Minggu, 11 Agustus 2013

Kanker dan Antioksidan.

Kanker adalah suatu penyakit yang paling mengerikan dan manakutkan banyak orang.
Khususnya dibidang kedokteran sampai saat ini masih belum bisa mengatasi secara tuntas tentang penyakit ini, karena memang keterbatasan dari otak manusia.

Deskripsi medis pertama mengenai kanker ditemukan dalam sebuah manuskrip berbahasa Mesir yang ditulis pada tahun 2500 SM.
Transkripsi ini menyebutkan penemuan tonjolan yang tumbuh abnormal pada payudara.
Imhotep, dokter terkenal dari Mesir yang hidup sekitar tahun 2625 SM, mengajarkan bagaimana merasakan adanya tumor pada payudara melalui sentuhan tangan.

Kanker berasal dari Karkinos, yang dalam bahasa Yunani berarti kepiting.
Kata ini muncul pertama kali dalam literatur medis pada era Hippocrates sekitar tahun 400 M.
Penggambaran tumor dianggap menyerupai kepiting dengan cengkeraman kaki-kakinya dalam pasir.
Pada abad pertengahan, ahli bedah melakukan tindakan medis terhadap kanker dengan metode yang masih primitif.
Johannes Scultetus ( 1595 - 1645 ) menggambarkan mastektomi, operasi untuk mengangkat kanker payudara, dengan menggunakan api, cairan asam ( acid ), dan bahan kulit untuk membalut luka bedah.
Bagi penderita kanker keinginan untuk hidup bukanlah sebuah pilihan.
Ini merupakan misteri akan hasrat yang terdalam menuju kehidupan, yang tersembunyi dalam hati semua mahluk hidup.
Terkubur dalam di alam bawah sadar, keinginan ini membentuk perilaku insting, mempengaruhi pikiran-pikiran bawah sadar, dan bahkan fisiologi seseorang.
Keinginan untuk hidup bukanlah sesuatu yang dikondisikan.
Keinginan untuk hidup, disisi lain, sangatlah spesifik.
Keinginan untuk hidup itu lebih besar dari dirinya sendiri.
Dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan bagaimana peranan antioksidan terhadap kanker.

Oksigen merupakan zat esensial untuk tubuh, yang membuat tubuh mampu menghasilkan energi dalam jumlah besar dari jumlah makanan yang terbatas.
Walau begitu, terkadang oksigen yang kita pakai berubah menjadi molekul reaktif yang tidak stabil, dan dapat berinteraksi dengan banyak cara.
Molekul-molekul ini kadang-kadang disebut oksidan, jenis oksigen yang reaktif, atau radikal bebas.
Senyawa-senyawa maupun reaksi kimia yang cenderung menghasilkan spesies oksigen reaktif ( spesies oksigen yang potensial toksik ) disebut pro - oksidan.

Radikal bebas adalah atom / molekul yang pada kulit terluarnya mengandung satu / lebih elektron tak berpasangan.
Tidak semua spesies oksigen reaktif adalah radikal bebas, misalnya H2O2 dan singlet oksigen bukan radikal bebas, tetapi termasuk spesies oksigen reaktif.
Karena adanya kecenderungan mengambil sebuah elektron ( e- ) dari senyawa-senyawa lain, maka spesies oksigen ini sangat reaktif.
Ada beberapa spesies oksigen reaktif yang dijumpai dalam tubuh, diantaranya :
Radikal bebas superoksida, hidroksil, alkoksil, peroksil, peroksida lipid, hidrogen peroksida, singlet oksigen, dan ion hipoklorit.
Asap rokok, polusi, NO2 dan Ozon ( O3 ) merupakan contoh oksidan eksternal yang masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi.
Setiap hembusan asap rokok sigaret mengandung 10 pangkat 14 radikal bebas dan 800 ppm Nitrogen Oksida ( NOx ) yang dapat bereaksi dengan peroksida sel radang membentuk oksiradikal lain yang sangat kuat.
Senyawa-senyawa yang mampu menghilangkan, membersihkan ( scavenging ), menahan pembentukan ataupun meniadakan efek spesies oksigen reaktif disebut antioksidan.

Antioksidan-antioksidan ini diantaranya :
Vitamin A.
Vitamin ini dapat menguatkan dan mendukung terapi radiasi dan kemoterapi.
Vitamin A akan menginduksi program bunuh diri ( apoptosis ) pada sel-sel kanker dan diferensiasi sel.
Vitamin A dapat meningkatkan sistem imun menstimulasi aktivitas sel-sel pembunuh alamiah, dan menghambat pembentukan pembuluh darah baru pada tumor, sebuah proses yang disebut angiogenesis.
Sebaiknya memakai vitamin A dengan dosis yang tepat, sebab pada dosis yang tinggi, beberapa bentuk tertentu dari vitamin A justru dapat menstimulasi pertumbuhan beberapa jenis sel tumor serta memiliki efek toksik.
Carotenoid ( carotene, lutein, lycopene ) merupakan molekul yang dapat diubah menjadi vitamin A.
Karotenoid meningkatkan efek beberapa jenis kemoterapi seperti alkylating agents ( contohnya cytoxan ), terutama jika dikombinasikan dengan vitamin E.
Karotenoid merupakan antioksidan yang efektif yang perlu diwaspadai bersama, bahwa dalam dua penelitian besar, beta-karoten sintetik tampaknya justru meningkatkan kanker paru-paru pada perokok dan / atau pekerja asbes, sementara dalam satu studi terhadap non-perokok tidak ditemukan efek merugikan ini.
Hati-hati buat orang-orang dengan zat oksidatif yang tinggi ( contohnya aktivitas radikal bebas yang tinggi akibat merokok dan diet tinggi lemak ) akan bereaksi secara negatif terhadap suplemen beta-karoten tunggal.
Beta-karoten justru akan menjadi pro-oksidan dalam suasana stres oksidatif yang berat.
Sebaliknya, dampak pro-oksidan tampaknya akan menghilang dengan menghindari rokok, diet rendah lemak, dan penggunaan suplemen antioksidan yang lain seperti vitamin E, glutation, dan campuran berbagai karotenoid.

Makanan sumber vitamin A dan karotenoid yang dianjurkan adalah :
Susu dan produk susu, kuning telur, minyak ikan, sayuran berdaun hijau tua ( bayam, lobak, kubis ), wortel, mangga, pepaya, labu, kentang, dan ubi manis.

Vitamin C.
Dapat memperkuat dan mendukung efek kemoterapi dan radiasi, memerangi sel kanker, serta meningkatkan sistem imun tubuh dengan mengaktifkan sel-sel pembunuh alamiah.

Ada suatu temuan terbaru bahwa sel-sel kanker mengambil vitamin C dalam jumlah besar, hal ini justru akan menjelaskan laporan tentang efek membunuh selektif oleh vitamin C terhadap sel kanker, dimana sel-sel normal tetap hidup dan tampaknya terlindungi.
Vitamin C dapat bertindak sebagai agen anti-inflamasi ( anti radang ) dan analgesik ( anti nyeri ), yang membuat rasa sakit berkurang.
Pada uji coba klinis, pemberian kombinasi suplemen Vitamin C ( 500 mg ) dan vitamin E ( 400 mg ) selama pengobatan dengan tamoxifen pada wanita penderita kanker payudara dapat mengurangi level kolesterol dan risiko kadar trigliserida yang meningkat dalam darah akibat tamoxifen.
Tetapi ada laporan yang memperkirakan bahwa sel-sel leukemia ( sel-sel darah putih imatur ) dapat dirangsang pertumbuhannya oleh vitamin C.

Vitamin C dosis tinggi ( lebih dari 3000 mg ) juga dapat menyebabkan diare dan perut kembung, tetapi pengurangan dosis akan segera menghentikan gejala.
Hati-hati menggunakan vitamin C jika punya riwayat batu ginjal, penyakit kelebihan zat besi ( hemochromatosis ).

Pada penggunaan dosis tinggi vitamin C juga dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan oksidatif di dalam tubuh.

Vitamin E ( Tokoferol ) adalah antioksidan yang dapat mencegah kerja spesies oksigen reaktif.
Senyawa ini dapat mengatasi singlet oksigen, superoksida, dan radikal bebas peroksil.
Berguna untuk meningkatkan efek kemoterapi serta melindungi membran sel dan mitokondria melawan efek radikal bebas yang dapat merusak integritas sel.
Membantu memperbaiki fungsi sistem imun dan sistem saraf pusat.
Vitamin E dapat memberikan perlindungan terhadap setiap efek samping yang merugikan dari vitamin A dosis tinggi dan memelihara kelangsungan persediaan vitamin tersebut dengan cara meningkatkan potensi kerjanya.

Yang menjadi peringatan pada pemakaian vitamin E, dapat mengurangi agregasi platelet ( zat pembeku darah ) dan adhesi ( perlekatan platelet ke jaringan kolagen, yang berarti mengurangi efektivitas sistem pembekuan darah.
Bila dikombinasikan dengan obat anti-pembekuan darah ( obat pengencer darah ) seperti aspirin dan kaumadin, Vitamin E dengan dosis lebih dari 300 IU ( 1 mg = 1,5 IU ) per hari dapat menyebabkan hitungan jumlah platelet yang rendah dan berbahaya, yang dapat mengakibatkan perdarahan di dalam tubuh.
Setiap orang dengan hitung jenis platelet yang rendah selama menjalani kemoterapi seharusnya tidak diberi vitamin E melebihi 600 IU per hari.
Bagi penderita diabetes, penyakit jantung rematik, atau hipertiroid, pertahankan level vitamin E di bawah 600 IU per hari.
Bagi penderita tekanan darah tinggi, mulailah dengan dosis rendah ( tidak lebih dari 200 IU ) dan perlahan-lahan dapat ditingkatkan selama tekanan darah terkontrol.

Makanan sumber vitamin E yang dianjurkan :
Minyak biji gandum, sayuran berdaun, kacang-kacangan dan biji-bijian lainnya.

Mineral.
Disini mineral yang banyak digunakan diantaranya :
Selenium, sebagai antioksidan dan bahan yang esensial untuk sistem imun.
Pada dosis yang lebih tinggi, selenium dapat membantu menekan pembentukan dan penyebaran sel-sel tumor.
Efek dari berbagai jenis kemoterapi dapat mengakibatkan terjadinya defisiensi selenium, sehingga dibutuhkan penggantian dari luar.
Selenium bekerja sangat efektif, bila bergabung dengan vitamin E.
Namun, dosis yang tinggi dari mineral ini dapat membuat beberapa tumor menjadi lebih resisten terhadap kemoterapi, sehingga untuk hal ini dianjurkan dosis 200 mikrogram per hari sebagai dosis aman tertinggi.

Makanan sumber selenium yang dianjurkan :
Ikan ( sumber yang paling stabil ), biji-bijian dan sayuran-sayuran.

Zink.
Merupakan antioksidan cukup baik dan dapat mendukung metabolisme sel-sel normal, fungsi sistem imun, dan beroperasinya sistem saraf pusat.
Zat ini sering berkurang pada pasien penderita kanker.
Selain itu, ratio zink / tembaga sering rendah pada pasien kanker, yang dapat berperan dalam timbulnya peradangan dan pembentukan pembuluh darah baru, termasuk yang memberi makanan sel-sel tumor.
Zink dengan dosis tinggi diatas 100 mg / hari dapat menekan imunitas.
Dosis zink yang dianjurkan 30 -50 mg / hari.
Terlalu banyak zink dapat berakibat terhambatnya efek dari selenium.

Makanan sumber zink yang dianjurkan :
Produk hewan, kerang, sayuran hijau, kacang-kacangan dan sereal.

Magnesium.
Diperlukan untuk metabolisme sel ( merupakan komponen adenosine triphosphate, suatu substansi yang menyediakan energi untuk sel ).
Sangat penting untuk berfungsinya sistem imun.
Harus hati-hati ada laporan bahwa beberapa tumor dapat distimulasi oleh mineral magnesium ini.

Makanan sumber magnesium yang dianjurkan :
Sayuran hijau, sereal, dan kacang polong.

Dari hasil penelitian di Amerika Serikat, Dole dan Peto ( 1981 ) mengatakan sekitar sepertiga kanker yang diderita manusia disebabkan oleh pola konsumsi makanan.
Peran dari cara pengolahan makananpun menjadi penting.
Karena pengolahan makanan yang melibatkan suhu tinggi seperti menggoreng, dan membakar makanan berproten dan lemak tinggi, akan menghasilkan senyawa karsinogen.
Menggoreng yang dilakukan pada suhu minyak 180 derajat celsius, selama sekitar 10 menit.
Selama proses penggorengan, terjadi pengeluaran kandungan air dalam bahan pangan yang akan mengakibatkan terjadinya proses hidrolisis pada minyak goreng, sehingga minyak goreng semakin lama digunakan semakin tengik.
Yang menjadi permasalahan tidak hanya bau tengik yang mengganggu cita rasa makanan, tetapi selama terjadinya proses ketengikan, akan terbentuk senyawa-senyawa radikal bebas bersifat karsinogen.
Minyak goreng yang digunakan berkali-kali akan mengandung radikal bebas yang tinggi.
Sebaiknya menggoreng dilakukan dengan api kecil, dan minyak goreng jangan digunakan lebih dari dua kali.
Minyak goreng bekas yang warnanya berubah menjadi coklat kehitaman bersifat karsinogenik.

Peringatan bagi penderita jantung koroner, sebaiknya menggunakan minyak goreng yang sekali pakai, agar beban kerja jantung tidak bertambah berat.

Proses pengolahan makanan seperti pemanggangan makanan berprotein dan lemak tinggi ( pirolisis ), yaitu sate, hamburger, berbagai steak dan masakan cina yang menumis daging atau ikan pada suhu tinggi untuk dijadikan kaldu, banyak mengandung asam amino terpirolisis yang membentuk heterocyclic amine ( HAs ), suatu mutagen kuat.
Konsumsi lemak tinggi juga akan meningkatkan steriel dalam usus besar dan meningkatkan sekresi garam empedu, yang selanjutnya akan dimetabolis oleh bakteri usus menghasilkan senyawa karsinogenik.

Tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan terhadap pengaruh destruktif radikal bebas dengan tetap menjaga keseimbangan antara pro-oksidan dan anti-oksidannya.
Namun pada keadaan tertentu dimana terjadi pergeseran keseimbangan ke arah pro-oksidan, maka akan timbul kelainan-kelaian patologis seperti keganasan, inflamasi, aterosklerosis, penuaan, iskemi, hemolisis dan seterusnya dan sebagainya.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Kamis, 08 Agustus 2013

Berbeda jangan paksakan untuk jadi sama.( Tak baik mengekor terus ).

Pada awalnya manusia dibelahan bumi ini dibentuk dengan warna kulit ( ras ) yang berbeda, budaya, makanan, perilaku dan seterusnya, memang berbeda.
Malah setelah perang dunia ke II, UNESCO mengeluarkan pernyataan resmi tentang tiga identifikasi ras yang dimuat dalam The Race Question ( 1950 ).
Ke tiga ras tersebut adalah Mongoloid, Negroid, dan Kaukasoid.
Penggolongan ini sebelumnya dilakukan oleh para pakar taksonomi berdasarkan warna kulit.
Jadi bila dari orang yang berlainan ras menderita suatu penyakit yang sama, belum tentu timbul gejalanya yang sama pula ( bisa berlainan ), dan dosis untuk pengobatannyapun akan berbeda ( tidak selalu disamakan ), pada dasarnya semuanya memang berbeda.
Sebagai contoh soal :
Orang yang menderita penyakit jantung, di Indonesia gejalanya sering disebut orang " Angin duduk " ( serangan jantung ), karena gejala seperti ini yang paling sering dijumpai di masyarakat kita dikala terjadi serangan jantung.
Di Indonesia, serangan jantung gejalanya tidak khas tak seperti di Barat, yaitu nyeri di bagian dada yang menjalar ke lengan dan kemudian ke leher.
Di Indonesia kebanyakan tanda yang muncul adalah sakit di ulu hati, kembung, dan seperti sedang masuk angin, konon orang awam mengatakan.
Ini menunjukkan bahwa ketika orang-orang yang merasa dirinya masuk angin diperiksa, 30 % dari mereka sebenarnya tidak sedang masuk angin, melainkan terkena serangan jantung koroner.
Karena yang tertutup / menyempit adalah pembuluh darah LAD ( Left Anterior Descending ) yang menuju ke depan dan ke bawah jantung, sehingga kelihatan seperti sakit lambung ( maag ) dan masuk angin.

Contoh lain untuk pengobatan Tuberkulosis.
Kadar terapeutik obat tuberkulosis untuk pasien Indonesia tidak perlu setinggi pasien Kaukasia ( Barat ).
Pemberian Rifampisin, obat utama tuberkulosis, dibawah ambang terapeutik tetap menyembuhkan sebagian besar penderita di Indonesia.
Dari hasil penelitian menyebutkan, tidak ada hubungan bermakna antara konsentrasi rifampisin dan respon pengobatan.
Konsentrasi rifampisin pada darah orang Indonesia tidak perlu setinggi orang Barat yang diatas 8 mg / l.
Dengan kadar dibawah kombinasi dosis standar, pasien Indonesia tetap sembuh.
Jenis kuman TB di Indonesia berbeda dengan di Asia Tenggara lainnya, yang umumnya galur Beijing yang bersifat ganas dan cenderung resisten.
Di Indonesia, kuman yang beredar adalah galur non- Beijing.
Untuk memastikan konsentrasi dan dosis obat yang sesuai untuk penduduk Indonesia harus dilakukan penelitian lebih lanjut.
Pemberian dosis obat yang terlalu tinggi juga akan mengakibatkan keracunan pada hati, yang ditandai dengan kenaikan bilirubin, mual, dan muntah.
Karena efek samping berat, banyak pasien berhenti minum obat.
Akibatnya kuman TB bermutasi menjadi resisten, sehingga obat-obat yang dikonsumsi tidak manjur.
Laporan dari organisasi kesehatan dunia ( WHO ) 2011 mengatakan, Indonesia berada diperingkat ke empat untuk beban penyakit TB, setelah India, China, dan Afrika Selatan, dengan angka kematian 27 per 100.000 penduduk.

Contoh yang lainnya lagi dalam hal pemakaian vitamin C.
Pemakaian vitamin C bila disesuaikan dengan tubuh orang Indonesia dosis 500 mg sampai 1000 mg itu sudah dianggap melebihi takaran.
Beberapa ahli tidak menganjurkan pemakaian jenis vitamin dan mineral dalam jumlah megadosis ( dosis besar ) atau lebih dari 100 % kecukupan gizi yang dianjurkan RDA ( Recommended Dietary Allowances ) karena justru dapat menimbulkan efek sampingan yang tidak diinginkan.
Dosis yang wajar untuk konsumsi vitamin C 225 - 280 mg/ hari.
Jika meminum vitamin C secara berlebihan ( diatas 500 mg per hari ) dapat menimbulkan efek negatif, terutama yang berisiko menderita kelebihan zat besi ( hemochromatosis ), karena dengan kadar yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan oksidatif didalam tubuh.
Bagi yang mempunyai batu ginjal atau riwayat batu ginjal atau penyakit ginjal lainnya atau sedang dalam pengobatan hemodialisis ( cuci darah ) pemakaian vitamin C harus hati-hati.
Vitamin C juga berpengaruh pada penyerapan obat ( dapat meningkatkan absorbsi obat ).
Hal ini pertama kali diteliti oleh Edgar dan Bailey pada obat-obat : nifedipin, felodipin, terfenadin, eritromisin dan lain-lain.
Jadi harus hati-hati bagi penderita hipertensi yang meminum obat-obatan antagonis kalsium dan antibiotika jenis eritromisin, karena bila dicampur dengan vitamin C dapat meningkat daya absorbsi obatnya.

Contoh berikutnya :
Takaran dosis untuk orang Indonesia dianggap terlalu tinggi dalam penggunaan obat tidur dan antidepresi.
Sebab dari penelitian respons obat tidur dan antidepresi terhadap lima kelompok etnis terbesar di Indonesia seperti Melayu, Sunda, Jawa, Bugis dan Benoaq Dayak menunjukkan tingkat respons buruk terhadap obat itu tergolong tinggi.
Reaksi enzim CYP2C19 yang mencerna atau memetabolisme obat tidur diazepam, antidepresi, dan obat sakit maag.
Bila seseorang memiliki tipe gen buruk yang enzimnya tidak mampu atau tidak baik dalam metabolisme obat-obatan itu, maka obat itu akan menumpuk dalam darah atau tubuh hingga bersifat toksik.
Normalnya, obat akan habis dimetabolisme tubuh dalam waktu delapan jam.
Penggunaan obat tidur akan berdampak buruk dan fatal bagi orang Indonesia.
Pasien dengan tingkat metabolisme buruk bila mendapat dosis yang standar bagi kelompok dengan respons normal akan tidur dalam jangka waktu lebih lama.
Bila obat tidur ini memberikan respons negatif bagi etnis Timur atau bangsa Asia, kondisi sebaliknya terjadi untuk obat Antibiotika yang dimetabolisme oleh enzim CYP2D6.
Obat antibiotik memiliki respons negatif lebih besar pada etnis Barat.
Hal ini terkait juga dengan pengaruh lingkungan, termasuk pola makan dan minum kelompok etnis tersebut.
Perusahaan farmasi Amerika Serikat dan Eropa, selama ini melakukan uji klinik respons obat yang dibuat terhadap manusia terbatas di negaranya.
Padahal, populasi yang memiliki metabolisme buruk terhadap reaksi obat tertentu pada kelompok etnis di negeri Barat hanya dua persen.
Oleh karena itu, penggunaan produk obat dari negara ini akan berdampak buruk bagi etnis di kawasan lain, yang persentase populasi metabolisme buruknya lebih besar.
Penelitiannya menyebutkan, semakin ke Timur metabolisme buruk kelompok etnis dunia semakin besar.
Di Indonesia, metabolisme buruk berkisar 20 hingga 48 persen.
Penemuan tentang farmakogenomik ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan perusahaan farmasi untuk obat-obatan yang dipasarkan di Indonesia, agar dosis pemberian disesuaikan dengan metabolisme tubuh orang Indonesia.
Dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa semacam ini, kalau ditulis semua contoh-contohnya blog ini bisa penuh.

Jadi pada dasarnya memang berbeda, lain orang Eropa lain pula orang Asia, begitu juga dengan orang Afrika.
Sebaiknya kita harus mempunyai standar sendiri dalam menentukan gejala penyakit maupun dosis pengobatannya disesuaikan dengan metabolisme tubuh dan keadaan lingkungan yang mendukungnya.
Tentu dengan melakukan penelitian sendiri, supaya kita tidak dibilang cuma pintar mengekor saja.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Selasa, 23 Juli 2013

Pikiran negatif pengaruhi kondisi tubuh.

Dibenak kepala atau otak manusia tak jarang mempunyai pikiran-pikiran negatif seperti misalnya marah, kesal, benci, iri hati, sedih, kecewa dan seterusnya.
Hal seperti itu terjadi bila ada sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Ketka dalam diri menganggap tak ada orang yang lebih hebat dari dirinya, maka saat itulah kesombongan bertahta dengan nyaman.
Sebaliknya, ketika merasa tak punya sesuatu yang bisa dibanggakannya, munculah rasa malu dan rendah diri.
Ada beberapa orang beranggapan perasaan-perasaan itu suatu saat akan hilang dengan sendirinya ketika permasalahan dapat diselesaikan dan masih merupakan hal yang wajar.
Tetapi sebenarnya keadaan seperti itu biasanya selalu berulang dan sudah menjadi dasar dari watak seseorang.
Keadaan-keadaan seperti itu harus diwaspadai jika terus-menerus terjadi.
Ada beberapa penelitian membuktikan bahwa serangan jantung, tekanan darah tinggi, stroke, sakit kepala, gangguan pencernaan, dan bahkan kanker, bersumber dari pikiran-pikiran negatif.

Tentang hubungan pikiran negatif dengan kesehatan ; Cohen dan Gail M. Williamson, dua psikolog dari university of Georgia di Athens, Amerika, menemukan bahwa orang-orang yang kehidupannya penuh tekanan atau tinggal dalam keluarga yang sulit keadaannya, mengalami lebih banyak keluhan pada saluran pernapasan bagian atas, seperti selesma, tengorokan terasa kering dan demam.
Orang-orang itu juga sering mengunjungi dokter karena masalah kesehatannya dibanding dengan orang lain.
Tentunya orang banyak bertanya-tanya, bagaimana mungkin pikiran atau perasaan bisa menimbulkan penyakit ?
Para peneliti meyakini bahwa emosi negatif dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh seseorang.
Dr. Candace Pert, ahli stres dari Amerika Serikat mengatakan bahwa otak manusia menafsirkan rasa marah, takut dan stres sebagai  gangguan, yang kemudian menimbulkan reaksi pada sistem kekebalan tubuh.
Ketika seseorang merasa tertekan, otak akan memerintahkan tubuh untuk melepaskan adrenalin, yang bertugas mengatasi stres.
Bila hormon stres yang dilepaskan terlalu banyak akibat emosi negatif yang berlebihan, maka tubuh akan melepaskan hormon kortisol untuk menetralkannya.
Peningkatan kadar kortisol ini pada akhirnya menyebabkan gangguan metabolisme, dengan gejala seperti kegemukan, diabetes, hipertensi, serangan jantung, kerapuhan tulang, penurunan daya ingat, dan gangguan sistem kekebalan tubuh.
Don Colbert dalam bukunya The Deadly Killer, mengatakan bahwa orang yang tidak dapat mengendalika stres emosional berisiko mengalami kematian 40 % lebih tinggi dibanding dengan yang tidak mengalami stres.

Pada sebuah penelitian di The National Institute on Aging, ditelitii sekitar 4800 orang berusia diatas 71 tahun.
Dalam penelitian ditemukan bahwa orang-orang yang mengalami depresi kronis, paling tidak selama 6 tahun terus-menerus, memiliki risiko 88 % lebih besar menderita kanker pada 4 tahun ke depan.
Para peneliti menduga bahwa depresilah yang mengakibatkan rusaknya T - Cell dan bagian tubuh lain yang dapat membantu melawan penyakit, sehingga muncul penyakit kanker.
Tidak hanya itu, depresi diyakini menjadi sumber penyakit diabetes, serangan jantung, dan asthma.

Pada dasarnya semua pikiran negatif akan memberikan efek negatif terhadap diri seseorang.
Bila menabur benih negatif, akan menuai buah yang negatif pula.
Ketika kesombongan itu muncul dengan melihat orang lain lebih rendah dari dirinya, maka otomatis orang itu akan dibenci oleh lingkungan, tidak punya teman, dan akhirnya merasa kesepian, serta hidupnya tak tentram.
Jadi efek negatifnya semakin meluas, bukan hanya mengenai orang lain, tetapi juga mengenai dirinya sendiri.

Tidak dipungkiri dalam kehidupan manusia selalu ada sisi positif dan negatifnya.
Manusia selalu dihadapkan pada hal yang baik dan yang buruk, baik di dalam maupun di luar kendali dirinya, dan harus memutuskan apa yang akan dilakukan dan bagaimana menyikapinya, itu yang namanya perjuangan hidup.
Pikiran-pikiran negatif yang muncul dalam kehidupan manusia sebenarnya adalah hal yang wajar, dan bahkan memiliki sisi positif.
Sebagai contoh soal ; kehidupan Sidharta Gautama sejak kecil, ia dijauhkan dari segala hal yang negatif ( sakit, kematian, penderitaan, dan sebagainya ), tujuannya agar ia hanya merasakan kebahagiaan.
Namun, ketika ia dewasa dan melihat sendiri kesengsaraan disekitarnya, hal tersebut tidak mengganggunya, tetapi justru membuatnya berpikir dan berusaha mencari cara untuk membebaskan manusia dari kesengsaraan.
Jadi  " Hal negatif tidak selalu membuat kita menjadi negatif , kalau dapat mengatasinya dengan baik, hal negatif itu justru akan membuat diri kita menjadi lebih dewasa dan lebih kuat ".
Dari sekarang mulailah berpikir secara positif, dengan meninggalkan pikiran yang negatif.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Senin, 22 Juli 2013

Mengontrol pengaruh media elektronik pada anak.

Media elektronik yang bernama televisi pengaruhnya memang terbukti sangat ampuh untuk membuat orang mabuk kepayang dan duduk manis berjam-jam tanpa reserve.
Maraknya film kartun yang mendominasi program anak dalam dunia pertelevisian hampir 87 %.
Tanpa disadari banyaknya film-film itu yang ditonton anak-anak, baik diusia sekolah dasar, maupun prasekolah yang sajian itu sebenarnya menjadi target utamanya.
Film-film kartun ditambah lagi dengan tayangan iklannya lebih cocok untuk konsumsi kaum remaja dan orang dewasa, karena lebih mengekpos kekerasan, seksualitas / pornografi, supranatural, alur cerita dengan karakter tokoh yang sulit diterka, dan seterusnya.
Jam tayangnya pun tidak mempertimbangkan aktivitas anak untuk sekolah, belajar, bermain atau istirahat, sehingga dalam seminggu anak-anak bisa menonton hingga 30 - 35 jam.
Hal seperti ini tentu saja sangat mempengaruhi kreativitas dan kesehatan anak.

Dalam suatu penelitian di usia delapan belas tahun, seorang anak telah menonton televisi rata-rata sebanyak tujuh belas ribu jam.
Selama itu, si anak tentunya telah menyaksikan dua puluh ribu pembunuhan dan tiga ratus enam puluh lima ribu iklan.
Anak-anak belum bisa membedakan antara belajar dan hiburan.
Mereka belajar dari apa yang mereka lihat.
Kebanyakan anak cenderung menerima banyak dari apa yang mereka lihat di televisi sebagai kenyataan.
Mereka masih sulit membedakan mana yang fantasi dan mana yang realita.
Oleh karena itu, anak-anak cenderung belajar serta mengingat semua bentuk perilaku agresif baru dari tayangan berbagai jenis kekerasan yang disajikan media masa.
Dengan kontinuitas serta terus-menerus diisi dengan pemaparan perilaku agresif, kepekaan emosional mereka lambat-laun akan berkurang.
Jumlah tayangan kekerasan yang disaksikan anak di televisi berkaitan erat dengan perilaku agresif yang diperlihatkannya.
Hampir semua tayangan acara di televisi mengandung unsur kekerasan dan hal ini tidak membuat si anak jadi santai ataupun  meninggalkan perasaan nyaman, melainkan dapat membuatnya menjadi cemas.
Tayangan itu pun sama sekali tidak mendidik, contohnya dari segi seksualitas yang dipertontonkan, sebagian besar hubungan cinta-kasih yang digambarkan lebih merupakan hubungan saling mengeksploitasi ketimbang hubungan yang saling mengisi sebagaimana seharusnya suatu perkawinan sakral yang diberkati Tuhan.

Menonton televisi itu sifatnya pasif.
Awal dari mengajarkan anak mendapatkan kepuasan dari dalam dan mengendalikan dorongan hati, si anak belajar bahwa cukup dengan menekan sebuah tombol, tanpa perlu menggunakan pikiran dan tenaga, ia dapat langsung memperoleh kepuasan.
Dengan menonton televisi akan memperpendek rentang perhatian anak dan membuat kesehatan fisik dan mentalnya memprihatinkan.

Lebih dari separuh iklan di televisi mengiklankan makanan yang nilai gizinya perlu dipertanyakan, yaitu berkandungan gula tinggi dan zat pewarna buatan yang mempunyai dampak merusak kesehatan serta perilaku anak.
Anak-anak di bawah usia delapan tahun tidak dapat membedakan kandungan acara dan kandungan komersialnya .
Sebagai contoh, mereka mungkin merasa bahwa jagoan yang mereka idolakan itu juga melegalkan semua produk yang diiklankan.

Dengan menonton televisi anak dikondisikan, dibuat untuk mempercayai dari apa yang ia lihat.
Para pembuat iklan yang sudah berpengalaman ahli dalam membuat slogan mencoba menghipnotis pikiran si anak dan hasil memperdayanya ini dapat menetap dalam pikiran si anak untuk jangka waktu lama.
Sebagai contoh membuat iklan dengan dilagukan atau dengan kata-kata yang di ulang-ulang dengan tujuan untuk memasukkan semacam doktrin atau cuci otak bagi si anak untuk mengingat iklan tersebut.

Televisi menyajikan dunia yang cemerlang dan indah, berisikan para jagoan, orang-orang perkasa, cantik jelita, kemewahan dan berkuasa.
Semua atribut ini segera dipandang si anak sebagai sesuatu yang paling dihargai oleh dunia.
Anak yang tidak memandang dirinya memiliki semua ciri penting ini mungkin akan membenamkan dirinya dalam dunia fantasi dan membayangkan dirinya menyerupai semua jagoan di televisi.
Akan tetapi jauh di dalam dirinya, ia mungkin juga merasa tidak akan pernah seperti mereka.
Disini tujuan utama dari orang tua memupuk penghargaan terhadap diri si anak sendiri.
Si anak supaya bisa mengenal siapa dirinya dan orang tua sebisa mungkin menjelaskan kepada si anak.
Hati-hati terhadap pengaruh media elektronik yang mengajarkan nilai-nilai tandingan.
Menonton televisi hendaknya dengan cara memilih tontonan yang bermanfaat dan yang seimbang di setiap keluarga.
Saringlah semua yang ditampilkan dilayar televisi, jadikanlah televisi sebagai tontonan keluarga.
Anggaplah televisi sebagai bagian dari mandat untuk mendidik anak hidup sesuai jalan yang telah ditentukan Tuhan.

Begitu juga pengaruh komputer dan video games, yang sedang menjamur di zaman ini.
Sungguh tidak realitis apabila orang tua menyangkal pengaruh komputer.
Nanti dikemudian hari anak harus bersaing di dunia esok, ia harus mengikuti kecanggihan zaman ini.
Disekolah mulai diajarkan tentang komputer, pemakaian internet sejak di usia prasekolah.
Orang tua harus menyadari pengaruh yang diberikan komputer pada anak.

Dari hasil penelitian Dr. Jo Bryce dari Manchester University mengatakan tidak semua bermain games itu buruk.
Selama dilakukan tidak berlebihan dan tidak meninggalkan kewajiban bermain game dapat mengkatkan kemampuan koordinasi mata dan tangan serta meningkatkan daya konsentrasi
Meningkatkan ketajaman mata, meningkatkan kemampuan membaca, mengusir stres dan mengendurkan ketegangan syaraf, mengasah dan melatih otak.
Tetapi dapat memunculkan dampak buruk jika dilakukan berlebihan seperti merusak sebagian kerja otak, memunculkan perilaku kekerasan, berkata-kata kasar, membuat si anak terisolir dari lingkungannya, membuat anak ketagihan sampai lupa makan, lupa mandi, lupa sekolah, lupa pulang ke rumah, kurang bersosialisasi dengan dunia nyata.
Dapat mengganggu kesehatan terutama rasa sakit di jari dan tangan bila bermain berjam-jam, mata jadi kering serta pusing dan mual-mual.
Ketika si anak mulai mencintai mesin tersebut dan memanfaatkan manusia, si anak mudah terhanyut terbawa arus yang kian jauh dari norma-norma yang baik.
Orang tua wajib menyaringnya dan meluangkan waktu untuk duduk bersama anak-anak mengajarinya memilih dengan tetap terawasi.
Bimbingan orang tua masih tetap merupakan cara yang paling dapat memastikan bahwa anak hanya akan mendapatkan yang terbaik dari komputer.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Minggu, 26 Mei 2013

Mengapa sering terjadi jatuh pada lansia.

Kejadian terjatuh pada orang tua ( usia lanjut ) kerap terjadi, di Indonesia dilaporkan paling sering di kamar mandi dan setelah bangun dari tidur.
Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor yang berperan baik faktor intrinsik seperti gangguan gaya berjalan, kelemahan otot-otot kaki ( ekstremitas bawah ), kekakuan sendi, sinkop ( gelap sesaat ) dan seperti berputar ( dizzines ), serta faktor ekstrinsik seperti lantai licin dan tidak rata, tersandung benda-benda sekitar, penglihatan kurang jelas karena cahaya kurang terang, dan seterusnya.

Pengertian jatuh sebenarnya adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata, yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak terbaring / terduduk di lantai / tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka ( Reuben, 1996 ).

Dari hasil survai di A S didapatkan sekitar 30 % lansia yang berumur lebih dari 65 tahun jatuh setiap tahunnya, separuhnya mengalami jatuh berulang ( Tinetti, 1992 ).

Kematian akibat jatuh sangat sulit diidentifikasi karena sering kali tidak disadari oleh keluarga atau dokter yang memeriksanya, sebaliknya jatuh dapat merupakan akibat penyakit lain.
Misalnya serangan jantung mendadak ( Tinetti, 1992 ).
Biasanya akibat dari jatuh terjadi patah tulang paha dekat persendian atas ( fraktur collum femoris ).
Patah jenis ini di AS diderita oleh 250.000 lebih lansia setiap tahunnya dan sebagian besar penderitanya wanita.
Kejadian lainnya seperti patah tulang iga, patah tulang tangan, lengan, pinggul, perlukaan jaringan lunak yang serius seperti subdural hematom, memar, keseleo dan seterusnya.

Fraktur Collum femoris ini merupakan fraktur yang berhubungan dengan proses menua dan osteoporosis.
Wanita mempunyai risiko lebih tinggi dibanding laki-laki untuk terjadinya fraktur dan perlukaan akibat jatuh.
Lansia yang sehat juga mempunyai risiko lebih tinggi dibanding lansia yang lemah / cacat untuk terjadinya fraktur dan perlukaan akibat jatuh.
Kebanyakan lansia terjatuh akibat dari penurunan respon perlindungan diri dan kekuatan fisik untuk menjaga diri.

Untuk menjaga stabilitas badan supaya terhindar dari peristiwa terjatuh ditentukan oleh beberapa hal :
a. Sistem Sensorik.
Disini yang berperan didalamnya adalah : Visus ( penglihatan ), pendengaran, fungsi vestibuler, dan proprioseptif.
Semua gangguan atau perubahan pada mata akan menimbulkan gangguan penglihatan.
Semua penyakit telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran.
Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lansia yang diduga karena adanya perubahan fungsi vestibuler akibat dari proses menua.
Neuropati perifer dan penyakit degeneratif leher akan mengganggu fungsi proprioseptif ( Tinetti, 1992 ).
Gangguan sensorik tersebut menyebabkan hampir sepertiga penderita lansia mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji klinik.

b. Sistem Saraf Pusat ( SSP ).
SSP akan memberikan respon motorik untuk mengntisipasi input sensorik.
Penyakit SSP seperti Stroke, Parkinson, Hidrosefalus tekanan normal, sering diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik ( Tinetti, 1992 ).

c. Kognitif.
Pada beberapa penelitian, demensia diasosiasikan dengan meningkatnya risiko jatuh.

d.Muskuloskeletal.
Menurut beberapa peneliti merupakan faktor yang paling berperan dan benar-benar murni milik lansia yang menyebabkan terjadinya jatuh.
Gangguan muskuloskeletal menyebabkan gangguan gaya berjalan ( gait ) dan hal ini berhubungan dengan proses menua yang fisiologis.
Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain disebabkan oleh :
- Kekakuan jaringan penghubung.
- Berkurangnya massa otot.
- Perlambatan konduksi saraf.
- Penurunan visus / lapang pandang.
- Kerusakan proprioseptif.

Yang kesemuanya menyebabkan :
- Penurunan Range of Motion ( ROM ) sendi.
- Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah.
- Perpanjangan waktu reaksi.
- Kerusakan persepsi dalam.
- Peningkatan postural sway ( goyangan badan ).

Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal.
Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih cenderung gampang goyah.
Perlambatan reaksi mengakibatkan seorang lansia susah / terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpeleset, tersandung, kejadian tiba-tiba, sehingga memudahkan jatuh.

Adapun faktor risiko jatuh pada lansia dapat dibagi dalam dua golongan besar ( Kane, 1994 ) :
1. Faktor-faktor intrinsik ( faktor dari dalam ).
2. Faktor-faktor ekstrinsik ( faktor dari luar ).

- Faktor intrinsik diantaranya : kondisi fisik dan neuropsikiatrik, penurunan visus dan pendengaran, perubahan neuromuskuler, gaya berjalan, dan reflek postural karena proses menua.

- Faktor ekstrinsik diantaranya : obat-obatan yang diminum, alat-alat bantu berjalan, lingkungan yang tidak mendukung ( berbahaya ).

Mengapa para lansia mudah sekali terjatuh, biasanya merupakan gabungan dari beberapa faktor yang ada seperti :
1. Kecelakaan : merupakan penyebab yang utama ( 30-50 % kasus jatuh lansia ).
- Murni kecelakaan misalnya terpeleset, tersandung.
- Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan-kelainan akibat proses menua misalnya karena mata kurang awas, benda-benda yang ada dirumah tertabrak, lalu jatuh.

2. Nyeri kepala dan atau vertigo.

3. Hipotensi orthostatic :
- Hipovolemia / curah jantung rendah.
- Disfungsi otonom.
- Penurunan kembalinya darah vena ke jantung.
- Terlalu lama berbaring.
- Pengaruh obat-obat hipotensi.
- Hipotensi sesudah makan.

4. Obat-obatan :
- Diuretik / antihipertensi.
- Antidepresan trisiklik
- Sedativa.
- Antipsikotik.
- Obat-obat hipoglikemik.
- Alkohol.

5.Proses Penyakit yang spesifik .
Penyakit-penyakit akut seperti :
- Kardiovaskuler : Aritmia, stenosis aorta dan sinkope sinus carotis.
- Neurologi : TIA, Stroke, serangan kejang, Parkinson, kompresi saraf spinal karena spondilosis, penyakit cerebellum.

6. Idiopatik ( tidak jelas sebabnya ).

7. Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba-tiba.
- Drop attack ( serangan tiba-tiba ).
- Penurunan darah ke otak secara tiba-tiba.
- Terbakar matahari.

Faktor lingkungan yang terkait dengan kecelakaan pada lansia :
1. Alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di bawah.
2. Tempat tidur atau WC yang rendah / jongkok.
3. Tempat berpegangan yang tidak kuat / tidak mudah dipegang.
- Lantai yang tidak datar baik ada trapnya atau menurun.
- Karpet yang tidak di lem dengan baik, keset yang tebal / menekuk pinggirnya ( kesrimped / terbelit ) dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser.
- Lantai yang licin atau basah.
- Penerangan yang tidak baik ( kurang atau menyilaukan ).
- Alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya.

Lansia terjatuh pada umumnya setelah melakukan aktivitas biasa seperti berjalan, naik atau turun tangga, mengganti posisi.
Dan jarang sekali ( 5 % ) terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas berbahaya seperti mendaki gunung atau olahraga berat.
Masalah jatuh ini juga sering terjadi bila lansia banyak melakukan kegiatan dan olahraga, kemungkinan karena kelelahan dan banyak terpapar matahari yang terlalu kuat.

Sekitar 70 % lansia mendapat masalah jatuh terjadi di rumah.
Di Indonesia terutama tersering di kamar mandi  30 %, terjatuh saat bangun tidur 10 %, terjatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik 15 %, lain-lain karena tersandung, kaki terbelit ( kesrimped ), menabrak benda-benda di lantai, lantai licin atau tak rata, penerangan kurang.

Peristiwa jatuh merupakan salah satu Geriatric giant, yang sering terjadi pada usia lanjut, penyebab tersering adalah masalah di dalam dirinya sendiri ( gangguan gait, sensorik, kognitif, sistem saraf pusat ) didukung oleh keadaan lingkungan rumahnya yang berbahaya ( alat rumah tangga yang tua / tidak stabil, lantai yang licin dan tidak rata, dan seterusnya ).

Peristiwa jatuh ini sering mengakibatkan komplikasi dari yang paling ringan berupa memar dan keseleo sampai dengan patah tulang bahkan kematian.
Oleh sebab itu peristiwa ini harus dicegah, supaya tidak terjadi jatuh berulang.
Mencegah terjadinya jatuh pada usia lanjut sangat penting dan lebih utama dari pada mengobati akibatnya.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Selasa, 21 Mei 2013

Benarkah manusia tergolong Omnivora ( pemakan segala ) ?

Semua orang menginginkan hidup sehat, tetapi cara untuk melakukan hidup sehat seperti yang sudah biasa dilakukan setiap hari itu apa sudah benar ?
Ada dua hal penting yang harus dilakukan untuk membuang segala permasalahan yang menggerogoti tubuh manusia :
1. Berhenti melakukan penyebab terjadinya masalah.
2. Meningkatkan asupan zat-zat gizi yang dibutuhkan sel-sel tubuh, supaya tubuh dapat menyelesaikan tugas untuk memperbaiki diri.

Untuk melakukan penghentian pengrusakan kesehatan kita harus mengevaluasi gaya hidup, khususnya mengenai kebiasaan makan.
Apa yang biasa kita makan mungkin akan membahayakan tubuh kita.
Kita harus mengenali makanan mana saja yang dianggap baik dan makanan mana saja yang dianggap buruk bagi kesehatan.
Makanan-makanan yang buruk alias makanan pembunuh adalah makanan yang mengakibatkan kerusakan paling parah dan memberikan manfaat paling sedikit bagi tubuh manusia.
Ingatlah selalu, makanan yang baik bagi harimau bukanlah makanan yang baik bagi kuda.

Masih dalam ingatan waktu duduk di sekolah dasar dulu, pernah diajarkan bahwa beberapa hewan, termasuk manusia dikelompokan menurut cara makannya.
- Yang memakan daging dikelompokan kedalam Karnivora.
- Yang memakan tumbuh-tumbuhan atau biji-bijian dikelompokan ke dalam Herbivora.
- Yang memakan semuanya / pemakan segala dikelompokan Omnivora.
Omnivora ini di dalamya termasuk manusia, karena dianggap pemakan segalanya.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah sudah benar manusia termasuk kelompok Omnivora atau manusia termasuk kelompok yang lain ?
Pada tulisan ini penulis akan menjelaskan pada posisi mana manusia itu dikelompokan.
Manusia sudah sekian lama telah menyesuaikan diri untuk mengonsumsi daging hewan dari generasi ke generasi, tetapi apakah itu tepat bagi spesies manusia ?
Mari kita perhatikan beberapa perbandingan fisiologis dan biologis antara Karnivora dan Herbivora.
Kita mulai dengan cakar dan gigi.
Karnivora memiliki cakar dan gigi depan yang tajam untuk menangkap mangsa mereka, tetapi tidak memiliki gigi molar yang datar untuk mengunyah dan menggiling makanan mereka.

Herbivora tidak memiliki cakar maupun gigi depan yang cukup tajam untuk menaklukkan mangsa mereka, tetapi mereka memiliki gigi molar yang datar untuk mengunyah dan menggiling.

Manusia memiliki karakteristik yang sama seperti Herbivora.

Air liur.
Air liur dari karnivora bersifat asam supaya dapat memulai proses cerna dengan segera.
Air liur dari herbivora bersifat basa, yang membantu proses pra-cerna makanan dari tumbuh-tumbuhan.

Air liur manusia bersifat basa.

Asam lambung.
Lambung karnivora mensekresikan cairan cerna yang bersifat asam 20 kali lebih kuat dibandingkan asam lambung herbivora.
Kekuatan asam klorida ( HCL ) dibutuhkan untuk menghancurkan makanan berdaging secepat mungkin dalam perjalanan singkat mereka melewati usus.

Keasaman lambung manusia cocok dengan herbivora dan akan mengalami penyusutan ( pengurangan ) ketika asam lambung diproduksi secara berlebihan.

Panjang saluran pencernaan.
Hewan dari kelompok karnivora memiliki saluran usus yang tiga hingga enem kali panjang tubuhnya, relatif pendek, sehingga makanan tidak punya cukup waktu untuk membusuk.
Sebaliknya, herbivora memiliki saluran usus yang 10 sampai 12 kali panjang tubuhnya sehingga tumbuh-tumbuhan yang mereka makan dapat dihancurkan dalam cairan cerna yang lebih lembut secara lambat.

Manusia mempunyai perbandingan saluran cerna yang sama dengan herbivora.

Bentuk usus.
Perut karnivora seperti pipa berdinding halus tanpa benjolan ( tonjolan-tonjolan / jonjot-jonjot ) maupun kantong-kantong, sehingga makanan berdaging dengan cepat dapat dieliminasi.

Usus herbivora penuh dengan benjolan ( tonjolan-tonjolan / jonjot-jonjot ), kantong, saku, gulungan, dan lipatan, sehingga makanan tumbuhan dapat melewati saluran pencernaan secara lambat untuk membantu penyerapan zat gizi.

Manusia memiliki karakteristik usus yang sama dengan herbivora.

Serat.
Karnivora tidak membutuhkan serat untuk membantu memindahkan makanan melalui saluran cerna mereka yang pendek dan halus.
Namun, herbivora butuh serat untuk menyapu makanan yang membusuk keluar dari perut mereka yang berbelit.

Manusia memiliki kebutuhan serat makanan yang sama dengan herbivora.

Kolesterol.
Kolesterol hanya ditemukan dalam makanan yang bersumber dari hewan saja, dan ini bukan masalah bagi karnivora yang dapat menangani sejumlah besar kolesterol dalam makanan mereka.
Sedangkan, pola makan herbivora yang berdasarkan pada tumbuh-tumbuhan bersifat bebas kolesterol.

Manusia sama sekali tidak membutuhkan kolesterol dari luar, karena tubuh kita mampu memproduksi yang kita butuhkan ; dan kita memiliki masalah kesehatan yang serius ketika mengonsumsi kolesterol secara berlebihan.

Banyak orang beranggapan bahwa manusia sudah pasti bersifat omnivora, karena manusia pemakan daging hewan juga.
Namun, manusia tidak bersifat lebih dari omnivora dibandingkan hewan karnivora.
Manusia jika dilihat secara detail dari anatomis dan fisiologisnya, mahluk ini lebih memiliki karakteristik mirip golongan herbivora.
Untuk lebih memperjelas mari kita lihat perbandingan yang lebih terinci antara fisiologis dan anatomis dari karnivora, herbivora dan omnivora.

Karnivora mempunyai ciri-ciri :
-Otot-otot wajah : tereduksi untuk memungkinkan mulut menganga lebar.
-Tipe rahang : sudut tidak melebar.
-Lokasi sendi rahang : Pada dasar yang sama dengan gigi geraham.
-Gerakan rahang : memotong ; minimal gerakan dari sisi ke sisi.
-Otot-otot utama rahang : temporalis.
-Bukaan mulut vs ukuran kepala : lebar.
-Gigi seri : pendek dan meruncing.
-Gigi taring : panjang, tajam, dan berlekuk.
-Gigi geraham : tajam, bergigi, dan berbentuk mata pisau.
-Pengunyah : tidak ada, menelan makanan secara utuh.
-Air liur : tidak ada enzim pencernaan.
-Tipe lambung : sederhana.
-Asam lambung : kurang dari atau sama dengan pH 1 dengan makanan dalam lambung.
-Kapasitas lambung : 60 % hingga 70 % dari volume total saluran pencernaan.
-Panjang usus halus : 3 hingga 6 kali panjang tubuh.
-Termostasis : hiperventilasi.
-Usus besar : sederhana, pendek, dan halus ; tidak ada fermentasi.
-Hati : dapat mendetoksifikasi vitamin A.
-Ginjal : air seni secara ekstrem terkonsentrasi.
-Kuku : cakar-cakar tajam.

Herbivora mempunyai ciri-ciri :
-Otot-otot wajah : berkembang dengan baik.
-Tipe rahang : sudut melebar.
-Lokasi sendi rahang : di atas dasar gigi geraham.
-Gerakan rahang : tidak memotong ; gerakan dari sisi ke sisi maupun dari depan ke belakang.
-Otot-otot utama rahang : masseter dan pterygoids.
-Bukaan mulut vs ukuran kepala : kecil.
-Gigi seri : luas, berbentuk seperti sekop dan mendatar.
-Gigi taring : tumpul dan pendek atau panjang ( untuk pertahanan ), atau tidak ada.
-Gigi geraham : mendatar dengan gigi taring vs permukaan kompleks.
-Pengunyah : dibutuhkan proses pengunyahan lama.
-Air liur : enzim pencerna karbohidrat.
-Tipa lambung : ruang sederhana atau banyak.
-Asam lambung : pH 4 hingga 5 dengan makanan dalam lambung.
-Kapasitas lambung : kurang dari 30 % volume total saluran pencernaan.
-Panjang usus halus : 10 hingga lebih dari 12 kali panjang tubuh.
-Termostasis : berkeringat.
-Usus besar : panjang, kompleks, mungkin berkantong-kantong ; fermentasi mungkin terjadi.
-Hati : tidak dapat mendetoksifikasi vitamin A
-Ginjal : air seni terkonsentrasi secara moderat.
-Kuku : kuku-kuku mendatar atau ujung yang tumpul.

Omnivora mempunyai ciri-ciri :
-Otot-otot wajah : tereduksi.
-Tipa rahang : sudut tidak melebar.
-Lokasi sendi rahang : pada dasar yang sama dengan gigi geraham.
-Gerakan rahang : memotong ; minimal gerakan sisi ke sisi.
-Otot-otot utama rahang : temporalis.
-Bukaan mulut vs ukuran kepala : lebar.
-Gigi seri : pendek dan meruncing.
-Gigi taring : panjang tajam, dan melengkung.
-Gigi geraham :seperti mata pisau dan atau mendatar.
-Pengunyah : menelan makanan utuh dan menggiling secara sederhana.
-Air liur : tidak ada enzim pencernaan.
-Tipe lambung : sederhana.
-Asam lambung : kurang dari atau sama dengan pH 1 dengan makanan dalam lambung.
-Kapasitas lambung : 60 % hingga 70 % dari volume total saluran pencernaan.
-Panjang usus halus : 4 hingga 6 kali panjang tubuh.
-Termostasis : hiperventilasi.
-Usus besar : sederhana, pendek, dan lembut ; tidak terjadi fermentasi.
-Hati : dapat mendetoksifikasi vitamin A.
-Ginjal : air seni secara ekstrem terkonsentrasi.
-Kuku : cakar-cakar yang tajam.

Manusia mempunyai ciri-ciri :
-Otot-otot wajah : berkembang dengan baik.
-Tipe rahang : sudut melebar.
-Lokasi sendi rahang : di atas dasar gigi geraham.
-Gerakan rahang : tidak memotong ; gerakan sisi ke sisi yang baik, depan ke belakang.
-Otot-otot utama rahang :  masseter dan pterygoid.
-Bukaan mulut vs ukuran kepala : kecil.
-Gigi seri : luas, berbentuk seperti sekop dan mendatar.
-Gigi taring : pendek dan tumpul.
-Gigi geraham : mendatar dengan gigi taring menonjol ( nodular cusps ).
-Pengunyah : dibutuhkan proses pengunyahan lama.
-Air liur : enzim pencerna karbohidrat.
-Tipe lambung : ruang sederhana.
-Asam lambung : pH 4 hingga 5 dengan makanan dalam lambung.
-Kapasitas lambung : 21 % hingga 27 % volume total saluran pencernaan.
-Panjang usus halus : 10 hingga 11 kali panjang tubuh.
-Termostasis : berkeringat.
-Usus besar : panjang, kompleks, berkantong-kantong ; fermentasi mungkin terjadi.
-Hati : tidak dapat mendetoksifikasi vitamin A.
-Ginjal : air seni terkonsentrasi secara moderat.
-Kuku : kuku-kuku mendatar.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan, bahwa manusia lebih cocok dimasukan ke dalam kelompok herbivora, bukan omnivora yang selama ini sudah dilegalkan, bahkan dari generasi ke generasi.
Dengan dibuktikannya teori ini, otomatis dapat mengungkap mengapa zaman dahulu harapan hidup manusia lebih lama dibanding zaman peradaban babilon modern atau zaman komputer ini.
Misalnya saja kalau kita cermati : Adam berumur sampai 930 tahun.
Enos 905 tahun, Kenan 910 tahun, Mahalaleel 895 tahun, Yared 962 tahun, Henokh 365 tahun, Matusalah 969 tahun dan Lemekh 777 tahun.
Umur manusia panjang sampai ratusan tahun, makin lama umur manusia makin berkurang.
Berdasarkan definisi WHO, maka usia dibawah 65 tahun tergolong usia pertengahan ( Middle Age ) ; usia diantara 65 tahun sampai 74 tahun tergolong Junior old Age ; usia antara 75 tahun sampai dengan 90 tahun baru tergolong Formal Old Age ; dan antara 90 tahun sampai dengan 120 tahun digolongkan Longevity Old Age ( orang tua berumur panjang ).
Jadi rentang hidup manusia seharusnya, terpendek adalah 100 tahun dan terpanjang 175 tahun.
Usia normal rata-rata manusia seharusnya 120 tahun.
Akan tetapi sampai di zaman modern ini apa yang terjadi, umur semakin pendek dan ditambah dengan gaya hidup yang menyimpang dari apa yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Masa hidup manusia makin lama makin terbatas, hal ini karena manusia sudah lama pula menganut kebiasaan yang salah dan sudah turun temurun.
Terima kasih, Tuhan memberkati.

Minggu, 12 Mei 2013

Memahami Tekanan Darah Rendah ( Hipotensi ).

Orang yang menderita tekanan darah rendah ( hipotensi ) biasanya tidak seheboh kalau menderita tekanan darah tinggi.
Pasalnya penderita hipotensi tidak begitu memikirkan keadaan tubuhnya dan juga tidak memikirkan periksa ini dan periksa itu.
Karena penderita ini tidak menimbulkan gejala.
Kalaupun ada gejalanya seperti lemah, mudah lelah, gampang pingsan dan mudah pusing terutama dari posisi tidur ke posisi berdiri ( hipotensi ortostatik ).

Tekanan darah rendah dapat terjadi pada orang yang kurang makan, berbaring terlalu lama, mengalami gangguan saraf otonom ( seperti pada penderita diabetes melitus ) atau gangguan hormonal.
Pada prinsipnya tekanan darah rendah tidak memerlukan pengobatan, tetapi bila dirasa kurang nyaman kondisi tubuhnya segeralah berbaring.
Berbahagialah bila ada orang yang memiliki tekanan darah rendah, ketimbang memiliki tekanan darah tinggi.
Karena dari suatu hasil penelitian dikatakan bahwa pemilik tekanan darah rendah memiliki harapan hidup lebih tinggi dari pada mereka yang memiliki tekanan darah tinggi.
Walaupun relatif tidak berbahaya penderita tekanan darah rendah tetap diharuskan waspada.
Dengan bertambahnya usia, tekanan darah rendah cenderung menjadi temporer, yang disebut hipotensi ortostatik.
Contohnya ketika turun dari tempat tidur seoleh-olah rasanya mau pingsan, tiba-tiba merasa lemah, ruangan seakan berputar atau pandangan menjadi gelap.
Orang dikatakan menderita hipotensi, bila tekanan darahnya dibawah standar normal ( sistolik kurang dari 120 mmHg dan diastolik kurang dari 80 mmHg ) yang menurut WHO disebut juga sebagai kategori tekanan darah optimal atau penurunan tekanan sistolik dan diastolik sebanyak 20 mmHg atau lebih.
Pada usia lanjut gangguan otonom merupakan keadaan yang paling sering terjadi pada hipotensi.
Gangguan ini cukup berarti sehingga sering mengganggu kualitas hidup penderita lansia ( Brocklehurst and Allen, 1987 ).
Pusat pengendali saraf otonom adalah hipothalamus.
Ada beberapa hal yang dianggap sebagai penyebab seringnya gangguan saraf otonom pada usia lanjut :
- Bila usia semakin bertambah, akan timbul beberapa perubahan pada " neurotransmisi " pada ganglion otonom, yaitu berupa penurunan pembentukan asetil-kolin yang disebabkan terutama oleh penurunan enzim utama, yaitu kolin-asetilase.
Keadaan tersebut diatas cenderung untuk menurunkan fungsi otonom.
Kejadian seperti ini sering tertutupi oleh efek lain, yaitu lebih sensitifnya reseptor kolin di pasca sinaps terhadap asetil-kolin sebagai akibat proses menua.

- Terjadi perubahan morfologis sehingga mengakibatkan pengurangan jumlah reseptor kolin.

Disamping penyebab fisiologik, bisa juga akibat dari perubahan patologik misalnya akibat penyakit pembuluh darah otak, disini seringkali menyebabkan gangguan fungsi otonom.

Mekanisme mempertahankan tekanan darah merupakan suatu refleks, dimana serabut aferen berasal dari baro-reseptor di sinus karotikus.
Serabut ini berjalan menuju ke pusat vasomotor di batang otak melalui saraf glosofaringeus.
Serabut eferen berjalan melalui medulla spinalis dan serabut preganglionik ke rantai simpatis, kemudian melalui serabut post ganglionik ke pembuluh darah ( Brocklehurst and Allen, 1987 ).

Pada kasus hipotensi ortostatik, perubahan dari posisi baring ke posisi tegak terjadi perpindahan hampir 700 cc darah meninggalkan rongga dada menuju ke pool cadangan vena di daerah perut dan kaki.
Tekanan di atrium kanan turun ke / lebih rendah dari tekanan dalam rongga dada, menyebabkan venous return ke jantung kanan menurun.
Isi sekuncup menurun, dengan akibat penurunan tekanan darah ( Van der Cammen, 1991 ).

Hipotensi pada penderita muda, seringkali disertai gejala light-headed ( rasa melayang ) / nggliyeng ) ringan dalam waktu yang tidak terlalu lama, oleh karena mekanisme pengaturan vasomotor dengan segera mengadakan kompensasi.

Pada penderita lansia, mekanisme kompensasi tersebut sering tidak efektif, sehingga tetap terjadi hipotensi dengan segala gejalanya selama beberapa jam.
Bahkan seringkali penderita mengalami penurunan kesadaran, yang baru membaik bila penderita diletakkan pada posisi berbaring lagi.
Hipotensi postural ini juga merupakan salah satu penyebab terjadinya jatuh pada usia lanjut yang seringkali mendadak bangun dari tempat tidur di malam hari karena ingin buang air kecil ke kamar mandi.
Gejala lain dari gangguan otonom yang sering menyertai hipotensi, diantaranya : Keluar keringat dingin, perubahan besar pupil, gangguan gastrointestinal ( pencernaan ), disfungsi kandung kemih dan poliuria nokturnal ( sering kencing waktu malam ) ( Van der Cammen, 1991 ).

Proses terjadinya hipotensi pada setiap orang berbeda -beda, tetapi biasanya mencakup :
-Penurunan fungsi otonom yang berhubungan dengan usia dan mungkin disertai hilangnya elastisitas dinding pembuluh darah.

- Gangguan dari aktivitas baro-refleks akibat tirah baring yang terlalu lama.
Keadaan ini sering terdapat pada penderita lansia yang tekanan darahnya dipertahankan dengan vasokonstriksi yang hampir maksimal ( misalnya setelah terkena infark miokard )
Tak terdapat lagi cadangan otot jantung,sehingga pada saat bangun tidur tekanan darah tidak bisa dipertahankan lagi.

- Hipovolemia dan / atau hiponatremia sebagai akibat berbagai keadaan, antara lain pemberian diuretika.

- Berbagai obat yang bersifat hipotensif, antara lain tiasid dan diuretika lain, fenotiasin, antidepresan trisiklik, butirofenon, levodopa, dan bromokriptin.

- Akibat berbagai penyakit yang mengganggu saraf otonom, seperti Parkinsonisme, sindrom shy-drager, ensefalopati wernicke, lesi hipotalamus, penyakit serebrovaskular, tabes dorsalis, paraplegia, diabetes melitus, keganasan, defisiensi vitamin B kompleks, alkoholisme kronik, sindroma guillain-barre dan amiloidosis.

Penegakan diagnosis biasanya berdasarkan ditemukannya penurunan tekanan darah dan beberapa tes untuk mengetahui fungsi otonom terutama pada penderita lansia.
Sekali lagi pada prinsipnya tekanan darah rendah tidak memerlukan pengobatan.
Bila merasakan ada yang kurang nyaman cukup dengan berbaring.
Sangat berlawanan dengan penderita hipertensi ( tekanan darah tinggi ), penderita tekanan darah rendah justru dianjurkan menambah konsumsi garam dapur, termasuk makanan asin bergaram.
Disarankan total asupan garam sehari diperkirakan setara dengan 10 - 20 gram ( 1 - 2 sendok makan rata ).
Hati-hati pemberian pada orang usia lanjut, dan sebaiknya sebelum pemberian garam di konsultasikan atau diperiksa lebih dulu oleh dokter keluarga anda.
Terima kasih, Tuhan memberkati