroner dapat terjadi pada satu pembuluh koroner atau ke tiga pembuluh koroner utama jantung termasuk cabang-cabangnya.
Dari pemahaman terbaru menurut Shattuck lecure, faktor risiko baru untuk terjadinya aterosklerosis adalah :
- Defisiensi estrogen.
- Homosistein.
- Fibrinogen plasma.
- Faktor VII.
- Tissue plasminogen activator.
- Plasminogen activator inhibitor type 1.
- D- Dimer.
- Lipoprotein.
- C- reactive protein.
- Chlamydia pneumonia.
Keluhan pada penderita PJK biasanya bervariasi, umumnya mengeluh angina, yaitu rasa sakit dada seperti tertekan benda berat dan kadang disertai penjalaran di lengan, rahang, punggung.
Ada juga yang mengeluh leher seperti tercekik atau merasa sakit di ulu hati.
Keluhan ini biasanya terjadi pada saat penderita melakukan aktivitas yang membuat jantung berdenyut lebih kencang dan menuntut oksigen yang lebih banyak.
Sebagian penderita bahkan datang dalam keadaan serangan jantung.
Rasa sakit serangan jantung ini lebih hebat dan lebih lama jika dibandingkan dengan keluhan angina, sehingga membuat badan basah kuyup dengan keringat dingin.
Terapi PJK tidak sekedar bertujuan menghilangkan rasa sakit, tetapi lebih dari itu adalah mencegah perburukkan keadaan yang dapat menyebabkan kematian.
Pilihan terapi yang tepat merupakan keputusan yang penting.
Banyak publikasi hasil penelitian pada tahun-tahun terakhir ini yang membuktikan manfaat, obat yang dapat memperbaiki disfungsi endotel, antara lain :
- ACE- inhibitor.
- Beta- blockers ( carvedilol ).
- HMG Co reduktase ( Statins )
- Vitamin E.
- Aspirin.
- Asam folat.
- Antagonist kalsium.
Masing-masing golongan ini mempunyai alur yang berbeda dalam mekanisme memperbaiki disfungsi endotel tersebut.
Umumnya PJK yang berisiko ringan, misalnya, adanya plak dilokasi koroner yang memperdarahi area jantung yang kecil, maka obat-obatan ( penghambat beta, penghambat kanal kalsium, penghambat enzim konversi angiotensin, statin, aspirin, serta nitrat ) telah mencukupi.
Adapun yang berisiko tinggi perlu tindakkan revaskularisasi ( memperdarahi kembali ).
Revaskularisasi dapat ditempuh dengan dua cara :
1. Teknik angioplasti ( percutaneus transluminal coronary angioplasty / PTCA ).
2. Bedah pintas koroner ( bypass ).
Dalam memilih bypass atau angioplasti, tergantung dari lokasi dan karakter penyempitan koroner, jumlah pembuluh yang terlibat, fungsi jantung, adanya penyakit penyerta, usia dan juga biaya.
Trimakasih, Tuhan memberkati.
Minggu, 22 Agustus 2010
Retail therapy.
Jika anda menyenangi pekerjaan shopping alias belanja di mal-mal.
Kebiasaan ini tidak selalu terkesan boros-borosan, mengeluarkan dompet, menguras isinya.
Ada yang mencoba berpendapat shopping dapat membuat hati gembira, semua rasa sedih, stres, atau sakit akan hilang.
Retail therapy dipercaya dapat melepaskan rasa sedih.
Menurut ilmu psikologi, setiap orang yang menyelesaikan masalah secara emosional dinamakan emotional coping strategy, Selain itu ada juga problem coping strategy dan spiritual coping strategy.
Belanja ( shopping ) bisa saja menjadi terapi, tetapi bukan dalam arti yang sesungguhnya, karena masalah tidak selesai.
Misalnya : sedih karena patah hati, setelah belanja patah hati datang lagi.
Padahal fungsi terapi itu untuk menyelesaikan masalah.
Emotional coping strategy bukan sesuatu yang jelek, karena fungsinya untuk menyeimbangkan emosi. Problemnya sendiri harus tetap diselesaikan.
Pada dasarnya, manusia ingin selalu memegang kendali terhadap kehidupannya.
Pada saat belanja, ia sedang keluar dari masalahnya dengan menciptakan harapan ke depan.
Itulah makanya belanja itu menjadi candu, karena menjanjikan sesuatu.
Sifat impulsif manusia bisa dibawa dari lahir maupun dibentuk oleh lingkungan.
Ada juga orang tua yang sama-sama konsumtif, tetapi anaknya justru tidak.
Jadi sebaiknya kalau belanja harus pintar-pintar mengatur diri.
Jangan tergoda hanya sekedar untuk memuaskan napsu belanjanya.
Kebiasaan ini tidak selalu terkesan boros-borosan, mengeluarkan dompet, menguras isinya.
Ada yang mencoba berpendapat shopping dapat membuat hati gembira, semua rasa sedih, stres, atau sakit akan hilang.
Retail therapy dipercaya dapat melepaskan rasa sedih.
Menurut ilmu psikologi, setiap orang yang menyelesaikan masalah secara emosional dinamakan emotional coping strategy, Selain itu ada juga problem coping strategy dan spiritual coping strategy.
Belanja ( shopping ) bisa saja menjadi terapi, tetapi bukan dalam arti yang sesungguhnya, karena masalah tidak selesai.
Misalnya : sedih karena patah hati, setelah belanja patah hati datang lagi.
Padahal fungsi terapi itu untuk menyelesaikan masalah.
Emotional coping strategy bukan sesuatu yang jelek, karena fungsinya untuk menyeimbangkan emosi. Problemnya sendiri harus tetap diselesaikan.
Pada dasarnya, manusia ingin selalu memegang kendali terhadap kehidupannya.
Pada saat belanja, ia sedang keluar dari masalahnya dengan menciptakan harapan ke depan.
Itulah makanya belanja itu menjadi candu, karena menjanjikan sesuatu.
Sifat impulsif manusia bisa dibawa dari lahir maupun dibentuk oleh lingkungan.
Ada juga orang tua yang sama-sama konsumtif, tetapi anaknya justru tidak.
Jadi sebaiknya kalau belanja harus pintar-pintar mengatur diri.
Jangan tergoda hanya sekedar untuk memuaskan napsu belanjanya.
Sabtu, 21 Agustus 2010
Kaitan Tonsilitis dengan penyakit lain.
Tonsil adalah jaringan limfe berbentuk seperti kacang almond atau dalam bahasa Belanda disebut amandel, yang berada disisi kiri-kanan kerongkongan.
Masyarakat awam mengenal radang tonsil sebagai sakit amandel.
Amandel merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh atau sebagai benteng pertahanan terdepan tubuh untuk menaklukkan kuman yang datang dari mulut dan saluran pernapasan.
Tonsilitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur.
Bakteri : umumnya streptococ, pnemococ, staphylococ.
Virus : influensa, dengue.
Dari hasil penelitian yang baru, bisa karena genetik, jika kedua orang tuanya mengalami hypertropi tonsil kemungkinan anaknya juga terkena hypertropi tonsil.
Pada pemeriksaan : tonsil merah, bengkak, kadang-kadang pada tonsil ada bintik-bintik atau diselimuti lapisan putih.
Penderita : demam, sakit menelan serng disertai gejala flu, sakit kepala dan sakit perut.
Pada bolatan-bulatan jaringan limfe di tonsil yang membengkak sering terselip sisa makanan dan kuman, sehingga menimbulkan bau mulut yang tak sedap.
Pada anak-anak, pembesaran tonsil biasanya diikuti pembesaran adenoid, yaitu kelenjar limfe yang terletak dibelakang hidung, dibagian atas belakang langit-langit lunak.
Sedangkan pada orang dewasa, tonsil yang membengkak bisa menempel pada langit-langit lunak sehingga menutup jalan napas.
Akibatnya penderita mengorok dan mengalami Sleep apnea atau henti napas sejenak saat tidur.
Sleep apnea menyebabkan jumlah oksigen yang beredar dalam tubuh berkurang sehingga jantung bekerja lebih keras.
Keadaan seperti ini jika berlangsung lama dapat memicu serangan jantung atau stroke.
Jika kekurangan oksigen menyebabkan penderita terus-menerus mengantuk sehingga prestasi atau produktivitasnya menurun.
Mengorok atau mendengkur sendiri ternyata merupakan salah satu tanda dari kelainan tidur hipersomnia yang dikenal dengan " Sleep apnea-syndrome " ( SAS ).
Keluhan penderita biasanya adalah : rasa ngantuk dan adakalanya penderita tidak dapat menahan rasa kantuk ini pada siang hari.
Seringkali penderita berkata-kata pada saat tidur ( somniloguy ) dan pada saat bangun tidur pagi hari mengeluh tidak merasa segar / tidak merasa nyaman disertai rasa sakit kepala.
Selain pada pembesaran tonsil, SAS ini ditemukan juga pada B-3 ( Berat badan berlebih ), pecandu alkohol dan obat-obatan serta disfungsi batang otak.
Komplikasi SAS yang terpenting adalah gangguan sistem kardiovaskuler yang dapat berakibat fatal dengan terjadinya kematian nokturnal.
Penderita tonsilitis pada anak obese yang lehernya terlihat pendek dan tebal dapat memicu terjadinya SAS, bisa terjadi asfiksia nokturnal yang dapat menimbulkan keadaan yang fatal.
Akibat asfiksia nokturnal terjadi perubahan fisiologis pada penderita seperti bradicardia vagal, vasokontriksi sistemik dan pulmoner akut serta denyut jantung ektopik, serta kemungkinan timbulnya rangsangan eritropoetik dari perubahan fisiologik akut yang mempunyai dampak gangguan serius adalah bradicardia, denyut ventrikel ektopik atau aritmia nokturnal yang dapat berakibat fatal.
Bila infeksi berulang pada tonsil dapat menyebabkan batuk, pilek, demam, dan sakit tenggorok atau sebaliknya batuk, pilek, menyebabkan infeksi pada tonsil.
Tonsil yang meradang bisa menjadi sumber infeksi pada organ lain.
Kuman mengikuti aliran darah dan bisa tersangkut di klep jantung, ginjal, atau selaput otak.
Tonsilitis akut yang disebabkan oleh virus, perbaikkan kondisi tubuh lewat pemberian makanan bergizi serta istirahat cukup bisa menyehatkan penderita.
Kalau diperlukan, penderita diberi obat penurun panas dan anti nyeri.
Pada radang tonsil akibat bakteri, penderita harus diberi antibiotik.
Sedangkan pada tonsilitis akibat jamur diberikan anti jamur.
Mengingat tonsil merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh, tonsil yang membesar tidak selalu harus dibuang, kecuali jika menjadi sumber infeksi atau mengganggu secara mekanik proses menelan dan bernapas.
Meski tidak membesar, kalau menjadi sumber infeksi tonsil perlu diangkat.
Operasi pembuangan tonsil secara konvensional dilakukan menggunakan pisau bedah.
Cara lain menggunakan sinar laser, bisa juga dengan koblasi elektronik.
Namun, cara itu tetap menyisakan luka terbuka yang perlu waktu sekitar satu sampai dua minggu untuk sembuh.
Cara terbaru adalah somnoplasty, yaitu menggunakan frekuensi radio.
Menurut situs Universitas Stanford yang membahas tentang sleep apnea, pada prosedur ini, tonsil yang membesar ditusuk jarum yang dihubungkan dengan generator frekuensi radio.
Jaringan dalam tonsil kemudian dipanaskan selama sekitar setengah jam sehingga mengecil.
Prosedur yang diperkenalkan didunia tahun 1998 dan telah dilakukan setahun belakangan di Indonesia, ini tidak menimbulkan perdarahan dan tidak sakit.
Dalam dua minggu tonsil akan mengecil 30-40 persen.
Masyarakat awam mengenal radang tonsil sebagai sakit amandel.
Amandel merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh atau sebagai benteng pertahanan terdepan tubuh untuk menaklukkan kuman yang datang dari mulut dan saluran pernapasan.
Tonsilitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur.
Bakteri : umumnya streptococ, pnemococ, staphylococ.
Virus : influensa, dengue.
Dari hasil penelitian yang baru, bisa karena genetik, jika kedua orang tuanya mengalami hypertropi tonsil kemungkinan anaknya juga terkena hypertropi tonsil.
Pada pemeriksaan : tonsil merah, bengkak, kadang-kadang pada tonsil ada bintik-bintik atau diselimuti lapisan putih.
Penderita : demam, sakit menelan serng disertai gejala flu, sakit kepala dan sakit perut.
Pada bolatan-bulatan jaringan limfe di tonsil yang membengkak sering terselip sisa makanan dan kuman, sehingga menimbulkan bau mulut yang tak sedap.
Pada anak-anak, pembesaran tonsil biasanya diikuti pembesaran adenoid, yaitu kelenjar limfe yang terletak dibelakang hidung, dibagian atas belakang langit-langit lunak.
Sedangkan pada orang dewasa, tonsil yang membengkak bisa menempel pada langit-langit lunak sehingga menutup jalan napas.
Akibatnya penderita mengorok dan mengalami Sleep apnea atau henti napas sejenak saat tidur.
Sleep apnea menyebabkan jumlah oksigen yang beredar dalam tubuh berkurang sehingga jantung bekerja lebih keras.
Keadaan seperti ini jika berlangsung lama dapat memicu serangan jantung atau stroke.
Jika kekurangan oksigen menyebabkan penderita terus-menerus mengantuk sehingga prestasi atau produktivitasnya menurun.
Mengorok atau mendengkur sendiri ternyata merupakan salah satu tanda dari kelainan tidur hipersomnia yang dikenal dengan " Sleep apnea-syndrome " ( SAS ).
Keluhan penderita biasanya adalah : rasa ngantuk dan adakalanya penderita tidak dapat menahan rasa kantuk ini pada siang hari.
Seringkali penderita berkata-kata pada saat tidur ( somniloguy ) dan pada saat bangun tidur pagi hari mengeluh tidak merasa segar / tidak merasa nyaman disertai rasa sakit kepala.
Selain pada pembesaran tonsil, SAS ini ditemukan juga pada B-3 ( Berat badan berlebih ), pecandu alkohol dan obat-obatan serta disfungsi batang otak.
Komplikasi SAS yang terpenting adalah gangguan sistem kardiovaskuler yang dapat berakibat fatal dengan terjadinya kematian nokturnal.
Penderita tonsilitis pada anak obese yang lehernya terlihat pendek dan tebal dapat memicu terjadinya SAS, bisa terjadi asfiksia nokturnal yang dapat menimbulkan keadaan yang fatal.
Akibat asfiksia nokturnal terjadi perubahan fisiologis pada penderita seperti bradicardia vagal, vasokontriksi sistemik dan pulmoner akut serta denyut jantung ektopik, serta kemungkinan timbulnya rangsangan eritropoetik dari perubahan fisiologik akut yang mempunyai dampak gangguan serius adalah bradicardia, denyut ventrikel ektopik atau aritmia nokturnal yang dapat berakibat fatal.
Bila infeksi berulang pada tonsil dapat menyebabkan batuk, pilek, demam, dan sakit tenggorok atau sebaliknya batuk, pilek, menyebabkan infeksi pada tonsil.
Tonsil yang meradang bisa menjadi sumber infeksi pada organ lain.
Kuman mengikuti aliran darah dan bisa tersangkut di klep jantung, ginjal, atau selaput otak.
Tonsilitis akut yang disebabkan oleh virus, perbaikkan kondisi tubuh lewat pemberian makanan bergizi serta istirahat cukup bisa menyehatkan penderita.
Kalau diperlukan, penderita diberi obat penurun panas dan anti nyeri.
Pada radang tonsil akibat bakteri, penderita harus diberi antibiotik.
Sedangkan pada tonsilitis akibat jamur diberikan anti jamur.
Mengingat tonsil merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh, tonsil yang membesar tidak selalu harus dibuang, kecuali jika menjadi sumber infeksi atau mengganggu secara mekanik proses menelan dan bernapas.
Meski tidak membesar, kalau menjadi sumber infeksi tonsil perlu diangkat.
Operasi pembuangan tonsil secara konvensional dilakukan menggunakan pisau bedah.
Cara lain menggunakan sinar laser, bisa juga dengan koblasi elektronik.
Namun, cara itu tetap menyisakan luka terbuka yang perlu waktu sekitar satu sampai dua minggu untuk sembuh.
Cara terbaru adalah somnoplasty, yaitu menggunakan frekuensi radio.
Menurut situs Universitas Stanford yang membahas tentang sleep apnea, pada prosedur ini, tonsil yang membesar ditusuk jarum yang dihubungkan dengan generator frekuensi radio.
Jaringan dalam tonsil kemudian dipanaskan selama sekitar setengah jam sehingga mengecil.
Prosedur yang diperkenalkan didunia tahun 1998 dan telah dilakukan setahun belakangan di Indonesia, ini tidak menimbulkan perdarahan dan tidak sakit.
Dalam dua minggu tonsil akan mengecil 30-40 persen.
Kamis, 19 Agustus 2010
Rokok, racun yang dilegalkan.
Ingat kata rokok, berarti kita juga ingat dengan substansi utamanya yaitu tembakau yang dapat membuat perokok menjadi kecanduan.
Merokok tetap saja menjadi primadona banyak orang, meski sudah di tulis pada setiap bungkusnya yang berbunyi " merokok dapat menyebabkan kanker paru, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin ".
Pada tayangan iklan rokok, memberikan kesan bahwa merokok adalah lambang modern dan keperkasaan, tetapi bersyukur masyarakat kita semakin memahami bahwa kebiasaan merokok adalah kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatan.
Dari hasil riset dikatakan merokok telah membunuh satu diantara sepuluh orang dewasa diseluruh dunia. Tahun 2030 diperkirakan jadi 1 dari 6 orang dewasa, atau 10 juta kematian per tahun.
Saat ini banyak orang yang mengakui bahwa merokok dapat merusak kesehatan manusia dalam skala global ataupun nasional.
Pada saat ini sedang diperluas akses pengobatan, pengganti nikotin dan pengobatan-pengobatan penghentian rokok lainnya.
Ketika asap rokok diisap masuk ke paru, dan dari sinilah nikotin masuk ke dalam aliran darah lewat epithel alveolus paru.
Dalam hitungan detik, nikotin disebar ke jutaan sel saraf di sistem saraf pusat, utamanya di otak tengah nikotin berinteraksi dengan receptor-receptor alfa-4, beta-2 asetilkolin nikotinik.
Sinyal ini segera ditransmisi ke axon dibagian belakang otak yang menstimulasi pelepasan beberapa jenis transmiter saraf ( neurotransmiter ), termasuk dopamin.
Dopamin inilah yang menimbulkan rasa enak, mengurangi kelelahan, ketegangan, kecemasan, dan stres.
Karena ambang dopamin segera surut dengan cepat, tak heran jika perokok banyak yang mengalami gejala ketagihan untuk asupan nikotin lagi ( craving ).
Beberapa industri farmasi telah menemukan beberapa jenis substansi agonis nikotin, yaitu obat yang bekerja sama seperti nikotin dalam merangsang receptor saraf.
Mulai dari buproprion sebagai obat anti rokok pertama ( 1997 ), sebagai antidepresan ( 1985 ),
cytisine, mecamylamine untuk penghentian kecanduan rokok, dianicline dan varenicline temuan
terakhir sebagai agonis parsial nikotin dan sekaligus antagonis nikotin, karena mencegah nikotin menempel pada receptor saraf.
Beberapa penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan merokok antara lain :
Kanker paru, bronchitis kronik, emfisema,, penyakit jantung koroner, ulkus peptikum, kanker mulut/ tenggorok, penyakit pembuluh darah otak dan gangguan janin dalam kandungan.
Pada penelitian, perokok pasif yang terpapar asap rokok dari racun tembakau selama sepuluh menit, yerkena kadar aseton sebanyak dua sampai lima kali lebih nanyak dibandingkan dengan perokok aktif.
Demikian pula, perokok pasif dapat terkena limpahan zat benzena sepuluh kali lebih tinggi dibanding perokok aktif.
Limpahan zat gas monoksida sebesar dua setengah hingga lima kali lebih tinggi.
Asap rokok yang dikeluarkan perokok dan terhisap oleh orang yang bukan perokok ( perokok pasif ) mengandung racun dan dapat memicu munculnya berbagai penyakit paru.
Setiap batang rokok sigaret yang dinyalakan, asapnya mengeluarkan lebih dari 4000 zat kimiawi yang mengandung racun dan berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia.
Meskipun batang sigaret itu sudah berfilter.
Menurut hasil penelitian, merokok sigaret yang berfilter memang dapat mengurangi risiko terkena penyakit bronchitis kronis dan penyakit kanker paru, namun akan meningkatkan risiko terkena angina pectoris dan penyakit jantung koroner.
Hal itu disebabkan karena filter rokok sigaret mengandung carbonyl hemoglobin dengan kadar tinggi.
Salah satu zat yang terdapat dalam rokok adalah nikotin.
Nikotin adalah suatu zat psikoaktif yang mempunyai efek farmakologis terhadap otak yaitu mempengaruhi perasaan dan atau kebiasaan, oleh karena itu nikotin dapat menimbulkan ketergantungan ( ketagihan ).
Nikotin mempunyai 2 efek, pada dosis rendah nikotin bersifat stimulan ( perangsang ), sedang pada dosis tinggi bersifat sebagai penenang.
Ada beberapa faktor yang berpengaruh besar terhadap kebiasaan merokok, seperti lingkungan rumah ( orang tua, saudara ), lingkungan sekolah, status sosial ekonomi, tetapi yang paling besar pengruhnya adalah jumlah teman yang merokok.
Keuntungan psikososial dari merokok, mereka merasakan lebih diterima dalam lingkungan teman dan kelihatan lebih dewasa, dan merasa lebih nyaman.
Dari faktor psikologis adalah kepribadian; kebiasaan merokok lebih sering didapatkan pada orang-orang dengan gangguan kepribadian seperti neurosis dan kecenderungan antisosial.
Merokok juga sering digunakan sebagai alat psikologis ( psychological tool ) seperti meningkatkan penampilan atau kenyamanan psikologis.
Banyak yang bertanya, bagaimana caranya berhenti merokok.
Berhenti merokok adalah proses, jadi tidak bisa dilakukan dengan tiba-tiba.
Usaha berhenti merokok sering kali menemui kegagalan, ada 2 faktor yang ikut berperan :
1. Akibat ketergantungan atau addiksi nikotin.
2. Faktor Psikologis.
Kebiasaan merokok yang telah bertahun-tahun akan membentuk suatu pola tingkah laku yang telah mengakar sehingga kalau mencoba berhenti akan terasa seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
Nikotin merupakan suatu zat yang menimbulkan ketergantungan.
Orang yang sudah merokok bertahun-tahun kadar nikotin dalam darahnya cukup tinggi.
Bila berhenti merokok, maka kadar nikotin akan turun.
Bila penurunan kadar nikotin sampai dua per tiganya atau lebih, maka akan timbul berbagai gejala seperti sakit kepala, lesu, kurang konsentrasi, insomnia, gangguan pencernaan, dan lain-lain ; gejala-gejala ini disebut withdrawal symptoms.
Kalau withdrawal symptoms ini dapat dilewati, maka ia akan terus berhenti merokok, tetapi bila tidak, maka ia akan merokok kembali.
Melakukan teknik yang tepat dalam merencanakan berhenti merokok :
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan,
1. Orang tersebut harus mempunyai motivasi yang kuat untuk berhenti merokok, karena tanpa motivasi kuat segala usaha tidak akan berhasil.
2. Mengajarkan mengalihkan kebiasaan merokok dan untuk mengatasi addiksi nikotin dengan cara memberikan pengganti nikotin seperti permen karet nikotin atau transdermal patches.
3. Follow-up, ini memegang peran penting, karena follow-up yang buruk akan memberikan hasil yang buruk pula.
Ada metode lain yang bisa dicoba untuk membantu berhenti merokok adalah Akupunktur dan hipnotis.
Tujuan pemberian obat ( pendekatan farmakologis ) adalah untuk mengurangi atau menghilangkan gejala withdrawal yaitu dengan memberi nikotin dengan cara lain seperti spray atau aerosol nikotin, permen nikotin.
Obat yang sudah dipakai dibeberapa negara antara lain :
1. Nikotin gum ( permen karet nikotin ), berisi 2 mg dan 4 mg nikotin.
2. Plester nikotin ( transdermal nikotin ).
Ada teori yang mengatakan :
Keberhasilan untuk berhenti merokok ditentukan pada hari pertama.
Menentukan hari pertama tidak merokok dan tertib melaksanakannya, sangat penting untuk keberhasilan berhenti merokok jangka panjang.
Dampak psikologisnya, walaupun hanya satu isapan rokok pada hari pertama mulai berhenti merokok, bisa membuat mereka yang ingin berhenti merokok akan menjadi perokok lagi dalam jangka waktu enam bulan kemudian.
Nikmatilah hidup, dengan tanpa menikmati rokok.
" Asal mau, pasti bisa " Berhentilah merokok sebelum rokok yang memberhentikan anda.
Trimakasih, Tuhan memberkati.
Merokok tetap saja menjadi primadona banyak orang, meski sudah di tulis pada setiap bungkusnya yang berbunyi " merokok dapat menyebabkan kanker paru, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin ".
Pada tayangan iklan rokok, memberikan kesan bahwa merokok adalah lambang modern dan keperkasaan, tetapi bersyukur masyarakat kita semakin memahami bahwa kebiasaan merokok adalah kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatan.
Dari hasil riset dikatakan merokok telah membunuh satu diantara sepuluh orang dewasa diseluruh dunia. Tahun 2030 diperkirakan jadi 1 dari 6 orang dewasa, atau 10 juta kematian per tahun.
Saat ini banyak orang yang mengakui bahwa merokok dapat merusak kesehatan manusia dalam skala global ataupun nasional.
Pada saat ini sedang diperluas akses pengobatan, pengganti nikotin dan pengobatan-pengobatan penghentian rokok lainnya.
Ketika asap rokok diisap masuk ke paru, dan dari sinilah nikotin masuk ke dalam aliran darah lewat epithel alveolus paru.
Dalam hitungan detik, nikotin disebar ke jutaan sel saraf di sistem saraf pusat, utamanya di otak tengah nikotin berinteraksi dengan receptor-receptor alfa-4, beta-2 asetilkolin nikotinik.
Sinyal ini segera ditransmisi ke axon dibagian belakang otak yang menstimulasi pelepasan beberapa jenis transmiter saraf ( neurotransmiter ), termasuk dopamin.
Dopamin inilah yang menimbulkan rasa enak, mengurangi kelelahan, ketegangan, kecemasan, dan stres.
Karena ambang dopamin segera surut dengan cepat, tak heran jika perokok banyak yang mengalami gejala ketagihan untuk asupan nikotin lagi ( craving ).
Beberapa industri farmasi telah menemukan beberapa jenis substansi agonis nikotin, yaitu obat yang bekerja sama seperti nikotin dalam merangsang receptor saraf.
Mulai dari buproprion sebagai obat anti rokok pertama ( 1997 ), sebagai antidepresan ( 1985 ),
cytisine, mecamylamine untuk penghentian kecanduan rokok, dianicline dan varenicline temuan
terakhir sebagai agonis parsial nikotin dan sekaligus antagonis nikotin, karena mencegah nikotin menempel pada receptor saraf.
Beberapa penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan merokok antara lain :
Kanker paru, bronchitis kronik, emfisema,, penyakit jantung koroner, ulkus peptikum, kanker mulut/ tenggorok, penyakit pembuluh darah otak dan gangguan janin dalam kandungan.
Pada penelitian, perokok pasif yang terpapar asap rokok dari racun tembakau selama sepuluh menit, yerkena kadar aseton sebanyak dua sampai lima kali lebih nanyak dibandingkan dengan perokok aktif.
Demikian pula, perokok pasif dapat terkena limpahan zat benzena sepuluh kali lebih tinggi dibanding perokok aktif.
Limpahan zat gas monoksida sebesar dua setengah hingga lima kali lebih tinggi.
Asap rokok yang dikeluarkan perokok dan terhisap oleh orang yang bukan perokok ( perokok pasif ) mengandung racun dan dapat memicu munculnya berbagai penyakit paru.
Setiap batang rokok sigaret yang dinyalakan, asapnya mengeluarkan lebih dari 4000 zat kimiawi yang mengandung racun dan berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia.
Meskipun batang sigaret itu sudah berfilter.
Menurut hasil penelitian, merokok sigaret yang berfilter memang dapat mengurangi risiko terkena penyakit bronchitis kronis dan penyakit kanker paru, namun akan meningkatkan risiko terkena angina pectoris dan penyakit jantung koroner.
Hal itu disebabkan karena filter rokok sigaret mengandung carbonyl hemoglobin dengan kadar tinggi.
Salah satu zat yang terdapat dalam rokok adalah nikotin.
Nikotin adalah suatu zat psikoaktif yang mempunyai efek farmakologis terhadap otak yaitu mempengaruhi perasaan dan atau kebiasaan, oleh karena itu nikotin dapat menimbulkan ketergantungan ( ketagihan ).
Nikotin mempunyai 2 efek, pada dosis rendah nikotin bersifat stimulan ( perangsang ), sedang pada dosis tinggi bersifat sebagai penenang.
Ada beberapa faktor yang berpengaruh besar terhadap kebiasaan merokok, seperti lingkungan rumah ( orang tua, saudara ), lingkungan sekolah, status sosial ekonomi, tetapi yang paling besar pengruhnya adalah jumlah teman yang merokok.
Keuntungan psikososial dari merokok, mereka merasakan lebih diterima dalam lingkungan teman dan kelihatan lebih dewasa, dan merasa lebih nyaman.
Dari faktor psikologis adalah kepribadian; kebiasaan merokok lebih sering didapatkan pada orang-orang dengan gangguan kepribadian seperti neurosis dan kecenderungan antisosial.
Merokok juga sering digunakan sebagai alat psikologis ( psychological tool ) seperti meningkatkan penampilan atau kenyamanan psikologis.
Banyak yang bertanya, bagaimana caranya berhenti merokok.
Berhenti merokok adalah proses, jadi tidak bisa dilakukan dengan tiba-tiba.
Usaha berhenti merokok sering kali menemui kegagalan, ada 2 faktor yang ikut berperan :
1. Akibat ketergantungan atau addiksi nikotin.
2. Faktor Psikologis.
Kebiasaan merokok yang telah bertahun-tahun akan membentuk suatu pola tingkah laku yang telah mengakar sehingga kalau mencoba berhenti akan terasa seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
Nikotin merupakan suatu zat yang menimbulkan ketergantungan.
Orang yang sudah merokok bertahun-tahun kadar nikotin dalam darahnya cukup tinggi.
Bila berhenti merokok, maka kadar nikotin akan turun.
Bila penurunan kadar nikotin sampai dua per tiganya atau lebih, maka akan timbul berbagai gejala seperti sakit kepala, lesu, kurang konsentrasi, insomnia, gangguan pencernaan, dan lain-lain ; gejala-gejala ini disebut withdrawal symptoms.
Kalau withdrawal symptoms ini dapat dilewati, maka ia akan terus berhenti merokok, tetapi bila tidak, maka ia akan merokok kembali.
Melakukan teknik yang tepat dalam merencanakan berhenti merokok :
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan,
1. Orang tersebut harus mempunyai motivasi yang kuat untuk berhenti merokok, karena tanpa motivasi kuat segala usaha tidak akan berhasil.
2. Mengajarkan mengalihkan kebiasaan merokok dan untuk mengatasi addiksi nikotin dengan cara memberikan pengganti nikotin seperti permen karet nikotin atau transdermal patches.
3. Follow-up, ini memegang peran penting, karena follow-up yang buruk akan memberikan hasil yang buruk pula.
Ada metode lain yang bisa dicoba untuk membantu berhenti merokok adalah Akupunktur dan hipnotis.
Tujuan pemberian obat ( pendekatan farmakologis ) adalah untuk mengurangi atau menghilangkan gejala withdrawal yaitu dengan memberi nikotin dengan cara lain seperti spray atau aerosol nikotin, permen nikotin.
Obat yang sudah dipakai dibeberapa negara antara lain :
1. Nikotin gum ( permen karet nikotin ), berisi 2 mg dan 4 mg nikotin.
2. Plester nikotin ( transdermal nikotin ).
Ada teori yang mengatakan :
Keberhasilan untuk berhenti merokok ditentukan pada hari pertama.
Menentukan hari pertama tidak merokok dan tertib melaksanakannya, sangat penting untuk keberhasilan berhenti merokok jangka panjang.
Dampak psikologisnya, walaupun hanya satu isapan rokok pada hari pertama mulai berhenti merokok, bisa membuat mereka yang ingin berhenti merokok akan menjadi perokok lagi dalam jangka waktu enam bulan kemudian.
Nikmatilah hidup, dengan tanpa menikmati rokok.
" Asal mau, pasti bisa " Berhentilah merokok sebelum rokok yang memberhentikan anda.
Trimakasih, Tuhan memberkati.
Langganan:
Postingan (Atom)